logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 September 2006 NASIONAL
Line

Aris yang Betah Tidur Berhari-hari (2)

Menyan dan Bunga pun Disebut Roti


SM/Agung PW MEMBUAT WAYANG: Pekerjaan sehari-hari istri Aris, selain buruh mencari rumput, juga membuat wayang kulit. Penghasilannya tak lebih dari Rp 10.000/hari.(30m)

BAGAIMANA rasanya tidur selama berhari-hari? Bagi orang normal, tentu sangat melelahkan. Badan yang semula segar dan sehat bisa-bisa malah sakit, karena tidak digunakan untuk beraktivitas.

Namun, bagi Aris Supriyanto, penduduk Karangtalun, Bantul, berlama-lama tidur sudah merupakan kebiasaan, bahkan selama 15 tahun ini dia mengalaminya.

Warsilah, istri yang selama ini setia menunggui, mengungkapkan, suaminya pernah beberapa kali terbangun dari tidur dan minta makan. Bukan sembarang makanan, meskipun dia menyebutnya "roti".

Semula anggota keluarga menduga yang diminta roti sungguhan, namun ketika dibelikan dan disodorkan, tak disentuh sama sekali.

"Untung waktu itu ada tetangga tanggap dan sudah menduga yang dimaksud roti adalah menyan dan bunga. Ternyata benar, Mas Aris langsung memakan menyan dan bunga seperti menyantap makanan biasa," tutur Warsilah geleng-geleng kepala.

Kini, setiap tertidur panjang, dia dan tetangga dekat bersiap-siap seandainya ada permintaan seperti itu. Memang tidak setiap kali tertidur panjang dia minta menyan dan kembang, hanya saat-saat tertentu. Misalnya, sudah dua hari tertidur, tiba-tiba bangun dan minta "roti". Saat mengucapkan permintaan, suara yang keluar bukanlah suara Aris.

Menurut penuturuan istrinya, suara yang keluar mirip orang tua, kakek-kakek. Dia tidak tahu suara siapakah gerangan, karena setiap ditanya jati dirinya selalu saja tak pernah menjawab dan tetap asyik menyantap menyan. Usai makan, langsung tertidur lagi.

"Sepertinya bukan dia yang minta, tapi orang lain. Suaranya mirip kakek-kakek, berat, dan panjang. Kami turuti saja permintaan tersebut, khawatir nanti terjadi apa-apa kalau tidak dikabulkan," terang buruh pencari rumput dan penatah wayang kulit itu.

Bukan Nglakoni

Keluarga dan tetangga Aris pernah berpikir, jangan-jangan dia sedang menempuh persyaratan tertentu untuk mencari ilmu kesaktian. Orang Jawa menyebut nglakoni. Istrinya sendiri juga berprasangka begitu, namun ternyata salah.

"Suami saya tidak pernah berguru mencari ilmu kesaktian atau apalah namanya, wong dia itu baca-tulis saja tidak bisa, SD juga tidak lulus," tandas Warsilah membeberkan latar belakang pendidikan sang suami.

Upaya untuk penyembuhan sudah sering dilakukan, baik ke dokter maupun orang pintar alias paranormal. Hasilnya, tidak ada yang mampu menyembuhkan kebiasaan tidur tersebut. Dokter hanya memberi obat-obatan, misalnya untuk pusing, karena setiap bangun dari tidur lama, pasti mengeluh pusing. Paranormal juga tak mempan, karena usai berobat dia masih tidur dan tidur lagi.

"Setahu saya, dia juga tak pernah ngilmu. Sejak pertama kali tinggal di sini, saya selalu mengamati tingkah lakunya," ujar Moh Hadi, sesepuh Dusun Karangtalun.

Dia sering minta bantuan Aris untuk mengerjakan apa saja, mulai dari memetik kelapa, membersihkan rumah, dan menimba air. Saat kondisinya normal, dia mampu melakukan apa saja dan pasti beres. Belum pernah pekerjaan yang ditanganinya terbengkalai.

"Tapi, ya...itu...setiap terbangun dari tidur lama dan ditanya apa saja pengalaman selama terlelap, tak pernah dijawab. Kalaupun menjawab, hanya bilang lupa dan tidak ingat apa-apa. Perlu waktu satu-dua hari untuk sadar dan mampu berkomunikasi secara normal. Sampai kapan kebiasaan tidur panjang akan berhenti? Aris sendiri juga tak tahu...," jelas Hadi. (Agung PW-64h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA