logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 September 2006 WACANA
Line

Debat: Pejabat dan Semangat Ramadan

Momen Reses dan Islah

  • Oleh Heni Purwono

''KAMU agamanya apa?'' tanya seorang ''calon'' penolong korban kecelakaan. ''Islam,'' jawab si korban. ''Islamnya NU atau Muhammadiyah?'' ''NU!,'' jawab si korban mantap. ''NU-nya PKB apa PPP,'' timpal si penolong lagi. "PKB!" ''Nah, PKB Muhaimin atau PKB Alwi Shihab?" Belum sempat menjawab, si korban pun keburu tewas tak tertolong.

Itulah sekelumit joke tentang kondisi umat dan bangsa kita pada saat ini. Bahkan untuk menolong seseorang pun, mesti pilih-pilih latar belakang orang yang ditolongnya: Pun demikian di bulan Ramadan, bulan yang mestinya menjadikan kita peka untuk berbagi terhadap sesama tanpa pandang bulu, rasanya sering dijadikan sebagai bulan pilih-pilih dalam beramal bagi sebagian pejabat.

Tak jarang kita melihat para pejabat menjadikan bulan ini sebagai bulan reses mereka untuk konsolidasi dengan kader dan konstituennya., sehingga pilah-pilih silaturahmi begitu kentara. Bahkan tak jarang juga kita melihat adanya keujuban politik, di mana antara mantan kontestan pilkada saling melengos.

Sungguh budaya yang sangat memalukan, dan jauh dari cermin masyarakat rnadani: Namun kenyataan memang berkata demikian, sehingga filosofi blangkon yang mondolan-nya di belakang kepala menjadi philoshophie of gronslag dalam jiwa pribadi bangsa kita.

Sesungguhnya jika kita mau sadar dan peduli, Ramadan merupakan momen yang paling tepat untuk reses para anggota parlemen kepada konstituennya. Pun demikian tidak seharusnya mereka abai terhadap kompetitornya, lebih-lebih rakyat banyak. Demikian juga yang saling sulayan dalam eksekutif maupun yang masih terjangkit virus-virus benci dalam elit-elit pejabat politik, terlebih pascapilkada.

Seharusnya mereka menjadikan momentum Ramadan sebagai wahana islah politik, supaya para kader dan simpatisannya juga merasakan ketenteraman dalam bulan mulia ini. Dengan demikian mereka bisa beribadah dengan tenang dan khusyu.

Sudah saatnya sekarang, momentum relijius dijadikan sarana stabilisasi politik, khu-susnya terkait konflik-konflik kepentingan politik. Namun mesti diingat juga, jangan sampai Ramadan kali ini dijadikan seperti tahun lalu, sebagai momen untuk meminimalisir (baca: membungkam) protes rakyat terhadap kebijakan tidak populis pemerintah; yaitu menaikan harga BBM hingga hampir 100 persen. Naudzubillah, tsumma naudzubillah. (32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA