logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 01 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Menanti Dana Rehab yang Tak Pasti

Punya Tabungan, tetapi Eman-eman

DI telinga korban gempa bumi di Klaten dan DI Yogyakarta pada 27 Mei, pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla tentang bantuan rumah masih terngiang-ngiang sampai sekarang. Walau tak ada kepastian kapan dana tersebut akan turun, mereka masih berharap janji segera terwujud.

Mereka masih ingat betul betapa mantap Jusuf Kalla mengatakan bahwa rumah roboh akan mendapat Rp 30 juta, rusak parah Rp 20 juta, dan rusak ringan Rp 10 juta. Pernyataan itu dilansir hampir semua media cetak dan elektronik. Bahkan janji itu telah membuat orang yang mempunyai tabungan, eman-eman memakainya untuk pembangunan kembali rumah yang rusak. Mereka membiarkan rumahnya itu rusak karena menunggu dana bantuan.

''Kalau sudah dibangun pakai uang sendiri, nanti tidak dapat bantuan,'' tutur Yanto, warga Prambanan. Ketakutan seperti itu dialami puluhan bahkan mungkin ratusan korban gempa. Mereka menunda pembangunan rumah.

Namun kini, sebagian orang mulai meragukan janji itu. Pengalaman pembagian jaminan hidup Rp 90.000 per jiwa yang seret, membuat korban gempa bertanya-tanya. Dana yang demikian kecil saja sulit turun, apalagi yang jumlahnya besar.

Mereka juga mulai mempertanyakan apakah pemerintah punya dana sebesar itu. Mengapa dana yang sudah diserahkan Presiden kepada Gubernur pada 3 Juli 2006, sampai sekarang belum sampai ke tangan mereka.

Padahal saat ini, sudah banyak rumah sederhana sampai rumah permanen dibangun oleh LSM, berbagai organisasi, dan perusahaan swasta. Mereka butuh cepat karena berpacu dengan musim hujan.

''Sebentar lagi musim hujan, kami belum punya tempat berteduh. Tenda yang kami jadikan rumah sudah rusak. Kami hanya bisa berdoa semoga jangan hujan dulu. Kasihan korban gempa seperti saya,'' tutur Dalmi (45) warga Jimbung, Kecamatan Kalikotes.

Dia masih tinggal di tenda yang didirikan di teras rumahnya. Dia juga tak terlalu memikirkan bantuan rehab rumah dari pemerintah. Bagi dia yang terpenting adalah bekerja untuk menyekolahkan empat anaknya.

''Kalau mau buat rumah sekarang saya tidak mampu. Uangnya lebih baik untuk anak sekolah. Namun kalau ada bantuan, saya senang sekali. Namun apa benar jadi ada bantuan to?''

Kecemburuan

Anggota DPRD Klaten H Agung Suryantoro SE menerima keluhan korban gempa saat serap aspirasi masa reses, 22-27 September lalu. Banyak perkampungan yang masih rata dengan tanah. Pertanyaan inti para korban gempa itu adalah kapan dana akan cair dan berapa jumlahnya.

''Karena belum ada kejelasan, kami jadi sulit menjawabnya. Yang penting bagi mereka, kepastiannya. Efek pernyataan Jusuf Kalla membuat warga kurang produktif, karena menunggu bantuan yang belum jelas.''

Saat ini, sudah banyak lokasi dibangun oleh LSM. Dia menyayangkan kurangnya koordinasi antara LSM dan pemerintah. Sebab, pembangunan yang hanya dilakukan di beberapa lokasi itu akan menimbulkan kecemburuan. (Merawati Sunantri-60m)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA