logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 01 Oktober 2006 SEMARANG
Line

PASANAN Pesantren Miftahul Ulum Terboyo Wetan

Hafal Alquran Tak Bisa Dipaksakan

LOKASI Pesantren Miftahul Ulum memang terpisah-pisah. Satu gedung berada di wilayah RT 3 RW 2 Kampung Ngilir, Kelurahan Terboyo Wetan, Genuk, yang dipakai untuk santri wanita. Adapun gedung lainnya berada di RT 4 RW 1, dipakai untuk santri pria. Hal itu terjadi karena memang tidak ada tanah yang cukup dan strategis untuk pengembangan pesantren itu secara strategis.

Tetapi, kendala itu tak menyurutkan KH Noor Badri Alhafiz untuk menularkan ilmunya melalui media pesantren tersebut. Bersama sejumlah tokoh masyarakat, dia merintis berdirinya Pondok Pesantren Miftahul Ulum. Para pendiri di samping dirinya adalah KH Sonhaji, KH Abdul Kholid, dan KH Hadiri Rosyad.

Operasional pesantren mulanya menempati rumah KH Noor Badri, 1983. Lambat laun pengelolaan makin maju hingga mampu membeli sebidang tanah di samping utara rumah Noor Badri. Di atas tanah itu dibangun gedung berlantai dua untuk pesantren putri. Hingga saat ini bangunan itu telah dihuni 65 santri putri.

Sebagai pengasuh, KH Noor Badri dibantu istrinya Hj Ulya Alhafizah, sengaja mengkhususkan pesantren tersebut sebagai kawah produksi hufaz Alquran (penghafal Alquran). Meski ada beberapa kitab lain yang dikaji, hal itu hanya bersifat pelengkap. Di antara kitab pelengkap tersebut adalah Hidayatul Adqiya, Bidayatul Hidayah, Mar'atus Shalihah, dan Tafsir Al Ibriz.

Khusus Alquran, para santri wajib menghafal sesuai dengan kemampuan. Dalam sehari, mereka harus setor hafalan tiga kali. Dua kali di depan Noor Badri dan sekali di depan istrinya, Hj Ulya.

Tak Memaksa

"Berapa banyak ayat atau surat yang dihafal, kami tidak pernah memaksa. Kami juga tidak menarget santri harus hafal sekian tahun. Itu semua tergantung kemampuan santri. Allah juga yang menentukan atas itu," kata alumnus Pesantren Yambuul Quran yang diasuh oleh ulama ternama KH Arwani (almarhum), di Desa Kajeksan, Kudus.

Bagi pria kelahiran Kudus 15 Juli 1950 itu, hafalan Alquran tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa.

Hafalan yang baik, menurut dia, adalah yang masuk ke dalam hati. Dengan demikian, tidak akan hilang. Bila masih mengandalkan pikiran atau otak, hanya mampu beberapa juz saja.

"Hafal satu sampai dua juz saja kepala sudah pusing. Itu karena tidak sampai meresap dalam hati."

Dalam perkembangan setahun terakhir ini, Pesantren Miftahul Ulum mulai menerima santri putra. Khusus putra pengasuhnya hanya KH Noor Badri. Setiap kali setor hafalan dilakukan di Masjid Ngilir.

Ramadan ini, kata Noor Badri, tidak ada peningkatan kegiatan. Kewajiban pokok para santri hanyalah menghafal Alquran. (Karyadi-37)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA