| Minggu, 01 Oktober 2006 | NASIONAL |
Aris yang Betah Tidur Berhari-hari (3-Habis)"Sebaiknya Diperiksakan ke Dokter Jiwa"
KEBIASAAN tidur Aris Supriyanto, warga Karangtalun, Imogiri, Bantul memang aneh. Penduduk setempat menduga dia menjadi "langganan" kemasukan jin yang berdiam di sebelah utara rumahnya. Konon, perkebunan di belakang rumah itu angker dan ada penunggunya, yaitu jin bisu. Beberapa orang pun sudah pernah kesurupan mahluk halus tersebut. Sesepuh warga Moh Hadi menceritakan, menurut warga, ada jin bisu yang kadang-kadang marah karena diganggu. Misalnya, pernah suatu ketika ada orang yang bertindak tidak sopan di sana, tiba-tiba menjadi lumpuh dan tak bisa bicara. Korban bisa sembuh setelah mendapat pengobatan orang pintar. "Memang di belakang rumahnya yang wingit, ada jin bisu. Makhluk diberi nama begitu karena setiap orang yang kesurupan pasti tidak bisa bicara, bahkan terkadang juga lumpuh," ujar Hadi. Nah, mengapa jin itu suka merasuki Aris dan sampai bertahan selama 15 tahun? Dia tidak bisa memberikan jawaban secara pasti. Sebab, Aris juga belum pernah mengungkapkan perasaannya ketika tertidur lama. Dia juga tak pernah mau membicarakan persoalan tersebut ketika sudah sadar. Ketika ditemui usai terbangun, bapak tiga anak itu minta rokok tanpa berucap, hanya bahasa isyarat. Dia kemudian menyulut dan mengisapnya sambil tiduran di kamar berdinding anyaman bambu. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut Aris, kendati istri dan anak-anak mengajaknya berbicara. Dia terlihat asyik merokok, matanya menerawang, kosong. "Hmmm...hmm...." Itu saja yang keluar dari mulut. Selebihnya, dia hanya menggelengkan kepala saat ditanya mengapa tidur berhari-hari. "Mungkin kemasukan jin bisu. Namun saya sendiri juga tak tahu pasti. Sebab sampai sungguh-sungguh sadar, dia tak pernah ingat dan tak mau diajak bicara kalau ditanya tentang kebiasaan tidurnya," papar Hadi yang juga ketua RT setempat. Depresi Pendapat berbeda disampaikan psikiater dokter Inu Wicaksana SpKJ MARS. Dia menduga Aris depresi sehingga perlu dibawa ke dokter atau rumah sakit jiwa. Orang boleh saja menduga kesurupan, namun dia berpendapat dari sisi medis. Aris menderita sakit kejiwaan. Salah satu gejala orang depresi, menurut dia, betah tidur berlama-lama. Penderita setelah sadar akan lupa kalau pernah tidur cukup lama. Selain itu, dia juga enggan diajak bicara dan kadang asyik dengan dunianya sendiri. Kalau sudah begitu, keluarga pun pasti terbengkalai karena sehari-hari orang itu hanya melamun. "Kemungkinan lain, bisa saja ada proses di otak yang tidak beres, ada kerusakan jaringan syaraf atau tumor. Namun untuk memastikannya, lebih baik diperiksakan ke dokter atau rumah sakit jiwa," ungkap Inu, dokter RSJ Magelang dan sejumlah rumah sakit di Yogyakarta itu. Warsilah, istri Aris, mengakui jika selama ini, kondisi ekonomi keluarga sangat terganggu dengan kebiasaan suami itu. Dia menjadi tulang punggung keluarga dengan cara mencari rumput untuk tetangga dan sebagai buruh penatah wayang kulit. Mereka pun harus menumpang di tempat saudara karena setelah 15 tahun berkeluarga, tak mampu mendirikan rumah sendiri. "Kalau pas sadar dan normal, dia bekerja sebagai buruh bangunan atau kuli serabutan. Namun kalau sedang kumat tidur, ya... tak bisa apa-apa," tutur dia lirih. Beberapa waktu lalu, ada dokter dari Bantul yang berkunjung dan melakukan pemeriksaan. Aris diberi obat dan diminta memeriksakan diri ke RSJ. Namun tak lama kemudian, dia sadar dan bisa beraktivitas seperti biasa. Warsilah dan tetangga hanya bisa terheran-heran. "Apa aku turu, aku ora eling je... Ora ana apa-apa ki (Apa saya tidur, saya tidak ingat. Tidak ada apa-apa kok)," tutur Aris ketika menjawab dalam kondisi sadar dan sudah bisa bicara. Dia mengaku tak ingat sedikit pun kalau sudah tertidur lama, bahkan sampai tak bisa bicara. Kepalanya hanya menggeleng saat ditanya apa dia sedang "nglakoni". (Agung PW-60m) | ||||