| Sabtu, 30 September 2006 | WACANA |
Fenomena McDonaldisasi Agama
TAYANGAN keagamaan di televisi disamping menampilkan materi ajaran agama dan nasihat kepada umat, sekaligus dituduh bermuka dua dalam menumpangtindihkan idealisme dan pragmatisme. Meski ada unsur hiburan dan pendidikan namun kental terasa manipulasi kesadaran publik untuk mendapatkan keuntungan. Thomas L. McPhail (1998) menyebutnya sebagai salah satu bentuk kolonialisme elektronik. Seperti menjadi rutinitas tahunan, di bulan puasa stasiun televisi kembali menayangkan berbagai acara keagamaan mulai dari sinetron, kuis, musik, kultum hingga iklan yang menonjolkan kesan religius. Ada dua alasan mendasar. Pertama, artis-artis bintang sinetron atau iklan lekat dengan kehidupan pragmatis, kawin cerai, selingkuh sehingga kredibilitasnya layak dipertanyakan untuk membawakan pesan keagamaan. Kedua, gaya hidup konsumtif dan hedonistis yang ditampilkan kehidupan para artis selama ini bertolak belakang dengan penghayatan agama yang mengedepankan penderitaan, kemiskinan, matiraga dan menahan diri. Yang terjadi kemudian adalah munculnya gejala atau fenomena McDonaldisasi agama. Terminologi McDonaldisasi pertama kali dicuatkan oleh George Ritzer (1993), sosiolog dari Uniersitas Maryland sebagai penyederhanaan tata nilai agar lebih mudah dikonsumsi. Proses prinsip restoran fast-food mulai mendominasi berbagai sektor masyarakat mulai dari bisnis restoran, agama, seks, pendidikan, dunia kerja, biro periklanan, politik, program diet, keluarga. Secara umum McDonald's menawarkan cara terbaik untuk mengubah rasa lapar menjadi kenyang, dengan pelayanan cepat saji yang terkuantifikasi dan terkalkulasi. Berangkat dari tesis Ritzer tadi, tayangan acara keagamaan di televisi tidak sedikit yang berwujud sebagai pengebirian terhadap nilai dan substansi agama. Acara dibuat secara instan dan selebritif, serta model dan formatnya mirip atau tidak berbeda antara stasiun televisi yang satu dengan yang lainnya. Acara yang dikemas dengan melibatkan para artis dikemas dengan entertaining agar laku dijual. Namun akibatnya, substansi pesan yang ingin disampaikan akan tertelan oleh popularitas, kecantikan, kegantengan, dan gaya hidup para pengisi acara. Pesan yang hendak dibawakan dengan tayangan justru kabur karena bertentangan dengan hidup si pembawa pesan. Ranah Kapital Meminjam istilah Khamami Zada, ada kecenderungan memasukkan agama dalam ranah kapital.Pesan agama sarat dengan iklan yang berkonotasi bisnis dan mencari keuntungan. Akibatnya, pesan moral keagamaan terasa kian dangkal maknanya. Pesan moral yang hendak dibawakan tidak lagi mengakar dan tidak mendorong umatnya untuk bertobat. Tayangan keagamaan yang mestinya membawa ajaran yang bermakna pendidikan dan penyadaran bagi umatnya berubah menjadi tayangan yang penuh dengan bahasa bisnis guna mengeruk keuntungan. Dengan kecenderungan-kecenderungan semacam itu, maka agama akan menemukan dirinya sebagai sebuah entitas produk budaya masa dan kemudian hanyut dalam arus kuat pusaran pasar. Jauh sebelumnya fenomena seperti tadi pada tahun empatpuluhan pernah digugat oleh mahzab kritis Frankfurt, bahwa mass culture dan mass society telah menghasilkan individu yang teralienasi akibat industri budaya massa sebagai kepanjangan tangan dari kapitalisme. Kalau agama berusaha memenuhi kebutuhan spiritual-esoteris dan eksoteris manusia, maka budaya massa sekadar mengejar kebutuhan yang remeh temeh. Pada titik inilah kemudian nilai-nilai agama disubordinasikan oleh nilai-nilai yang pragmatis bagi kebutuhan manusia. Pendek kata, tayangan keagamaan yang cenderung instan justru menurunkan wibawa ajaran dan nilai yang terkandung dalam agama. Kemasan boleh menarik, namun ketika pesan moral cenderung direndahkan nilainya maka orang tidak lagi takut melakukan korupsi, perjudian, mo limo karena resistensi ajaran yang dibawakan oleh agama. Dangkalnya pemahaman akan berdampak pada dangkalnya pemaknaan agama. Tayangan keagamaan seharusnya dapat digunakan oleh seluruh bangsa untuk secara kontemplatif menggunakan dan mengajarkan nilai-nilai substantif agama, sehingga dapat berperan memberikan solusi bagi problem kemanusiaan bangsa ini. Jika agama dikaitkan dengan mengobati rasa lapar umat akan kehidupan akhirat, sesungguhnya tayangan yang diperlukan adalah tayangan yang mampu mengajak umatnya untuk kehidupan yang lebih baik. Barangkali soal metode dan kemasanlah yang memaksa tayangan teve lebih menarik ketimbang ceramah yang diberikan pemuka agama. (11) --- Paulus Mujiran, SSos, MSi Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata di Semarang |