| Minggu, 01 Oktober 2006 | NASIONAL |
Rumah Bos PT Raja Besi Dirampok Penjahat BerpistolSEMARANG - Sebuah rumah mewah milik bos PT Raja Besi, Alexander Fonk Setiawan (50), di Jalan Vila Aster II Blok E/14, Perumahan Vila Aster Banyumanik, Semarang, kemarin siang, disatroni lima perampok. Para penjahat itu menyikat uang tunai Rp 3 juta, hp Nokia 3230, play station, serta perhiasan senilai Rp 10 juta. Peristiwa itu merupakan perampokan pertama di Semarang pada bulan Ramadan ini. Diduga perampok memasuki rumah setelah mencungkil pintu depan. Anak Setiawan, Micella Dewi Setiawan (16), ketakutan dan mengunci diri di kamar. Karena itulah dia tak sampai dicederai. Micella menuturkan peristiwa itu terjadi pukul 14.15. Saat itu dia bermain internet di ruang tengah. Sang ayah berada di luar negeri, sedangkan ibu dan adiknya, Imawati (40) dan Bela (10), berwisata ke Kendal. Saat itu dia mendengar suara batu dilemparkan beberapa kali ke rumah. Disusul suara langkah orang di halaman rumah dan dobrakan di pintu. Dia ketakutan dan memasuki kamar. Di kamar dia menelepon sang ibu dengan hp, memberitahukan di rumah ada penjahat. "Saya mendengar kawanan perampok itu ribut mencari perhiasan dan uang," katanya. Mereka mengacak-acak seluruh isi rumah. Kamar Setiawan tak terkunci, sehingga perampok leluasa mengambil perhiasan, uang, dan hp Nokia 3230. Juga sebuah play station dari ruang tengah. Perampok sudah menjebol kamar Bela. Namun urung membawa barang dari kamar itu karena dua perampok di mobil memanggil-manggil. Ketiga perampok di dalam rumah segera keluar. Mereka khawatir aksi itu diketahui seorang satpam perumahan yang sedang berpatroli. Akan Ditembak Satpam itu, yang belakangan diketahui bernama Sarjito, melihat mobil yang ditumpangi perampok adalah Kijang Kapsul hijau tua AD-4683-xx. Dia curiga karena dua penumpang di dalam mobil itu berteriak-teriak ke arah rumah Setiawan. Tak lama kemudian dia melihat tiga lelaki tak dikenal bergegas memasuki mobil. Sepatu yang diduga milik seorang perampok tertinggal di rumah itu. Sarjito tak berani bertindak karena seorang penjahat mengancam hendak menembak. "Waktu saya datang, orang di dalam mobil berteriak, 'Hei, ada satpam! Cepat keluar!' Lalu yang lain bilang, 'Tembak saja.' sambil mengambil sesuatu yang mirip pistol dari pinggang," tutur Sarjito. Dia menjauh dan meminta bantuan temannya, Yusuf, untuk bersama-sama mengejar mobil itu. Mereka naik sepeda motor untuk mengejar. Ketika mereka mendekat, seorang perampok menodongkan pistol. Yusuf dan Sarjito pun tak berani mengejar lagi. Kedua satpam itu lalu melapor ke Polres Semarang Selatan. Polisi yang memeriksa lokasi kejadian menemukan empat batu dan sepatu kulit hitam di rumah itu serta sidik jari di laci lemari. Polisi menduga peristiwa itu bukan perampokan, melainkan pencurian. Kapolres Semarang Selatan AKBP Hafid Yuhas didampingi Kepala Satuan Reserse Kriminal AKP Garjita menyatakan batu-batu itu dilemparkan untuk memastikan apakah rumah tersebut berpenghuni atau tidak. Begitu tak ada reaksi dari dalam rumah, penjahat mengira rumah kosong. Mereka pun masuk dan menguras harta pemilik rumah. "Kami akan mengidentifikasi kelompok penjahat dengan modus semacam itu," katanya. Dia menduga kawanan itu menggunakan mobil dengan nomor palsu. Sebab, nomor polisi AD-46... tak diketahui. Karena itu polisi akan menyelidiki secara intensif. Polisi juga akan mempelajari modus kawanan penjahat itu dan mengaitkannya dengan berbagai aksi kejahatan serupa beberapa waktu sebelumnya. Dia menyatakan tak yakin perampok itu membawa pistol asli. Kini, polisi masih menghimpun keterangan para saksi lebih detail agar bisa mengungkap kasus itu. "Informasi sekecil apa pun kami pelajari untuk mengungkap kasus ini," katanya. (G5-53) |