| Jumat, 22 September 2006 | KEDU & DIY |
''Sawah Bisa Jadi Ladang Kering''KETUA BPD Wonokerso, Warsono, mengatakan, saat ini mata air Siaji telah dimanfaatkan untuk mengairi 200-an hektare sawah milik sekitar 400 keluarga di Desa Wonokerso dan Nampirejo, Temanggung. Selain itu juga dimanfaatkan lebih kurang 1.000 keluarga di dua desa itu untuk kegiatan sehari-hari, seperti mandi, cuci, dan kakus (MCK) serta kolam perikanan. Pada musim kemarau seperti saat ini, mata air Siaji menyusut sehingga dam yang dialiri juga kerin. ''Karena itu, kalau sampai dijadikan sumber air bagi PDAM, dipastikan sawah kami akan menjadi ladang kering dan warga pun akan kekurangan air,'' ucapnya. ''Saat ini untuk mengairi sawah saja, warga sudah harus bergiliran. Dan, untuk menunggu giliran dialiri itu harus menunggu hingga dua minggu,'' ujarnya. Dia mengungkapkan, warga menyadari air itu memang milik negara namun dalam penggunaannya seharusnya dimanfaatkan bagi kepentingan rakyat. Bila untuk sumber air PDAM maka orientasinya adalah untuk mendapatkan keuntungan perusahaan dan bukan bagi kesejahteraan rakyat lagi. ''Ini ironis. Apalagi, mata air itu telah menjadi juara dalam lomba kelestarian mata air yang diadakan Paguyuban Darma Tirta Provinsi. Apakah kelestarian itu malah akan dirusak?'' Sementara itu, Direktur PDAM Sugihartoyo menandaskan, dirinya memang diminta Pemkab untuk mencari sumber mata air. Sementara itu, soal mata air Siaji baru dalam tahap wacana. Karena itu, ditindaklanjuti dengan survei kelayakan debit air jika digunakan sebagai sumber air PDAM. ''Namun ketika kami akan menjelaskan hal itu tadi, warga tidak memberikan kesempatan. Seolah-olah mata air ini telah pasti dijadikan sumber air PDAM,'' ucapnya. Padahal, menurutnya, PDAM tidak akan memaksakan kalau memang tidak layak dan dinilai merugikan warga sekitar. Mengenai kejadian itu, dia akan membuat laporannya kepada Wakil Bupati sekaligus mengonsultasikan tindak lanjutnya. ''Sebab, PDAM kan badan usaha milik Pemkab.'' (Henry Sofyan-39j) |