| Sabtu, 30 September 2006 | NASIONAL |
SBY-JK Dinilai Pantas Dapat NobelJAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) dinilai memiliki kesungguhan dalam menyelesaikan konflik. Karena itu, keduanya dinilai pantas menerima hadiah Nobel Perdamaian. Demikian dikatakan anggota Komisi I DPR (Bidang Luar Negeri) Arief Mudatsir Mandan di gedung DPR Senayan Jakarta, Jumat (29/9). Menurut dia, tercapainya perdamaian Aceh dengan GAM juga merupakan bukti hasil kerja dan serta kualitas kepemimpinan SBY - JK. Arief juga mengaku dia bersedia mendampingi tim dan utusan yang mewakili Komite Pemberian Hadiah Nobel dalam mengonfirmasikan atau mengklarifikasikan berbagai hal yang berkenaan dengan proses pemberian hadiah Nobel tersebut. ''Sejak bergulirnya roda reformasi di Indonesia, keadaan sosio-politik Indonesia sudah semakin membaik dan memberikan dampak positif di dunia internasional,'' tutur politikus PPP itu. Konflik NAD Berbagai dampak positif yang terjadi di Indonesia pada era kepemimpinan SBY - JK itu, antara lain terjadi peningkatan upaya-upaya untuk membangun solidaritas sosial antarwarga dan penyelesaian konflik/kerusuhan sosial dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. ''Selain itu, hubungan Indonesia dengan Timor Leste semakin baik. Ini bisa terlihat dari berjalannya Komisi Perdamaian dan Persahabatan Indonesia - Timor Leste,'' ujar dia. Lebih lanjut Arief mengatakan, SBY - JK juga terbukti bisa mengakhiri konflik bersenjata di Nangroe Aceh Darusalam yang telah berlangsung sekitar 30 tahun. ''Hal itu ditandai dengan penandatanganan MoU Helsinki serta pengesahan UU Pemerintahan Aceh.'' Perdamaian domestik Indonesia itu bisa memberikan dampak positif dalam upaya mewujudkan tata hubungan harmonis, khususnya dengan negara-negara Asia Tenggara. ''Selain itu, keduanya memberikan kontribusi berarti dalam menciptakan perdamaian dunia,'' ujar dia. Dia menambahkan, pemberian hadiah Nobel Perdamaian akan diumumkan pada 13 Oktober 2006, di mana SBY dikabarkan menjadi favorit nomor satu peraih Nobel. SBY bersaing dengan 190 kandidat yang lain untuk memperoleh penghargaan bergengsi itu. (H28-49m) |