logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 September 2006 OLAHRAGA
Line

Keputusan soal Suporter Membingungkan

JAKARTA- Terhadap ketetapan yang dibuat Komisi Banding, Direktur Badan Liga Indonesia (BLI) Andi Darussalam Tabusalla menyebutkan keputusan soal penonton bisa membingungkan. "Penetapan mengenai masalah suporter itu memang bisa menimbulkan kerancuan," katanya.

Dia kemudian mempertanyakan, bagaimana kalau pada pertandingan Persebaya ada pengelompokan, bahkan sambil melakukan tari-tarian dan perilaku lain yang biasanya dipertontonkan oleh kelompok pendukung sebuah tim.

''Kalau memang diperbolehkan, ya, tidak masalah," tuturnya.

Menurut Ketua Komisi Banding Rusdi Taher, yang tidak boleh datang ke stadion dan menyaksikan pertandingan adalah kelompok suporter yang menunjukkan identitasnya sebagai bonek. "Di luar itu silakan saja. Kita tidak bisa melarang kedatangan penonton yang bukan bonek, sebab nanti bisa dikategorikan melanggar HAM," ujarnya.

Dari kubu Persebaya, Ketua Umum Arif Affandi menyatakan bahwa sejak kerusuhan 4 September lalu itu identitas bonek sudah bisa dikatakan terkubur. "Jadi, keputusan Komding mengenai larangan bagi bonek sama sekali tidak menjadi masalah. Istilah itu sudah kita tinggalkan di belakang," katanya, kemarin sore di Surabaya.

Kelompok Baru

Arif yang juga wakil wali kota Surabaya menegaskan, pihaknya kini akan menyosialisasikan pendirian kelompok suporter baru. "Namanya masih kita cari," katanya. Dia lalu mencontohkan sebuah nama, yakni Pendukung Sepak Bola Fair Play Indonesia.

"Kita akan segera lakukan pertemuan dengan elemen-elemen suporter untuk menyikapi masalah ini. Yang penting sejak sekarang pengurus Persebaya akan mencoba lebih menempatkan suporter sebagai bagian dari tim," jelasnya.

Menyinggung tentang ''partai usiran'' di luar Surabaya selama satu tahun itu, Arif menyebutkan secara umum pengurus Persebaya sangat berterima kasih atas keputusan tersebut. "Doa kita sebenarnya mengingingkan tetap bertanding di sini, sebab Persebaya sudah menjadi instrumen sosial masyarakat Surabaya, dan juga dibiayai oleh APBD Kota Surabaya," tegasnya.

Salah satu anggota Komisi Disiplin (Komdis), Mahfudin Nigara, menilai keputusan dalam kasus Persebaya menunjukkan maju mundurnya persepakbolaan nasional ditentukan oleh Komisi Banding. Sedangkan Ketua Komdis, Togar Manahan Nero Simanjuntak, menolak mengomentari secara mendalam keputusan itu, dengan menyebutkan pihaknya akan melakukan pertemuan untuk menentukan sikap.

Di sisi lain, ketua tim kuasa hukum Persebaya Hinca IP Pandjaitan memberikan pujiannya. "Sekali lagi Komisi Banding sudah membuat keputusan yang tegas dan berwibawa," ujarnya ketika dihubungi dalam kesempatan terpisah, kemarin.

Hinca mengatakan, sebagian besar keputusan Komisi Banding sebenarnya tak berbeda jauh dari yang sebelumnya sudah diputuskan oleh Komdis.

"Kalau Anda cermati, pada dasarnya Komdis juga hanya melarang bonek yang memasuki stadion, bukan penonton biasa yang tidak memakai atribut yang menunjukkan identitas bahwa mereka adalah bonek," katanya.(wgm,G14-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA