logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 01 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Simpan 30 Persen Catatan Harian

"Ada 30 persen yang belum saya ungkapkan. Jika ditulis sekarang bisa menimbulkan gejolak." JAKARTA-Mantan Presiden BJ Habibie rupanya masih menyimpan kejutan. Buku Detik-detik yang Menentukan hasil karyanya, ternyata hanya 70 persen dari keseluruhan catatan harian yang dibuatnya.

"Ada 30 persen yang belum saya ungkapkan. Karena jika ditulis sekarang bisa menimbulkan gejolak," kata Habibie di kantor The Habibie Center, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (30/9).

Habibie berjanji, sisa 30 persen dari catatan hariannya akan ditulis pada saat yang tepat. Hingga kini, catatan itu masih disimpan dengan rapi.

Tidak seorang pun boleh mengetahui isinya termasuk istrinya tercinta dan seluruh keluarganya. "Catatan saya masih ada karena semua orang tahu kalau saya selalu membawa catatan setiap kerja," ujar dia.

Kapan Habibie akan menulis sisa catatannya itu? "Ini tidak boleh dibuka. Nanti pada tahun 2025," ujarnya.

Ketika didesak apa saja isi 30 persen catatan itu, Habibie enggan memerinci. "Tunggu saja nanti," elaknya.

Apakah soal politik, ekonomi, atau kudeta lagi? Dengan senyumnya yang khas Habibie hanya melambaikan tangannya menolak menjawab.

Meski begitu Habibie mengimbau kepada semua pihak untuk tidak mendendam terkait peristiwa yang terjadi atau isi buku yang ditulisnya.

Menurutnya, yang paling penting adalah menjadikan semua peristiwa yang telah terjadi sebagai pelajaran untuk kebaikan.

"Kita jangan dendam, karena yang kita cari kebaikan untuk anak-anak cucu kita. Semoga generasi mendatang lebih baik dari sebelumnya," katanya.

Habibie juga berencana akan mengadakan tur ke beberapa kota di Indonesia. Selain menggelar bedah buku, dia juga akan membubuhkan tanda tangannya pada buku karyanya yang telah dibeli penggemar.

"Melihat respons masyarakat yang cukup besar, setelah Lebaran kami merencanakan untuk menggelar bedah buku sekaligus tanda tangan Pak Habibie di sejumlah kota," kata koordinator penerbit Ruly Habibie.

Buka-bukaan

Ketua Presidium ICMI Pusat Marwah Daud Ibrahim menyatakan sebaiknya kehadiran buku itu menjadi momentum bagi tokoh-tokoh yang terlibat untuk membuka hal-hal lain, seputar peristiwa Mei 1998.

Menurut dia, Habibie sudah menuliskan semua kejadian tersebut. Dia percaya atas kebenaran yang ditulis sang mantan presiden itu.

Sebab, Habibie mempunyai kebiasaan mencatat semua peristiwa yang dialami. Semua orang dekatnya mengetahui secara pasti kebiasaan tersebut.

Keterangan Marwah Daud Ibrahim itu disampaikan di sela-sela acara Kampanye 5 Kota "Gelar Budaya Zakat" oleh Rumah Zakat Indonesia di Sabuga Bandung.

"Pak Habibie menuliskan semua kejadiannya karena Beliau punya buku besar untuk mencatat siapa pun tamunya. Faktanya apa, tanggalnya kapan, dan di mana. Beda melihat angle, itu hak masing-masing untuk menulis," tandas dia.

Cara Intelektual

Sejarawan Anhar Gonggong mengatakanbuku tersebut debatable atau bisa dibantah. Sebab, buku itu bukan sebuah buku sejarah. Hal itu dikatakan pada acara diskusi "Penulisan Sejarah dan Kontroversi Buku Habibie" di Time Break Cafe, Plaza Semanggi, Jakarta.

Menurut dia, buku Habibie yang menuai kontroversi itu bukan sebuah buku yang dijadikan pedoman untuk pelajaran sejarah di sekolah. "Buku itu hanyalah sebuah dokumen sejarah yang berasal dari catatan harian seorang Habibie," ungkap dia.

Jadi apabila buku yang disusun Habibie itu menuai kontroversi adalah hal yang sangat wajar. "Karena itu, saksi sejarah di seputar Habibie harus memberikan kesaksiannya, sehingga didapatkan sebuah sumber pembanding yang lengkap," tandas dia.

Anhar mengaku belum membaca buku tersebut. Namun dari perdebatan di media selama ini, dia menilai Habibie tidak akan gegabah untuk mengeluarkan pernyataan tanpa fakta.

"Dia itu seorang intelektual dan ilmuwan. Jadi buku itu ditulis berdasar sumber sejarah yang saya sendiri tidak tahu dari mana diperolehnya," ujar dia.

Sementara itu, Kepala Pusat Kurikulum Pendidikan Nasional Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Dyah Hariyanti mengatakan, buku yang diterbitkan Habibie bisa dijadikan buku pembanding siswa untuk belajar sejarah. "Buku itu bisa dijadikan acuan bagi siswa, terutama dalam sistem kurikulum berbasis kompetensi saat ini," ujar dia. (dwi,H27,dtc-60,48m)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA