logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 September 2006 KEDU & DIY
Line

Semarak Ramadan

Bermain Mercon Bumbung Lupa Lapar

''AWAS-awas...bumbunge disumet lho,'' teriak anak-anak Kauman, Pandal, Bantul yang sedang bermain mercon bumbung menjelang buka puasa. Sebagian berlarian menjauhi bumbung dan lainnya hanya menutup telinga rapat-rapat dengan kedua telapak tangan.

Bummm! Terdengar ledakan cukup keras, bersamaan itu lepas pulalah tawa anak-anak belasan tahun tersebut. Bersorak, tepuk tangan diselingi canda membuat mereka lupa perut yang sudah tak terisi sejak sahur pagi tadi.

Ya, mereka mengisi hari-hari selama puasa dengan bermain mercon bumbung setiap sore menjelang saat buka tiba. Permainan tersebut sangat disukai anak-anak dan remaja dari masa ke masa. Cara membuatnya pun cukup mudah, bambu besar diberi lubang di bagian atas kemudian diisi karbit atau minyak tanah lantas disulut.

Keras lemahnya ledakan tergantung pada ukuran bambu. Makin besar, suara yang dimunculkan makin keras. Sebaliknya, ukuran bambu kecil hanya menciptakan suara lemah, tidak sebesar bumbung besar. Kerasnya ledakan mampu membangunkan orang yang sedang terlelap tidur dalam radius cukup jauh.

Karena itu biasanya anak-anak mencari lokasi bermain agak menjauh dari perumahan, misalnya di tanah lapang atau kebun. Tradisi ngabuburit ala Desa Kauman ini sudah berlangsung cukup lama. Bahkan menurut penuturan warga setempat, Jamal, mercon bumbung sudah dimainkan ketika dia belum lahir menurut penuturan ayah dan kakeknya dulu.

Hilangkan Lapar dan Dahaga

Meskipun suara dari bumbung sangat berisik, namun anak-anak sangat menyukainya. Bagi mereka, keasyikan tersendiri bisa menunggu buka sambil menyulut mercon berkali-kali. ''Asyik dong...kita jadi konsentrasi ke permainan, lupa lapar dan dahaga,'' tutur Fahri.

Permainan tersebut kadang bisa membahayakan karena percikan api dan lontaran bambu akibat kerasnya ledakan. Beberapa kali anak-anak terluka namun mereka tetap saja melakukan lagi seakan tak pernah jemu.

''Saya dulu pernah kena ledakannya tapi nggak apa-apa. Hanya kebakar alis dan muka jadi hitam..hehehe...'' ujarnya terkekeh.

''Warga sini tidak ada yang protes karena memang permainan lama dan sudah biasa,'' tutur Rutihah yang diselingi tawa kecil.

Selain tradisi tersebut masyarakat Kauman mempunyai kebiasaan unik, makan bubur di masjid setempat ketika berbuka puasa. Ah...kebisingan mendengar suara mercon terobati saat adzan penanda buka terdengar dan mereka segera menyantap bubur. (Agung PW-39)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA