| Kamis, 12 Oktober 2006 | NASIONAL |
Korea Utara Siap Perang
TOKYO - Korea Utara menyatakan siap berperang dengan negara-negara yang menekannya, namun sekaligus juga mengungkapkan kesediaan untuk dialog. Pyongyang juga siap melakukan uji coba bom nuklir lagi, namun tes nuklir kedua itu bergantung pada kebijakan Amerika Serikat. Korut menganggap setiap tekanan dari AS sebagai tantangan untuk mendeklarasikan perang. Kesiapan tes nuklir yang kedua itu diungkapkan oleh Kim Yong-nam, pemimpin nomor dua Korea Utara, saat dia bertemu dengan delegasi dari kantor berita Jepang Kyodo di Pyongyang, Rabu kemarin. ''Persoalan tes nuklir berikutnya sangat terkait dengan kebijakan Amerika terhadap negara kami,'' kata Kim, seperti dikutip Kyodo. ''Jika AS tetap bersikap bermusuhan dan terus menekan kami dengan berbagai cara, kami tidak punya pilihan lain kecuali melakukan langkah tersebut.'' Kantor berita Korut KCNA melaporkan, Pyongyang menganggap setiap tekanan dari Washington sebagai tantangan untuk mendeklarasikan perang. ''Jika AS meningkatkan tekanan terhadap Korut, kami akan terus melakukan aksi balasan dan menganggapnya sebagai pernyataan perang,'' kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut. Juru bicara Korut itu menambahkan bahwa Pyongyang siap berdialog tetapi sekaligus juga siap berkonfrontasi. Semula ada kekhawatiran Korut melakukan tes nuklir yang kedua itu kemarin. NHK melaporkan, Tokyo kemarin memantau setiap laporan mengenai kemungkinan ledakan di Korut. Namun kecemasan Tokyo itu tidak terbukti. Remehkan Sanksi Kim juga menegaskan kembali sikap Korut bahwa negara itu bersedia kembali melakukan perundingan enam negara mengenai program nuklirnya, asalkan Washington mengakhiri sanksi finansial terhadap Pyongyang. Korut Senin lalu melakukan uji coba bom nuklir yang pertama, meskipun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mendesak Korut untuk membatalkannya. Pyongyang beralasan, ancaman perang nuklir dan sanksi AS telah memaksanya untuk melakukan tes bom nuklir itu. Kim juga menganggap remeh ancaman sanksi ekonomi. ''Meskipun sanksi-sanksi ekonomi bertambah, perekonomian kami secara umum tetap meningkat,'' kata dia. Saat ditanya apakah Korut akan kembali melakukan perundingan enam negara mengenai program nuklirnya, dia menjawab: ''Hal itu juga bergantung pada sikap Amerika. Kami tidak mau berunding apabila berbagai sanksi, termasuk embargo finansial, tetap diberlakukan terhadap kami.'' Perundingan enam negara mengenai program nuklir Korut mengalami kebuntuan sejak tahun lalu. Perundingan itu melibatkan AS, China, Jepang, Kors el, Korut, dan Rusia. Washington menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan yang dicurigai membantu Korut melakukan aktivitas ilegal, seperti pemalsuan uang. Para pengamat mengatakan, embargo AS membuat para pejabat Korut kesulitan membuka rekening di bank-bank luar negeri. Dilema China Uji coba nuklir Korea Utara menjadi dilema bagi China. Beijing merupakan satu dari segelintir sekutu Korut yang masih tersisa, dan menjadi pemasok bantuan finansial dan energi terbesar bagi Pyongyang. Beijing mengecam tes nuklir itu dan benar-benar menentang aksi Korea Utara. Uji coba itu telah merusak hubungan kedua negara. Kemarahan itu diperburuk oleh rasa malu, karena Beijing berulangkali mendesak Pyongyang membatalkan rencananya untuk melakukan tes nuklir. Namun meski ada tekanan internasional, Beijing tidak menghentikan bantuan ke Korut. China memilih bertindak melalui institusi-institusi multinasional. China berulangkali mendesak Pyongyang kembali ke perundingan perlucutan senjata enam negara, yang melibatkan dua Korea, Jepang, China, Rusia, dan AS. Namun negosiasi-negosiasi itu macet tahun lalu. Dengan tes nuklir tersebut, berarti perundingan itu tidak bisa segera dilanjutkan. Sejauh ini, para pakar Amerika dan Jepang belum berani mengonfirmasikan bahwa getaran seismik Senin lalu itu sebagai akibat dari tes nuklir. Dubes Amerika Serikat untuk Jepang Thomas Schieffer bahkan mengatakan Korut mungkin tidak pernah melakukan tes nuklir. Namun, Rusia yakin kalau tes nuklir benar-benar telah dilakukan. Menurut pakar Rusia, diperkirakan bom nuklir berkekuatan 5.000 sampai 15.000 kiloton untuk menimbulkan getaran seismik 4,2 skala Richter.(rtr-ben-niek-25) | ||||