| Kamis, 28 September 2006 | WACANA |
Debat: Pejabat dan Semangat RamadanAllah Tak Memandang Status
RAMADAN adalah bulan evaluasi diri, juga bulan penuh ampunan. Saat ini kita telah memasuki bulan yang didalarnnya berisi banyak keutamaan dan ampunan, sehingga semua umat rnuslim di seluruh pelosok dunia menyosongnya dengan penuh suka cita. Semuanya ingin rnendapatkan pahala yang terkandung di dalamnya. Sehingga tidak mengherankan kalau umat muslim banyak melakukan kegiatan-kegiatan ritual (ibadah) seperti berpuasa dan salat tarawih berjamaah. Di kalangan selebritis, Ramadan seringkali dijadikan sebagai ''bulan metamorfosa''. Kalau biasanya tampil seksi, dengan mengumbar aurat, tiba-tiba (terlihat) menjadi saleh dan tampil tertutup. Begitu juga dengan para penguasa baik di pusat maupun daerah. Mereka pun ikut aktif dan berperan serta dalarn berbagai kegiatan keagamaan. Tetapi sayang, seribu sayang. Seringkali apa yang mereka lakukan itu hanyalah sebatas aktivitas dan ritual seremonial semata, tanpa diikuti dengan perubahan dalam sikap dan tingkah laku. Ini akan terlihat setelah Ramadan berlalu. Dalam berpolitik, mereka kembali menghalalkan segala macam cara demi meraih kepentingan pribadi atau kelompoknya. Mereka telah lupa dengan tugas dan amanah yang diberikan kepadanya, yaitu demi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat atau rakyat banyak. Mungkin saja mereka belum tahu (ataukah tidak mau tahu?) dengan tujuan akhir kita berpuasa. Puasa di bulan Ramadan bertujuan untuk membentuk ketakwaan dalam diri setiap muslim (Al-Baqarah:183) Takwa yang sebenarnya hanya tunduk kepada perintahNya, dan menjahui larangan-larangan-Nya, dengan menjalankan hukum serta aturan-aturan-Nya. Ketakwaan itu mesti tercerrnin dalam setiap tingkah laku perbuatan dan ucapan, sehingga setelah Ramadan mereka dilahirkan kembali sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana, serta bisa mengayomi dan menyejahterakan rakyatnya. Sebab takwa bukan sekadar berupa ucapan atau tulisan, tetapi ditunjukkan dengan lisan, hati dan perbuatan. Karena itu, marilah kita jadikan momen puasa Ramadan tahun ini dengan semangat menjalankan ritual (ibadah), dengan penuh semangat istiqamah dan keikhlasan. Karena dalam beribadah, Allah tidak pernah memandang status orang itu: apakah pejabat negara, pejabat daerah, atau rakyat jelata. Allah hanya melihat hamba-Nya dari sisi ketakwaan saja. (32) |