logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Denmark Menyesal

  • Soal Kartun Nabi Muhammad

JAKARTA - Pemerintah Denmark menyatakan penyesalannya, tapi tidak secara eksplisit meminta maaf atas penyelenggaraan lomba kartun Nabi Muhammad oleh Partai Rakyat Denmark. Mereka menegaskan, ulah anak-anak muda Denmark tersebut tidak mencerminkan sikap resmi Kopenhagen.

Pernyataan penyesalan itu disampaikan Menlu Denmark, Per Stig Moeller, dalam pembicaraan telepon dengan Menlu RI, Nur Hassan Wirajuda.

Hassan yang dicegat usai menghadiri pembukaan Pameran Produk Ekspor (PPE) Ke-21 di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Rabu (11/10) mengungkapkan dalam pembicaraan, Moeller menyatakan penyesalannya atas kartun Nabi Muhammad untuk kali kedua.

''Beliau menerangkan bahwa sebenarnya acara sayembara kartun itu dilakukan oleh anak-anak muda Denmark pada acara perkemahan. Acara itu sebenarnya berlangsung tertutup, tapi kemudian ada rekaman yang dibocorkan kepada media,'' ujarnya.

Dengan kata lain, lanjut Hassan, sejak semula tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang serius dan tidak mencerminkan sikap Denmark terhadap Islam. Tetapi, baik dimaksudkan atau tidak, begitu kenyataannya indikasi kejadian dari tahun ke tahun memperlihatkan kondisi demikian.

Di samping kasus pemuatan kartun Nabi, Hassan menunjuk ceramah Paus Benedictus baru-baru ini yang menimbulkan berbagai reaksi dari umat Islam sedunia. Lalu opera bernada melecehkan Nabi Muhammad di Berlin, yang untungnya segera dihentikan Pemerintah Jerman. Terakhir, terulangnya lomba kartun Nabi di Denmark.

''Rangkaian itu tidak saja melukai perasaan umat Islam dunia, tapi lebih jauh lagi, tidak mendukung upaya-upaya dialog antara kebudayaan dan umat beragama yang dilaksanakan berbagai negara, termasuk Indonesia,'' kata Hassan.

Menlu menyatakan, dalam percakapan telepon pihaknya telah menyampaikan kekecewaan dan keprihatinan Pemerintah Indonesia terhadap tindakan dari Partai Rakyat Denmark yang menyelenggarakan sayembara kartun Nabi itu. ''Padahal seharusnya Denmark bisa mengambil pelajaran dari kasus pemuatan kartun Nabi yang terjadi pada tahun lalu,'' katanya.

Kepada koleganya, Menlu memaparkan sejumlah reaksi yang terjadi di Indonesia atas sayembara kartun tersebut.

''Saya sampaikan agar reaksi keras dan keprihatinan itu tidak dikesampingkan. Karena tidak kurang NU dan Muhammadiyah yang selam ini sangat aktif memajukan dialog antaragama dan keudayaan justru memberikan reaksi,'' tandasnya.

Atas hal itu, Hassan lalu meminta agar Pemerintah Denmark berbicara dengan kelompok-kelompok Islam yang ada di Indonesia, dan Deplu bersedia menjadi fasilitatornya.

Belum Ditarik

Sementara itu Juru Bicara Deplu RI, Desra Percaya mengatakan, pemerintah belum berencana untuk menarik Duta Besar Indonesia di Denmark sebagai bentuk protes terhadap perlombaan pembuatan kartun Nabi Muhammad oleh organisasi pemuda di Denmark tersebut.

''Enggak, belum ada rencana ke arah itu, namun kita sudah menyampaikan sikap kepada Pemerintah Denmark,'' kata dia saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon di Jakarta.

Menurutnya, Pemerintah Indonesia melayangkan nota protes terhadap Pemerintah Denmark. Selain itu, Menteri Luar Negeri RI, Hassan Wirajuda secara langsung juga sudah menyampaikan rasa kekecewaanya.

''Kita juga meminta agar kejadian itu yang terakhir, jangan sampai terulang lagi,'' ujar Desra.

Dia menjelaskan, untuk menyampaikan nota protes tersebut Departemen Luar Negeri pada Selasa lalu telah memanggil Duta Besar Denmark untuk Indonesia. Pada kesempatan itu Deplu menyarankan agar Dubes Denmark di Jakarta mengefektifkan komunikasi dengan ormas-ormas Islam, dan pihaknya bersedia untuk menfasilitas pertemuan tersebut.

Harus Tegas

Amir Majelis Mujahidin Indonesia ( MMI ), ustad Abu Bakar Ba'asyir mendesak pemerintah RI bersikap tegas terhadap Pemerintah Denmark yang tidak mampu membendung pelecehan terhadap Nabi kali kedua tersebut.

''Kalau perlu pemerintah harus memutuskan hubungan diplomatik dengan Denmark, sebab hal itu sudah bukan yang pertama setelah pemuatan karikatur beberapa waktu lalu,'' ujar pengasuh Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, itu usai menjadi pembicara bedah buku ''Tragedi dan Ironi Blok Cepu, Nasionalisme yang Tergadai '', Rabu petang ( 11/ 10) di Solo.

Ba'asyir mengatakan, apa yang terjadi di Denmark sungguh tidak bisa diterima umat Islam di mana pun. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Kejadian itu hanya akan menyulut protes dunia Islam. Apa yang terjadi di Denmark juga akan memunculkan kemarahan umat Islam, setelah beberapa peristiwa yang sama terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Sikap tegas pemerintah tidak hanya ditunjukkan dengan cara protes diplomatik. Sebab, realitasnya bangsa Indonesia mayoritas adalah umat Islam, termasuk presidennnya. (A20,H27,H34-46,49a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA