| Kamis, 21 September 2006 | WACANA |
Debat: Pejabat dan Semangat RamadanKeganjilan pada Bulan Ramadan
RAMADAN merupakan bulan yang sakral, juga bulan yang dinanti-nantikan kedatangannya. Dalam bulan ini umat Islam menjalankan ibadah puasa untuk meninggalkan hawa nafsu, keinginan, makanan, serta minumannya. Mereka juga melakukan amalan-amalan lain seperti salat tarawih, bersedekah kepada fakir miskin, berbuat baik kepada sesama, atau membayar zakat fitrah bagi yang mampu menjelang salat Idul Fitri. Tapi itu semua hanya simbolitas belaka dari Ramadan yang telah ''mendarah daging'', sehingga riskan untuk direfleksikan pada kehidupan sehari-hari, bahkan dalam bulan Ramadan itu sendiri. Ramadan telah menjadi suatu budaya konsurnerisme-materialistik, dan juga komoditas eksploitasi kapitalistik yang menggiurkan. Sungguh ganjil memang, Ramadan yang seharusnya disakralkan oleh umat Islam berubah menjadi sebuah gaya hidup yang hedonis. Semua elemen masyarakat, baik pejabat, artis, dan para hartawan berlomba-lomba mengadakan acara yang begitu glamour dan mewah. Hal itu semata hanya untuk mencari popularitas, penghormatan atau dukungan dalam sebuah kepentingan politik. Acara-acara semisal buka puasa bersama yang seharusnya diadakan dengan mengajak fakir-miskin atau anak yatim piatu justru dihadiri orang-orang selevel dengan mereka. Tidak main-main, acara pun diadakan di hotel mewah. Ada pula artis dan pejabat yang pada hari-hari biasa tak pernah menginjakkan kaki di panti asuhan, panti jompo, ataupun tempat rehabilitasi lainnya, namun perilakunya berubah total ketika memasuki bulan Ramadan. Mereka berusaha sesering mungkin mengunjungi tempat-tempat tersebut. Konsumerisme terlihat dengan meningkatnya daya beli dan perilaku konsumtif masyarakat. Di Indonesia, hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah dan perusahaan swasta untuk memberikan Tunjangan Hari Raya (THR ) kepada para pegawai atau karyawannya. Terjadi pula kenaikan harga dari semua sektor dari transportasi, makanan, minuman hingga kebutuhan sembako, sehingga tidak jarang tingkat inflasi pun mencapai titik tertinggi pada periode bulan ini. Selain itu, ada pula penyelenggaraan bazar baik yang disponsori pemerintah, swasta, organisasi tertentu, atau swadaya sendiri. Masyarakat pun, dengan alasan menghormati dan merayakan Ramadan, ber-bondong-bondong menghadiri bazar untuk menghamburkan anggarannya. Padahal masih banyak rakyat kelaparan, atau anak-anak telantar yang belum merasakan kebahagiaan. Sedangkan perilaku materialistik yang membudaya -terlihat dengan aneka makanan yang lezat, memakai baju baru, merenovasi rumah dan memberi angpao- telah menyedot anggaran yang berlipat-lipat melebihi hari biasa. Krisis ini timbul karena masyarakat telah melepas baju ketaqwaan -dalam Alquran, puasa ditujukan untuk memantapkan ketakwaan yang manusiawi. Ketakwaan merupakan something spiritual yang akan membentuk pribadi manusia yang percaya diri, bermoral dan berakhlak mulia. Pada akhirnya, puasa dan amalan bulan Ramadan harus dijalankan se-ikhlas-ikhlasnya, bukan kita berpuasa karena orang tua kita berpuasa atau karena orang lain berpuasa. (32) |