logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 September 2006 MURIA
Line

Sosialisasi Amdal PLTU Kartini Ditolak

  • Rombongan Konsultan UGM Diusir

JEPARA - Sekitar 1.500 warga Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo, Jumat (29/9) mendatangi balai desa. Mereka datang untuk menolak kegiatan sosialisasi analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) terkait dengan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Kartini di Pantai Empu Rancak.

Sosialisasi itu sedianya akan dihadiri tim konsultan dan Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan didampingi Bappedal Provinsi Jateng, Dinas Lingkungan Hidup Pertambangan dan Energi (LHPE) Kabupaten, serta PT PLN.

Ada 60 warga yang diundang dalam rencana sosialisasi itu. Mereka dari kalangan petani pemilik lahan, tokoh masyarakat, Badan Perwakilan Desa (BPD), LKMD, dan perangkat desa.

Jadwal sosialisasi ditentukan pukul 08.00. Namun, ribuan laki-laki ataupun perempuan yang tak diundang datang ramai-ramai dengan motor dan mobil. Mereka tiba di balai desa sekitar pukul 07.00. Kalangan perempuan langsung memenuhi ruangan balai desa sedangkan yang laki-laki memblokade jalan depan balai desa.

Puluhan aparat Polsek dan Danramil Mlonggo berada di depan balai desa untuk berjaga-jaga. Di tengah situasi seperti itu, datang dua warga di ruangan balai desa.

Keduanya dinilai warga lain sebagai orang yang propembangunan PLTU Kartini. Kontan saja ibu-ibu yang ada di balai desa langsung menggeruduk mereka. Namun, aparat Polsek segera mengamankan keduanya.

Situasi juga memanas di jalan depan balai desa. Mobil dan kendaraan apa pun yang lewat tak lepas dari pantauan warga. Dua mobil Kijang yang ditumpangi rombongan konsultan UGM datang dan langsung dikerubuti warga. Aparat keamanan meminta dua mobil itu untuk mundur karena situasi tidak kondusif.

Namun saat berhenti, satu mobil terkena lemparan warga hingga kaca spionnya pecah. Warga mengusir mereka dan memintanya untuk tidak kembali lagi ke balai desa.

''Kami minta rombongan untuk pulang karena situasi tak kondusif. Namun, mobil malah berhenti di depan warga dan terjadilah pelemparan,'' ungkap Kapolsek Mlonggo AKP I Made Giri Suryasa saat ditemui di lokasi.

Insiden itu merupakan kali kedua, setelah pekan lalu mereka juga mengusir dan melempari mobil yang ditumpangi rombongan PT PLN dan investor material yang warga negara asing saat hendak meneliti bakal lokasi di Pantai Empu Rancak.

Cabut Papan Nama

Sebuah mobil sedan silver yang ditumpangi beberapa warga negara asing di dekat lokasi berkumpulnya warga, kemarin juga nyaris menjadi sasaran amuk massa. Namun warga mengurungkan niatnya, setelah mendapatkan penjelasan dari aparat bahwa itu mobil milik pembeli mebel.

Tak lama berselang, beberapa warga mendatangi rumah petinggi Desa Karanggondang, Markadi, yang hanya berjarak sekitar 200 meter selatan balai desa. Mereka mencabut papan nama petinggi di depan rumah dan mengaraknya ke arah Dukuh Balong Arto dan Empu Rancak. Pencabutan papan nama sekitar pukul 09.30 itu menandai bubarnya massa. Warga merasa, petinggi itu tidak berpihak kepada aksi-aksi yang mereka lakukan.

Syahid, petani, menuturkan, rentetan aksi itu merupakan penegasan warga memang memberikan harga mati menolak rencana pembangunan PLTU Kartini.

Dalam survei awal PT PLN, Pantai Empu Rancak memang salah satu alternatif calon lokasi, selain Pantai Ujung Piring di selatan Empu Rancak dan Pantai Bayuran di utaranya.

Petinggi Desa Karanggondang Markadi saat dihubungi mengatakan, pihaknya hanya memfasilitasi pertemuan sosialisasi itu. ''Kami hanya diminta Pemkab untuk memfasilitasi sosialisasi. Kalau kejadiannya begini, kami tidak tahu,'' ucapnya.

Kepala Dinas LHPE Jepara dokter hewan Hermin Supriyanto MM mengungkapkan, setelah berkoordinasi dengan Polres, pihaknya lalu meminta penundaan sosialisasi. ''Tidak mungkin sosialisasi dilakukan jika kondisi seperti itu. Jadi, terpaksa kami tunda.'' (H15-17j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA