logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 September 2006 WACANA
Line

Surat Pembaca

Upaya Mengelola Uang Kembalian

Rubrik ini bebeberapa waktu lalu ada tulisan Sdr Mugi Widodo berjudul ''Uang Kembalian'' yang berisi keberatan konsumen atas tidak dikembalikannya sisa uang pembelian baik di SPBU mau pun di pusat perbelanjaan. Nominalnya memang kecil, misal pecahan Rp 25, Rp 50, Rp 65. Cuma, karena kelipatannya banyak, maka jumlahnya pun jadi besar.

Uang kembalian dari SPBU maupun supermarket yang dipermasalahkan konsumen sebenarnya bisa dikelola sebagai sumber dana sosial.Betul, uang itu hak konsumen dan harus dikembalikan. Tidak mengembalikan hak dengan alasan tidak punya pecahan atau anggapan uang kecil tidak ada harganya jelas tidak bisa dibenarkan.

Lembaga saya, Rumah Zakat Indonesia bekerja sama dengan Pamella Swalayan mengelola uang kembalian konsumen. Setiap counter kasir dibuat pengumuman: "Kembalian kurang dari Rp 100 akan disalurkan sebagai dana sosial". Dana yang terkumpul disalurkan dalam bentuk layanan kesehatan gratis, santunan fakir miskin, janda dan yatim piatu.

Penyaluran dana dikerjakan bersama Pamella Swalayan yang terkumpul Rp 5 juga/bulan. Metode Shopping Charity ini merupakan bentuk pertanggungjawaban uang kembalian konsumen. Sekaligus jalan keluar atas kesulitan mendapatkan pecahan di bawah Rp 100. Sejauh ini konsumen merasa puas dan senang atas tindakan seperti itu.

Tulisan ini hanya ingin menawarkan sebuah wacana sekaligus alternatif solusi. Dilatarbelakangi pengalaman saya selama ini bekerja sama dengan beberapa mitra dalam program shopping charity pada kasus serupa. Semoga bisa winwin solution bagi banyak pihak.

Alfath

Branch Manager RZI Semarang

***

Jawara Huru-hara

Huru-hara di lapangan sepak bola terus terulang. Dari banyak rekaman, suporter merupakan pelaku utama walau para pemain pun tak jarang melakukan aksi provokasi tak terpuji. Sportivitas telah kebas oleh rasa tak puas hingga memicu ulah beringas. Keberingasan ini terjadi karena niat hati yang terlanjur keliru ketika datang ke stadion.

Mereka datang karena ingin melihat timnya menang bukan menikmati permainan bola. Semua merasa menjadi jagoan ketika tim pujaan berhasil menjadi juara dan tak mau terima ketika timnya ditekuk lawan walau sebenarnya telah berjuang mati-matian. Suporter memang kekuatan yang tak bisa dianggap remeh bagi keberadaan tim, bahkan mereka sering diibaratkan sebagai pemain ke-12.

Menyadari hal ini seharusnya pihak manajemen lebih intens merangkul mereka dan mengajak dialog dengan hati. Yang terjadi saat ini para punggawa tim lebih sering memprovokasi mereka dengan mengumbar kata-kata panas sebelum "perang" melawan tim lawan. Sebagian besar suporter bola adalah kalangan muda yang berdarah panas dan gampang meledak.

Ada baiknya tiap tim punya pasukan "pawang darah panas" yang disusupkan di antara mereka dan selalu siap meredam keberingasan. Bukan malah lari terbirit-birit ke tengah lapangan. Kesigapan panpel pertandingan juga mutlak diperlukan dalam menghadapi pertandingan krusial.

Jika seragam korps pengaman, pentungan dan pistol tak mampu meredam aksi beringas mungkin perlu disiapkan kaki-kaki kokoh pasukan berkuda dan taring-taring tajam anjing pelacak. Harap-harap cemas pun terarah ke kubu PSSI agar lebih serius menggiring sepak bola ke zona sebenarnya.

Karena berbagai sanksi penuh rasa sangsi tak akan berhasil rnembuat jera malah hanya memancing kontroversi. Hingga detik ini kegilaan saya pada sepak bola belum cukup menghimpun nyali untuk datang ke stadion. Lemparan botol, caci maki tanpa basa-basi, luapan emosi dalam kobaran api telah menahan hati untuk cukup puas hanya sebagai penikmat di layar teve.

Entah kapan stadion di negeri ini tak ubahnya ruang sinema, kaum adam dan hawa bisa enjoy duduk tanpa rasa was-was hingga peluit terakhir. Semua siap bertepuk tangan untuk sang pernenang dan para pemain yang teIah gigih berjuang tak peduli kawan ataupun lawan.

Indra Ari

Bakalrejo Rt 5/Rw I Guntur, Demak

***

Soal Pensiunan

Akhir-akhir ini ada keluhan para pensiunan PNS yang mengeluh hidupnya serba pas-pasan, pengeluaran lebih banyak daripada pendapatan, ibaratnya lebih besar pasak daripada tiang. Seorang PNS, yang mendaftar kali pertama memang bersikap mengabdi kepada bangsa dan negara.

Kalau mereka tidak punya sikap tersebut, tidak usah mendaftar. Jadilah pengusaha di mana individu bisa bekerja bebas, bekerja cerdas, bekerja keras dengan penghasilan tak terbatas. Jadi bila sekarang sudah pensiun, namun tetap menjadi kaum duafa barangkali ada yang salah kelola.

Tetangga saya PNS, gajinya tanggal 15 sudah habis tapi kelihatan senang, makan enak. Pulang dari bepergian terus tidur, sore santai, omong sana omong sini, mau usaha malu karena gengsinya tinggi.

Satunya lagi juga PNS, pulang dari kantor terus membuat kue, sore mencari pelanggan.

Dalam waktu beberapa tahun usahanya berkembang, sehingga penghasilannya 5 x gajinya sebagai PNS.

Kita tidak usah melihat mereka yang penghasilannya puluhan juta rupiah sebulan, sebab keberuntungan orang berbeda. Bila rasa iri sudah muncul di hati, apapun serba kemrungsung (ingin serba cepat), pasti berbagai penyakit akan menyerang. Sebab 60% penyakit berasal dari pikiran ''kotor''.

Misalnya gaji pegawai terendah Rp 10 juta/bulan apakah korupsi akan juga menghilang ?. Belum tentu.

Setiap orang dilahirkan sama, soalnya bagaimana memimpin dan dipimpin, membawa serta dibawa (Roussenu, Bapak Revolusi Prancis).

RM Ismunandar C (EI)

Salatiga Permai VI/140-141,Salatiga

***

Sekolah Kondusif

Tulisan ini lebih menekankan pertautan batin anak didik dengan sekolah. Yang diharapkan tentu kecintaan berdasarkan kesadaran murni, bukan PD karena masuk sekolah favorit atau malu bersekolah ecek-ecek. Akreditasi memang penting dan perlu tapi memacu dan merangsang motivasi belajar di sekolah lebih penting dan lebih perlu.

Media pun setiap tahun ajaran baru sadar atau tidak sadar selalu melanggengkan perbedaan kasta favorit - nonfavorit, walau maksudnya baik untuk acuan orang tua murid. Secanggih apa pun sistem pendidikan (baca : penilaian), bila si anak tidak mendapatkan situasi dan kondisi proses belajar mengajar yang kondusif tentu berpengaruh terhadap konsentrasi penyerapan ilmu.

Ujung-ujungnya tidak berprestasi optimal. Sumbernya, misal teman nakal dan selalu usil, suasana kelas bak pasar atau sebaliknya seperti kuburan. Juga penyampaian materi mbulet, malas sekolah dengan alasan sakit dan sebagainya. Kegembiraan siswa juga muncul bila guru tidak hadir atau rapat hingga siswa pulang awal.

Lantas bisakah dianalogkan, bersekolah formal adalah keterpaksaan. Bandingkan dengan siswa SMP alternatif di Kabupaten Semarang yang membebaskan muridnya berkarya dan berkreasi dengan bimbingan/arahan pengajar.

Ternyata mereka mampu mengekspresikan potensinya dengan baik.

Suatu kolaborasi antara bermain, bergembira sambil sekolah. Bila jam pelajaran tiba tapi pengajar belum hadir malah dijemput para murid.

Noor Rofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran

***

DPRD , Kumpulan

Orang Pintar ?

Membaca berita tentang batas pengosongan mess DPRD bagi anggota yang sudah menerima uang tunjangan perumahan Rp 5 juta/bulan, masyarakat awam merasa geli, jengkel bercampur sedih. Betapa tidak , uang Rp 5 juta sudah diterima masih belum rela meninggalkan mess dengan dalih tidak ada aturan yang mengatakan harus segera pindah setelah terima uang.

Ditambah lagi mereka masih merasa benar karena uang yang hanya Rp 100 ribu/bulan juga rnereka bayar (meski dari uang rakyat) . Berarti ada selisih sebesar 4,9 juta/bulan yang tidak usah repot-repot mencari . Tiap bulan datang sendiri, tinggal tanda tangan. Pinter tenan.

Dilihat dari sisi aturan tertulis mungkin benar tapi mbok jamu pun tahu bahwa uang Rp 5 juta bukan untuk tinggal di mess. Kalau masih ingin tinggal di mess, tolong kembalikan sisa pembayaran sewanya kepada negara karena itu uang rakyat, bukan uang pribadi anggota.

Jangan sampai nantinya mengalami kesulitan hanya karena doa dari orang-orang teraniaya seperti masyarakat kecil . Saya berdoa semoga anggota Dewan dibukakan hatinya. Jangan berlindung di balik hukum yang dibuat dan disepakati sendiri.

Meibiyanto

Kaliwiru VI/454, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA