SUARA MERDEKA
 
INDEKS BINCANG BINCANG Minggu, 01 Oktober 2006

TAK banyak yang memahami peran puasa dalam kehidupan yang kian konsumtif. Sangat sedikit pula yang mengerti betapa puasa bisa menjadi pembangkit kehidupan. Hanya, sayang puasa kini seakan-akan menjadi sesuatu yang rutin. Lalu apa sebenarnya makna puasa? Apa peran puasa bagi bangsa yang terpuruk? Salah satu intelektual keagamaan bisa memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu adalah Prof Dr Komaruddin Hidayat.

BERPUASA pada masa kanak-kanak bagi Komaruddin Hidayat mempunyai kenangan sangat berarti. Secara intensif Komaruddin kecil diajak orang tuanya ke masjid pada bulan suci. Di masjid terdapat sekumpulan teman serta berbagai kegiatan yang sangat menyenangkan. "Saya dan teman-teman akhirnya menjadikan masjid sebagai tempat merencanakan apa saja yang bisa dilakukan untuk mengisi puasa. Saat itu saya merasa masjid kampung seperti memiliki magnet,"

KULANUWUN. Dalam bulan Ramadan tahun ini, lebih dahsyat daripada tahun-tahun yang silam, saya memperoleh kiriman banyak sekali SMS yang puitis. Kalimat dan rangkaian kata-katanya indah-indah, menyentuh hati, menggetarkan senar-senar emosi, menggugah rasa. Tidak hanya yang berbahasa Indonesia, ada pula yang berbahasa Inggris, dan banyak yang berbahasa Jawa.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA