logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 01 Oktober 2006 NASIONAL
Line

Ubud Writers & Readers Festival 2006 (1)

Aneka Jalan Pahami Pramoedya


SM/Triyanto Triwikromo n Goenawan Mohamad

APA lagi yang masih bisa kita bicarakan tentang Pramoedya Ananta Toer? "Pramoedya itu apa sih? Nama tempat ya?" tanya seorang perempuan seksi yang mengaku datang dari Jakarta saat berlangsung pembukaan Ubud Writers & Readers Festival di Puri Ubud, Kamis (29/9).

Djenar Maesa Ayu tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan tak terduga dari kawan karibnya itu.

"Aduh, Neng. Pramoedya itu salah satu calon pemeroleh Nobel kesusastraan. Namun tak apa-apa. Tidak semua orang tahu segala hal yang dilakukan pengarang besar itu," kata penulis novel Nayla itu.

Sesungguhnya memang tidak setiap orang, terutama para peneliti asing yang melakukan selebrasi besar-besaran terhadap pengarang tetralogi Bumi Manusia itu, tahu mendetail tentang Pram dengan segala sepak terjang kreatifnya. Hal itu tampak saat bersama para pengarang Indonesia terkemuka - Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Linda Christanty, dan Sitok Srengenge - mereka menyelenggarakan "Penghormatan untuk Pramoedya" di Lotus Cafe, Puri Saraswati, Ubud, Bali.

Ada yang salah menyebut lokasi Blora. Ada yang menganggap adegan wisuda Minke dalam Bumi Manusia sebagai teks terhebat. Ada pula yang beranggapan hanya Pram pengarang terbesar Indonesia. Karena itu, tepat ketika Goenawan Mohamad bilang,

"Orang asing itu memahami Pram sebagaimana mereka memahami Bali. Bali mereka anggap tempat paling hebat, demikian juga Pram."

Lalu, apa sesungguhnya yang membuat Pram besar? "Tentu karena dia memang menulis kisah-kisah panjang. Namun dia menjadi lebih besar karena ditekan pemerintah. Jadi, jika ingin tampak besar di mata asing, setiap pengarang Indonesia harus mencicipi penjara," ujar Goenawan, "Saya tidak bisa membayangkan bagaimana karya-karya Pram jika dia tak pernah dipenjara di Pulau Buru."

Beberapa wartawan dan penulis terkejut mendengar ungkapan yang semula dianggap canda itu. Mereka mempersoalkan mengapa kontroversi semacam itu tidak dialami pengarang lain. Kritikus Pamela Allen dari Australia atau John McGlyn - dua peneliti yang karib dengan seluk beluk Pram - tak mungkin bisa menjawab pertanyaan itu dengan detail. Namun, sekali lagi, Goenawan mengingatkan betapa untuk memahami Pram, orang harus mengaitkan dengan berbagai elemen - waktu, tempat, identitas - yang membuat dia eksis sebagai pengarang. "Ya, dengan cara itulah kita akan bisa memahami keberadaan seorang pengarang."

Lalu, apa makna penggalan teks yang dibacakan Sitok Srengenge (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu), Linda Christanty (Gadis Pantai), dan Sapardi Djoko Damono (Bumi Manusia) pada malam itu? "Aku sekarang mulai tahu siapa Pram dan apa yang dilakukan," celetuk perempuan seksi itu sambil tertawa terbahak-bahak. (Triyanto Triwikromo/Bersambung-53)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA