logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 22 September 2006 BANYUMAS
Line

Keuntungan Tanam Karet Menarik Warga

PURBALINGGA - Keuntungan menanam karet yang diperoleh warga Desa Baleraksa, Kecamatan Karangmoncol menarik warga Desa Karangasem, Kecamatan Kertanegara. Saat ini harga jual karet alam itu Rp 4.500/kg. Setiap pohon yang disadap menghasilkan 1-2 ons getah. Petani mampu memproduksi 1,5 ton/bulan sehingga keuntungan yang diperoleh Rp 6,75 juta/bulan.

Soal pemasaran petani Baleraksa juga tidak bingung. Sebab, pembeli datang sendiri ke desa untuk membeli produk mentah tersebut. Karena itulah, sejak beberapa bulan lalu 300-an warga Karangasem ikut-ikutan menanam karet. Sebagian petani membeli benih karet dari petani Baleraksa.

"Karena itu, jika usaha penanaman karet ini sukses, kami warga Karangasem tidak akan ada lagi yang mengaku miskin dan minta-minta raskin atau antre untuk mendapatkan subsidi langsung tunai. Bahkan, bisa-bisa raskin kami tolak," ungkap Kepala Desa Suwarto, kemarin.

Ketua Kelompok Tani Karet Karindo Sugeng mengakui, saat ini kelompoknya sedang menikmati kenaikan harga jual karet alam akibat semakin tingginya harga karet sintetis sebagai dampak kenaikan harga BBM. Pohon karet yang ditanam di wilayah itu sekitar 20.000 batang.

"Tanaman karet dari biji, setiap pohonnya menghasilkan getah sekitar satu ons. Sementara itu, tanaman dari hasil okulasi hasilnya dua ons. Umur tanaman dari biji mulai menghasilkan getah sekitar enam tahun sedangkan dari okulasi sekitar empat tahun. Pemasaran saat ini tidak sulit karena pembeli datang sendiri ke desa," paparnya.

Secara Tempo

Kesuksesan warga Baleraksa itu justru bermula dari keprihatinan. Sebelumnya, banyak warga desa yang merantau bekerja di perkebunan karet di Sumatra. Karena itu, pendidikan anak-anak mereka diserahkan hanya kepada ibunya. Padahal, anak juga membutuhkan kehadiran bapak.

Karena itu muncul pemikiran, daripada merantau menjadi buruh penyadap karet, mengapa tidak menanam sendiri di desa. Pada 1999, warga membeli 1.00.050 kg biji karet untuk disemaikan di Baleraksa. Hasil persemaian itu dijual kepada masyarakat yang membeli secara tempo.

"Karena belum banyak yang tahu teknis budi daya karet, warga lalu meminta bantuan pengetahuan teknis dan pelatihan ke Dinas Perkebunan Cabang. Selanjutnya, warga yang bernaung di bawah Koperasi Karet Rakyat Indonesia itu juga melakukan studi banding ke perkebunan karet di Cilacap," paparnya.

Setelah melihat perbedaan hasil yang mencolok antara penanaman karet dari biji dan okulasi, petani sekarang lebih menginginkan mengembangkan karet dari okulasi. Namun, mereka terkendala harga bibit okulasi yang mahal. "Karena itu kami berharap, bantuan Pemkab baik pemberian bantuan dana maupun bibitnya saja" kata Sugeng. (F10-42j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA