logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 September 2006 SEMARANG
Line

PASANAN

Santri Bertanggung Jawab pada Diri Sendiri

SIANG hari bagi santri Pondok Pesantren Al Ibriz merupakan waktu bebas dari rutinitas kegiatan belajar ilmu agama. Karena itu, mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan berbagai aktivitas hiburan, salah satunya adalah bermain tenis meja.

Memang tak seberapa luas tempatnya karena hanya merupakan sisa tempat antara mushala dan sumur. Itu pun hanya tersedia satu meja. Karena itu, mereka harus bergiliran untuk bisa mengayun bet. Santri yang pada umumnya para mahasiswa di berbagai perguruan tinggi itu pun bisa melepaskan penatnya.

Dilihat dari luar, bangunan pesantren yang berlokasi di Jl Majapahit 248 tersebut tak tampak sebagai tempat menimba ilmu agama. Hanya sebuah papan nama yang dipasang di depan sebagai penanda. Lokasinya tak sulit untuk dicari karena berada di tengah keramaian pusat kota dengan lalu lintas yang padat. Begitu memasuki kompleks itu, aura pesantren segera terlihat, terutama dari keriuhan aktivitas 50 santri putra dan putri.

Seperti pesantren yang lain, pondok yang didirikan KH Shonhaji Abdullah (alm) pada tahun 1980 itu juga mengajarkan kitab-kitab ilmu salaf seusai shalat-shalat fardu. Pada masa Ramadan ini diajarkan pula materi-materi lain yang juga sudah terkenal, seperti Kitab Qurrata Uyun, Usaudah, Taisirul Khalaq, dan Sulam Taufiq.

Diharapkan kajian kitab tersebut dapat diselesaikan pada hari ke-20 Ramadan. ''Meski jadwal kajian ini terbilang padat, santri bisa menyesuaikan untuk mengikutinya. Hal ini tak lepas dari status para santri yang kebanyakan para mahasiswa yang juga memiliki kesibukan lain di kampusnya,'' kata Ustad Abdullah Rikza, pengasuh pondok tersebut.

Beri Laporan

Fleksibilitas pembelajaran pesantren itu bukan berarti santri bisa bertindak sebebas-bebasnya hingga di luar kontrol. Bagaimanapun, mereka tetap harus mengikuti materi yang diberikan sesuai dengan jadwal. Apabila mereka berhalangan untuk mengikuti majelis, santri wajib memberikan laporan kepada pengasuh atau pengurus pesantren.

Menurut Rikza, fleksibilitas itu justru mendorong santri untuk lebih bertanggung jawab pada diri sendiri. Santri harus bisa mengatur waktu kuliah, mengaji, dan kebutuhan pribadi. Selama ini hal tersebut memang tak menjadi kendala. Namun, modernisme kota tak bisa dimungkiri memengaruhi kehidupan mereka.

Lokasi pesantren yang dekat dengan berbagai pusat keramaian, seperti mal, setidaknya mewarnai gaya hidup mereka, meski sebenarnya ia mengakui gaya hidup modern itu bukan sebagai hal yang tabu bagi santri.

''Fenomena ponsel, misalnya. Bila dahulu hubungan santri putra dan putri di lingkungan pesantren sangat terbatas, kini dengan adanya alat itu mereka dengan mudahnya mengirimkan pesan singkat atau SMS. Kami tidak bisa melarang antarsantri putra dan putri melakukan hal itu. Namun, kami hanya mengingatkan, bertindaklah terhadap segala sesuatu yang baik dan mendatangkan manfaat, jangan menghambur-hamburkan pulsa,'' katanya. (Moh Anhar, Abduh Imanulhaq-18n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA