| Sabtu, 30 September 2006 | SEMARANG |
Rp 20 Juta untuk Pemantauan Bahan PokokBALAI KOTA - Keinginan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk memperketat pemantauan pasokan bahan pokok ke gudang-gudang dan pasar diminta tak sekadar isapan jempol. Mereka harus bertindak serius karena dalam APBD, Pemkot telah menganggarkan biaya pemantauan Rp 20 juta. ''Dana itu saat ini ada di Bagian Perekonomian Pemkot, semestinya bisa dimaksimalkan melalui kerja sama dengan Disperindag. Kesiapan ini bagian dari tugas pemerintah,'' ujar Ari Purbono, anggota Komisi B DPRD Kota Semarang yang membidangi keuangan, anggaran, dan ekonomi, kemarin. Dia mengatakan, kegiatan pemantauan yang dilakukan Bagian Ekonomi semestinya jangan hanya formalitas, tetapi dijadwalkan setiap hari sehingga kenaikan harga di lapangan dapat dikendalikan sedini mungkin. Batas maksimal kenaikan harga yang masih dianggap wajar, kata dia, umumnya pada kisaran 10% pada saat Lebaran. Di lapangan, Bagian Perekonomian harus mampu mengoordinasikan instansi-instansi terkait, yakni Dinas Pasar, Disperindag, dan Dinas Pertanian. Keterlibatan Dinas Pertanian itu perlu untuk mengantisipasi masuknya daging glonggongan ke pasaran. Karena tingginya kebutuhan, dia khawatir daging yang masuk ke Semarang itu sulit dikontrol. ''Secara rutin, Disperindag selama ini memang melaporkan hasil pantauannya, tidak hanya bahan pokok, tapi juga tera ulang di SPBU. Meski sampai saat ini belum ada indikasi monopoli yang masuk, kontrol harus dilakukan secara rutin,'' katanya. Dikatakan pula, pihak DPRD dalam waktu dekat juga siap menggelar inspeksi ke lapangan. Upaya itu rutin dilakukan sebagaimana tahun-tahun lalu. Sebelumnya diberitakan, Disperindag melakukan pemantauan ketat terhadap gudang-gudang bahan kebutuhan pokok di Kota Semarang untuk mengantisipasi penimbunan selama Ramadan. Selain mengenakan kewajiban lapor, petugas juga mengawasi langsung ke lapangan. Kepala Disperindag Prijo Anggoro BR mengatakan, sejumlah tempat penyimpanan barang yang dipantau itu adalah gudang besar yang menjadi pemasok sebagian besar kebutuhan di kota itu. (H12,H9-18n) |