logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Detik-detik Pertemuan Prabowo-Habibie

KONTROVERSI itu bermula sehari setelah Jenderal Besar Haji Muhammad Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden RI. Pada Jumat, 22 Mei 1998, siang hari, setelah pagi harinya menerima telepon dari Jenderal Wiranto untuk mengusulkan Asisten Operasi Pangab Letjen Johny Lumintang menjadi pangkostrad, Habibie menerima mantan Pangkostrad Letjen TNI Prabowo Subianto di ruang tamu Wisma Negara.

Setelah dipersilakan staf khusus kepresidenan, Mayjen Sintong Panjaitan, Prabowo pun menemui Habibie yang sudah menunggunya beberapa waktu.

Sintong hanya mengantarkan sampai di pintu masuk dan selanjutnya pertemuan empat mata pun terjadi. ''Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya (Presiden Soeharto-Red). Anda memecat saya sebagai pangkostrad,'' tegas Prabowo.

Habibie menjawab, ''Anda tidak dipecat tetapi jabatan Anda diganti.''

''Mengapa?'' tanya Prabowo.

Habibie pun menyampaikan, dia mendapat laporan dari Pangab tentang gerakan pasukan Kostrad menuju ke Jakarta, Kuningan, dan Istana Merdeka.

''Saya bermaksud untuk mengamankan Presiden,'' dalih Prabowo.

Habibie pun menekankan, pengamanan terhadap dirinya bukan tugas Kostrad. ''Itu tugas Pangab dan bukan Anda.''

''Presiden apa Anda? Anda naif,'' nada suara Prabowo mulai meninggi.

''Masa bodoh, saya presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang sangat memprihatinkan,'' ujar Habibie.

''Atas nama ayah saya Prof Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya Soeharto, saya minta Anda memberikan saya waktu tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad,'' pinta Prabowo. Dan, Habibie menolaknya.

Selanjutnya, Sintong Panjaitan masuk ke ruangan dan mengatakan, di luar sudah banyak tamu yang sudah menanti. Tidak banyak yang tahu ada percakapan itu kecuali Habibie dan Prabowo Subianto sendiri hingga delapan tahun kemudian, tepatnya Kamis, 28 September 2006 lalu.

Mantan Pangkotrad Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto yang kini terlihat gemuk dan tembem menyatakan keheranannya atas apa yang ditulis Habibie di halaman 102 buku Detik-detik yang Menentukan yang sehari setelah peluncurannya langsung menjadi kontroversi. Dia mengaku tidak dimintai konfimasi soal ini sebelumnya oleh Habibie.

Gerakan Terselubung

Dan kini, Prabowo dituding melakukan gerakan Kostrad terselubung untuk mengamankan Presiden tanpa sepengetahuan Pangab Jenderal Wiranto kala itu. Tudingan itu dinamakannya sebagai gerakan kudeta.

''Itu tidak benar. Dan, kalau saya diam saja nanti dianggap membenarkan. Karenanya saya harus meluruskannya. Yang mengendalikan pasukan Kostrad saat itu adalah Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsuddin. Silakan tanya ke dia karena dia masih hidup,'' ungkapnya.

Prabowo berdalih, dalam pertemuan tersebut tidak ada kata-kata seperti yang ditulis di halaman 102 itu.

''Saya tidak tahu dapat darimana kata-kata itu. Padahal, pertemuan itu tidak seperti ini,'' ujarnya.

Prabowo Mempertanyakan

Dalam pertemuan itu, Prabowo hanya mempertanyakan mengapa pergantian pangkostrad dilakukan tidak dengan semestinya melalui sebuah upacara formal di depan pasukan.

''Pergantian itu harus ada memorandum serah terima jabatan dan harus ada verifikasi serta dilakukan di depan pasukan. Ini untuk menghindari adanya dugaan-dugaan yang tidak benar.''

Kekesalan Prabowo pun berbaur dengan kekecewaannya. Namun, kekesalan itu tidak sampai tumpah menjadi bentuk amarah karena Prabowo masih menganggap Habibie sebagai tokoh yang sangat dia hormati hingga kini.

Kendati demikian, pada 2004, Prabowo bertemu untuk terakhir kalinya dengan Habibie di Hamburg, pada sebuah restoran saat santap siang di rumahnya. Seusai makan siang itulah, Prabowo berkesempatan berbincang dengan Habibie hingga larut malam.

''Akan tetapi anehnya, justru Habibielah yang terlihat emosional, dan beliau justru menantang saya untuk membahas dahulu semua permasalahan yang berkaitan dengan pencopotan itu. Padahal, saya sebelumnya sudah menganggap masalah itu clear dan tidak ada kudeta. Nah, di situlah saya mengetahui, pencopotan saya secara tidak terhormat itu karena ada permintaan dari superpower,'' paparnya.

Prabowo saat itu kaget dan tidak bisa menjawab. Dia pun mengaku tidak meminta konfirmasi kepada mertuanya itu. ''Yang jelas, saat itu saya ha-nya menerimanya saja dan tidak ada pertanyaan lagi,'' ucapnya.

Kontrovesi pun makin berlanjut dan kian meruncing. Di kubu Prabowo ada mantan Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsuddin, mantan KSAD Jenderal TNI Subagyo HS, mantan Kepala Staf Operasi Kostrad Mayjen Kivlan Zen yang sudah ramai membantah bahwa pasukan itu tidak dimaksudkan untuk kudeta.

Bayang-bayang Kudeta

Sebaliknya, Habibie tetap meyakini dan mencurigai ada konsentrasi pasukan Kostrad di sekitar Istana yang dilakukan tanpa sepengetahuan Pangab saat itu. Bayang-bayang kudeta jelas menyergap Habibie dan keluarga.

Dia tidak ingin nasib Tsar Romanov dari Rusia itu juga menimpa dirinya. Karena itu, atas masukan dari Pangab, semua anggota keluarga besar Habibie diamankan di Wisma Negara yang saat itu situasi keamanannya belum terkendali.

Bayang-bayang kudeta Tsar Romanov yang dialami Habibie dibantah sepenuhnya oleh Kivlan Zen yang menilai Habibie sudah mengalami halusinasi akut. Padahal, faktanya tidak demikian.

''Memang ada pengerahan 1.000 pasukan Kostrad di sekitar Istana. Namun, itu untuk melakukan pengamanan terhadap obyek vital. Sementara itu, di dalam Istana pengamanan terhadap Presiden dilakukan Paspampres.''

Lalu yang jadi pertanyaan: apakah Habibie telah memanipulasi publik soal perseteruannya dengan Prabowo dalam buku itu? Dan, rasanya sulit untuk memercayai hal itu karena Habibie tentu tidak akan melakukan seperti yang dituduhkan itu. Sebab, dia menyandang predikat sebagai seorang ilmuwan dan cendekiawan yang selalu mempertanyakan kebenaran.

Dalam menyusun bukunya, Habibie memulainya dengan sebuah catatan kecil harian yang selalu dia buat di sela-sela waktu.

Catatan yang entah sumbernya diperoleh darimana itu tentu saja harus dihargai karena menjadi bagian dari dokumen sejarah meskipun bukan sebuah fakta sejarah.

Patut dipertanyakan pula darimana Habibie bisa menuliskan adanya dialog dengan Prabowo di ruangannya secara lengkap, padahal sumbernya sendiri - Prabowo Subianto - sudah melakukan bantahan. Sementara itu, Habibie juga berdalih, itu ditulis secara apa adanya. (Ali Imron Hamid-48j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA