logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 01 Oktober 2006 NASIONAL
Line

PASANAN

Kedudukan Puasa

  • Oleh: Abdul Djamil

SM/dok

DALAM sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, Nabi pernah bersabda, "Islam dibangun atas lima hal." Pertama, kesaksian tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.

Kedua, mendirikan shalat. Ketiga, berpuasa pada bulan Ramadan. Keempat membayar zakat, dan kelima melaksanakan haji bagi yang mampu. Ini memperlihatkan artikulasi puasa sebagai ibadah yang wajib ditunaikan.

Nah, dalam hukum Islam, puasa menduduki posisi sentral. Alquran dengan tegas menyatakan tentang kewajiban orang beriman untuk berpuasa agar mereka menjadi orang yang bertakwa.

Dalam kenyataan sehari-hari, sebagian orang masih menganggapnya sebagai pelengkap dan kepatutan sosial saja. Mereka pun merasa tak berdosa saat meninggalkannya.

Ada yang melaksanakan puasa tutup kendang, tepinya rapat dan tengahnya bolong alias puasa pada awal bulan dan puasa lagi menjelang Idul Fitri.

Ada lagi puasa sapi, kalau bersama orang banyak terlihat puasa, tetapi kalau sendirian makan dan sesudahnya bibir diusapi agar terlihat kering tak ada sisa makanan.

Ada juga puasa mardud (ning njaba pasa, ning kamar udud).

Dalam konteks sosial, puasa memiliki kedudukan sebagai perekat masyarakat ketika terjadi peningkatan kepedulian terhadap sesama melalui berbagai tindakan charity (kedermawanan), seperti takjil dan jaburan, membayar zakat, infak, serta sedekah.

Juga terjadi penguatan ikatan persaudaraan yang diistilahkan dengan silaturahmi melalui kegiatan keagamaan bersama. Ada kuliah subuh yang mempertemukan mereka dalam kajian agama, mengaji tabarrukan puasa yang dikenal dengan istilah posonan dalam dunia pesantren atau sekadar kumpul-kumpul menjelang berbuka yang dalam bahasa Semarangan diistilahkan ngenteni dhul.

Jika ada seseorang yang sedang marah-marah, lingkungan akan menegurnya "jangan marah ini puasa." Peminta-minta di jalanan bertambah banyak karena suasana batin orang sedang giat-giatnya memburu pahala dengan aneka kebajikan.

Mereka berada dalam kerangka pemikiran akan keistemewaan Ramadan di mata agama. Saat ini, Tuhan menaburkan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.

Puasa juga memiliki kedudukan yang signifikan dalam kehidupan ekonomi. Sebab transaksi bahan konsumtif meningkat tajam, atas nama Ramadan dan persiapan untuk Lebaran.

Baju baru memang tidak wajib dalam rangka menyongsong Lebaran. Namun Lebaran tanpa baju baru, ibarat malam tak berbintang. Biarlah para ustad dan kiai bisa menahan diri pada saat Lebaran tak ganti baju baru, tetapi tetap saja kebanyakan orang mempunyai kaidah sosial bahwa Lebaran berarti baju, sandal baru, dan kue di meja yang dibagi secara gratis kepada semua tamu.

Syahwat makan yang meningkat pada saat berbuka, secara otomatis berpotensi meningkatan transaksi bahan makanan. Lebih dari itu, ibu-ibu tak bisa berhemat dalam belanja selama Ramadan, meski hanya menyediakan dua kali makan (berbuka dan sahur).

Secara moral, puasa punya kedudukan sebagai sebuah jeda kemanusiaan ketika anjuran berbuat baik meningkat secara drastis. Tiba-tiba banyak orang yang sekonyong-konyong menjadi baik selama Ramadan. Para penghuni PSK berlibur untuk menghormati bulan suci ini, bahkan sebagian lagi mengikuti pengajian.

Allah Maha Pengampun atas segala dosa, pintu taubat masih terbuka lebar.Wallahu aílam bissawab.

- Prof Dr Abdul Djamil MA, Rektor IAIN Walisongo


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA