| Kamis, 21 September 2006 | WACANA |
Debat: Pejabat dan Semangat RamadanJangan untuk Kampanye
Setiap Ramadan tiba, dengan mudah kita bisa menjumpai ruh-ruh islami di sekitar kita. Di masjid, yang biasanya sepi pengunjung, tiba-tiba mengalami peningkatan jumlah jamaah yang fantastis. Di kantor-kantor, kampus-kampus dan sekolah-sekolah pun digelar berbagai kegiatan Islami, semisal majelis taklim. Stasiun televisi pun ikut-ikutan menggelar berbagai kegiatan Islami, seperti memberi ruang lebih untuk acara-acara religi. Itulah nuansa Islami yang dapat kita saksikan di bulan Ramadan. Di Bulan Suci, kaum muslimin seakan-akan menemukan kembali fitrah dirinya. Mereka berbondong-bondong mende-katkan diri kepada Allah SWT. Semangat keislaman mereka tumbuh. Tidak hanya dengan puasa saja mereka beribadah. Lebih dari itu, juga menjalankan ibadah lain yang bersifat sosial (horisontal). Kita bisa menyaksikan nuansa itu di lembaga-lembaga sosial semacam panti asuhan yatim-piatu, anak jalanan, panti jompo, dan lainnya. Karena keutamaan Rama-dan, kaum muslimin berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik di hadapan Allah. Para artis yang biasanya bergaya hidup glamor dan hedonis, tiba-tiba menjadi sosok yang saleh dan taat beribadah. Begitu pun dengan para pejabat kita. Pada bulan itu, mereka banyak menggelar acara-acara yang bersifat religi. Semisal tarawih keliling dan buka bersama yang tak jarang melibatkan para ulama dan tokoh masyarakat sekitar. Alhamdulillah jika mereka memaknai Ramadan sebagai momentum untuk mengukur ketakwaan kepada Allah SWT (Al-Baqarah:183). Arti-nya, Ramadan dimaknai sebagai bulan muhasabah (evaluasi diri). Dan, naudzubillah (mohon perlindungan Allah) apabila Ramadan dipahami sebagai media untuk menyebarkan sayap politik mereka. Bila yang terjadi demikian, jangan harap semangat Ramadan akan tetap menyala. Sebab Ramadlan bagi mereka hanyalah untuk mengampanyekan diri. Maka, ikhlas merupakan kata kunci agar semangat Ramadan tetap menyala. Mengapa? Karena di sana terpendam aura kerelaan paling dalam. Ihlas demi mendapat ridloNya, bukan sekadar pahala. (32) |