| Sabtu, 30 September 2006 | KEDU & DIY |
"Dengan Puasa Kita Menjadi Lebih Tegar"
UDARA dingin dini hari di Kota Wonosobo pada musim kemarau tidak menyurutkan langkah ratusan masyarakat "pinggiran" kota untuk mengikuti acara sahur dan dialog dengan Hj Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid. Sejak pukul 02.00, Jumat kemarin, mereka telah berdatangan ke Jl Resimen 18, lokasi sahur bersama. Para tukang ojek, tukang pikul, pengamen, perempuan tukang gendong atau buruh pasar, sejumlah loper koran, dan komunitas orang pinggiran lainnya antusias mengikuti dialog dengan mantan Ibu Negara itu. Mereka pun duduk lesehan di atas karpet di tengah jalan. Acara sahur bersama yang kali pertama dilaksanakan di kota pegunungan itu dihadiri Bupati Wonosobo Drs HA Kholiq Arif MSi, Wakil Bupati Drs H Muntohar MM, Sekda Drs H Joko Purnomo MM, pengurus Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa Indonesia (PSMTI) dan lainnya. Istri Gus Dur yang cukup kedinginan terhadap udara di Kota Wonosobo itu mengaku gembira bisa melaksanakan sahur bersama dengan kaum duafa. Hal semacam itu telah ia lakukan sejak tujuh tahun silam, ketika dirinya masih berada di istana negara. Ny Sinta Nuriyah menilai Ramadan merupakan bulan yang penuh rakhmat dan maghfiroh atau ampunan. "Dengan berpuasa, kita menjadi lebih tegar, ulet, tanpa harus menjual harga diri. Ini jauh lebih mulia daripada mereka yang makan dan menggadaikan uang rakyat," tandas istri mantan Presiden RI yang disambut tepuk tangan hadirin. Mengenai sahur bersama, ia menilai bahwa kegiatan tersebut telah melampaui sekat budaya, RAS, ataupun politik. Hal itu semakin mempererat persaudaraan, memperkokoh persatuan. "Fitnah ditebar, rakyat diobrak-abrik karena keserakahan. Melalui ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah, dan ukhuwah wathoniyah, bangsa ini akan semakin kuat dan besar". Seusai sahur bersama dengan nasi bungkus, acara dilanjutkan dialog dengan masyarakat. Dialog berlangsung penuh semangat mengenai berbagai permasalahan yang menyangkut kesejahteraan masyarakat kecil. Gunawan, loper koran, meminta harga BBM diturunkan. Sebagai orang kecil, ia mengaku terkena imbas kenaikan harga BBM. Penurunan harga BBM itu bertujuan untuk menyejahterakan rakyat. Minta Perhatian Pemkab Alwan Ahsani, guru honorer MI Maarif Kliwonan mengungkapkan, sekolah tempatnya mengajar, luas tanahnya hanya 200 m2. Untuk menampung 234 murid, gedung MI Maarif dibangun tiga lantai. Untuk itu, dia berharap ada perhatian dari Pemkab Wonosobo. Tukang ojek, Slamet, mengatakan, sebagai orang kecil, apa yang diperoleh pada hari itu untuk makan hari itu juga. Menanggapi keluhan orang pinggiran, istri Gus Dur itu meminta rakyat untuk tegar menghadapi kehidupan. Dengan dilandasi keuletan, jujur, dan niat yang kuat maka seseorang akan sukses dalam bekerja. Bupati Kholiq Arif mengaku, Pemkab memberikan perhatian besar pada sektor pendidikan. (Sudarman-39n) |