| Sabtu, 30 September 2006 | SEMARANG |
Kemarau Perlu Disikapi dengan Sabar dan TawakalBUPATI Grobogan H Bambang Pudjiono mengatakan, musim kemarau berkepanjangan perlu disikapi dengan sabar dan tawakal. Namun harus tetap ikhtiar (berusaha). Sebab hal itu merupakan peristiwa alam yang tak mampu diubah dengan kekuatan manusia ataupun teknologi. Memang, teknologi ada yang mampu membuat hujan buatan. Namun hal itu tidak bisa merata di semua daerah, hanya di tempat-tempat tertentu. Itu pun setiap satu kali hujan buatan menghabiskan dana ratusan juta rupiah. Bupati menuturkan, kekeringan menyebabkan mengerasnya tanah-tanah persawahan dan selalu terjadi dalam setiap tahunnya. Karena itu, setiap musim kemarau datang, ribuan petani tadah hujan di Pulokulon, Kradenan, Gabus, Ngaringan, Wirosari, Tawangharjo, Grobogan, Brati, Geyer, Kedungjati, dan sekitarnya, menganggur akibat tanahnya tak dapat diolah karena mengeras. Mereka juga kesulitan mencari air bersih untuk keperluan sehari-hari. Sebab sumur-sumur penduduk dan sungai-sungai di dekat area permukiman mereka mengering. Sementara air untuk minum, mandi, dan mencuci umumnya didapatkan di sendang yang jauh dari permukiman penduduk. ''Grobogan dikenal sebagai daerah sulit. Yaitu saat penghujan, penduduknya tak bisa dodok (duduk) karena terus-menerus banjir. Sebaliknya bila kemarau, tidak bisa cebok karena air sulit didapat,'' urai Bupati, yang asli Plosorejo, Tawangharjo. Anak mantan lurah desa itu mengaku sejak kecil sampai menjadi orang penting di Grobogan, istilah tersebut masih didapati di desa-desa yang dilanda kekeringan. Terutama di wilayah beberapa kecamatan tersebut. Bupati mengakui, laporan yang masuk ke Bagian Sosial dari camat-camat yang daerahnya mengalami kemarau berkepanjangan, ada sekitar 109 desa betul-betul kekeringan. Bahkan, belakangan ini kekeringan itu meluas ke desa-desa lain. Sebab, sawah di desa-desa tersebut tidak dapat diolah untuk ditanami berbagai jenis tanaman pertanian. Mengingat, tanah sawah itu dalam keadaan membatu. (Syamsul Huda-16s) |