| Jumat, 22 September 2006 | WACANA |
Surat PembacaDugderanDi Semarang setiap menjelang puasa punya tradisi dugder. Entah kenapa disebut seperti itu. Mungkin bunyi bedug masjid dan diikuti tradisi bunyi mercon. Jadilah dug dan der. Dugder dulu menempati wilayah aloon-aloon Kanjengan. Berhubung areal sempit yang menyebabkan kemacetan maka dipindah di polder Tawang. Di bundaran danau buatan ini kalau dipotret dari udara kelihatan aduhai. Apalagi berjajar prau di pinggir polder. Orang bule pasti akan kagum menyangka di Vennesia lengkap dengan gondala. Keindahannya bukan hanya sampai di situ. Stasiun Tawang dengan berseliweran kereta api jika di-shooting dari helikopter, lengkaplah panorama keindahannya. Warak ngendog ciri khas setiap dugder sepertinya tenggelam di telan zaman. Para pedagang sekarang beralih menjual celengan besar berbentuk macan, sapi, semar dan lainnya. Gerabah ini sebenarnya untuk melatih anak gemar menabung. Tapi berhubung tradisi kencangkan ikat pinggang, nasibnya hanya teronggok di sudut ruang. Atau di dalam cor semen dan ditempatkan di kanan-kiri jalan masuk kampung. Lain halnya dengan mainan cobek dari tanah liat. Dibuat untuk melatih anak perempuan gemar memasak. Untuk menaikkan pamor warak ngendok diadakan lomba membuat binatang tersebut bagi masyarakat umum. Menilik bentuknya, warak ini sebenarnya jenis species binatang apa. Kepala naga tapi tubuh mirip kuda. Mungkin ini peninggalan China dulu ketika berlayar di pelabuhan Semarang. Ada keluhan pedagang yaitu menjelang malam dipalak preman. Mestinya segi keamanan lebih dikedepankan sebab ini nguri-nguri tradisi. Bertambahnya pedagang tidak menambah makin macetnya pengguna jalan. Selamat berdugder dan bergasingria. Agus Eko Santosa Pondok R Patah Blok K1/21, Demak *** Soal Bonus Indosat Sehubungan Surat Pembaca saya yang dimuat 14 September 2006 tentang bonus pulsa isi ulang Mentari 10%, pihak Indosat langsung memberi tanggapan dengan datang ke rumah saya untuk klarifikasi. Saya ucapkan terima kasih atas respon yang cepat dalam menanggapi keluhan pelanggan Murdianto Kayen Rt 1/Rw 1 Kayen, Pati *** Petani "Mati Kutu" Kalau tak salah, filosof legendaris asal Yunani, Plato pernah mengatakan : "Pekerjaan yang paling mulia di muka bumi ini adalah menjadi petani ". Pendapat tersebut mungkin sangat logis. Sebab, lewat jasa tangan-tangan terampil petani, semua bisa makan. Namun sayang nasib kaum bercocok tanam ini selalu terlunta-lunta. Padahal, andaikan kelompok yang bergelut di bidang agrikultur tersebut tak lagi mengayunkan cangkul dan sabit, mangkir ke sawah atau melancarkan aksi "mogok tanam", pasti bencana kelaparan akan mengancam. Kita sering bersikap ambivalensi terhadap para petani, dilecehkan tetapi sekaligus dibutuhkan. Sebagai bukti tak pernah ada kebijakan yang sifatnya melindungi/menguntungkan dan menyejahterakan para petani. Andaikan ada hanya sebatas jargon, retorika dan pemanis bibir yang meluncur dari "mulut berbusa" para politisi terutama saat kampanye. Apalagi kini petani dibebani pembengkakan biaya produksi. Di antaranya harga bibit, pertisida, herbisida dan pupuk yang mahal dan masih sering menghilang dari pasaran. Tapi di saat petani menuai panen raya, harga produknya justru "dibanting". Sudah terlalu lama petani menjadi bulan-bulanan kelompok borjuis alias kapitalis. Be1um hilang dari ingatan ketika para petani Brebes membuang bawang merah 15 kuintal ke jalan raya, setelah harganya terjun bebas menjadi Rp. 2000/Kg yang dulunya berkisar Rp 6.500 s.d Rp 7.500. Ini sebagai ekspresi letupan kemarahan mereka. Petani tembakau di kawasan Gunung Perahu, Sindoro dan Sumbing "mogok tanam tembakau" sehingga produknya tahun ini turun 40%. Ini dilakukan setelah hampir 5 tahun terus menerus harga tembakau terjun bebas ke dasar jurang. Yang terakhir, rencana pemerintah impor beras 210 ribu ton yang mengakibatkan harga beras dalam negeri terancam jatuh. Padahal di beberapa provinsi mengalami surplus beras. Namun dengan enteng pemerintah berdalih demi mengamankan stok pangan nasional yang sebenarnya hanya menguntungkan para importir. Kapan para petinggi negeri ini melindungi dan berpihak kepada petani ?. Atau memang petani dibikin makin "mati kutu" alias tak berdaya menghadapi kedigdayaan para kapitalis serakah. S Joko Wiyono Sudagaran Rt 5/Rw 1,Sukorejo *** Tentang Komplain XL Sehubungan surat saya yang dimuat 5 September 2006 mengenai komplain terhadap Iayanan XL, dengan ini saya beritahukan bahwa pihak XL telah menyelesaikan permasalah tersebut secara baik. Saya ucapkan terima kasih dan permasalahan telah selesai. Renny Hidayati Jl Moh Yamin III/2, Putwokerto Resep Air Minum Bersih Kualitas air kini makin lama makin buruk akibat lingkungan yang tidak mendukung. Saya punya resep khusus untuk mendapatkan air yang betul-betul bersih dan higienis. Sebenarnya tidak susah mendapatkan air bersih jika tahu cara dan sistem pengolahan air. Hal ini dibuktikan dengan alat tertentu sehingga kebersihan air terjamin. Bahkan saya menjamin air yang dihasilkan bisa 99,99% air murni, jernih dan higienis. Saya menjamin hasil air akan lebih bersih dari air minum dalam kemasan dan dapat langsung diminum tanpa dimasak. Biaya yang diperlukan relatif murah, sekiutar Rp 3 juta. Silakan hubungi (024-70296326/0811277856). Jauhari Siswa SMPN 1 Mranggen, Demak *** Kecewa Kantor Pos Pada 2 Februari 2006 kakak di Malaysia mengirim uang dan memberi PIN padaku. Hari itu juga aku ke kantor Pos tapi ternyata yang dikirim bukan no PIN. Aku disuruh ke kantor Pos Besar namun jawabannya sama: Karena nomor PIN hanya terdiri dari 10 digit, aku telepon kakak yang langsung tanya ke kantor pos pengirim. Ternyata uang dikirim via wesel. Kakak telepon balik dan aku disuruh menunggu 1 bulan. Dua bulan berlalu. wesel tetap tidak muncul hingga April. Aku menanyakan lagi ke kakak, namun katanya diblokir, bisa diambil pada bulan Juni 2006. Setelah bulan Juni ke kantor Pos di Malaysia tapi disuruh menunggu jawaban dari kantor Pos Indonesia. Ternyata dapat jawaban, wesel tersebut telah diterima tanggal 22 Februari 2006. Aku disuruh menanyakan ke kantor pos di sini. Bulan Juli aku konfirmasi ke kantor Pos Besar Pekalongan tapi dicari tidak ketemu. Aku disuruh telepon kakak lagi untuk menanyakan wesel jenis apa. dapat jawaban wesel jenis biasa. Aku disuruh menunggu jawaban lagi 2 minggu. Saat saya telepon 3 minggu berikutnya mendapat jawaban "pokoknya wesel sudah diterima, ya sudah tidak ada rnasalah". Saya tanya siapa yang terima, dengan agak kasar dijawab tidak tahu. Kalau sudah diterima, ya sudah. Padahal saya belum pernah menerima. Bagi saya meski tidak begitu banyak, tetapi itu hasil jerih payah kakakku. Pada siapa lagi aku harus menanyakan. Inikah semboyan " Untuk Anda Kami Ada " Di mana tanggung jawabnya. Mohon perhatian semua pihak. Indanah Pungangan Rt 1/Rw 3 Limpung, Batang *** Kenaikan Tarif PDAM Juwana Memberatkan Terhitung mulai Agustus 2006 (dibayar September tarip PDAM Juwana dinaikkan. Di antara V klasifikasi kelompok pelanggan, saya termasuk kelompok II atau golongan rumah tangga IA. Rincian kenaikan sbb : Penggunaan air s.d 10 M3 pertama seharga Rp 17.500, dana pemeliharaan meter Rp 5.000, administrasi/meterai Rp 500. Jumlah rupiah yang harus saya bayar Rp 24.000 (fotokopi terlampir) atau terjadi kenaikan sebesar 150% lebih bila dibandingkan dengan pembayaran bulan sebelumnya sebesar Rp 9.500 (fotokopi terlampir). Air memang kebutuhan sangat penting, namun jangan dijadikan alasan untuk menaikkan tarip seenaknya. Sebab jelas memberatkan pelanggan tidak mampu. Selain itu waktunya pun tidak tepat mengingat sejak harga BBM dinaikkan,hampir semua bidang usaha masyarakat Juwana mengalami kelesuan luar biasa. Karenanya kenaikan tarip air minum perlu ditinjau lagi. Coba perhitungkan cermat agar tidak menyusahkan pelanggan. Kalau memang sudah tak mungkin dibatalkan atau ditunda, silakan dinaikkan asalkan tidak melebihi 50% dari tarip semula. Kani Wicaksana Jl Sunan Ngerang 182 Juwana |