| Sabtu, 30 September 2006 | SEMARANG |
Harga Bahan Pokok StabilSALATIGA - Kebutuhan pokok di sejumlah pasar di Salatiga akhir-akhir ini belum menampakkan adanya kenaikan harga. Sejak awal September lalu, harga sembako tetap stabil, ditambah jumlah pembeli pun dari pengakuan beberapa pedagang, tidak ada peningkatan yang sangat berarti. Dituturkan Romini (39), salah seorang penjual kelontong di Pasaraya I Salatiga, kondisi tersebut sudah biasa terjadi menjelang Lebaran. Tanda-tanda harga sembako naik biasanya seminggu sebelum lebaran. ''Lha saat itu dari sales-sales sudah mengabarkan harga akan naik atau ada yang langsung naik. Tapi kalau saat ini masih jauh dari Lebaran, jadi belum terasa sekali kenaikannya,'' kata dia, Jumat (29/9). Dia menyebutkan, dari beberapa harga sembako yang tetap stabil, seperti telur harganya masih naik turun. Dua minggu lalu harga telur, kata Romini, bisa mencapai Rp 8.000 per kg. Beberapa hari kemudian, turun menjadi Rp 7.600. Sampai kemarin harganya sudah mengalami perubahan menjadi Rp 7.300 per kg. Harga bahan pokok lainnya seperti beras jenis C4 sudah beberapa pekan ini harganya Rp 4.400 per kg, jenis beras mentik wangi Rp 4.300 per kg. Untuk minyak goreng harganya masih tetap bertahan Rp 5.300 per kg dan gula pasir Rp 5.700 per kg. Sementara itu, mengenai harga sayur-mayur cenderung turun. Walaupun tiap-tiap pasar berbeda harga tetapi beberapa pedagang mengakui ada penurunan. Seperti di Pasar Blauran, harga untuk bawang merah Rp 6.000 per kg turun dari pekan sebelumnya yang mencapai Rp 7.000 per kg. Harga cabai merah Rp 4.500 turun menjadi Rp 4.000 per kg. Daging Tetap Untuk harga daging sapi ataupun ayam potong di Pasaraya I selama sepekan ini juga tidak mengalami perubahan harga. Satu kilogram daging sapi kelas II seharga Rp 35.000. Adapun untuk daging super harganya mencapai Rp 45.000 per kg. Sementara itu, harga ayam potong berkisar antara Rp 14.000 dan Rp 15.000 per kilogram. ''Kalau pada akhir Agustus sampai awal September lalu, harganya bagus untuk yang kelas II bisa Rp 40.000 per kg. Saat itu banyak yang memiliki hajat,'' tutur Retno Suhartini, salah seorang pedagang daging sapi. (dky-16v) |