logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 September 2006 WACANA
Line

Undip Genap 49 Tahun

Angkat Kearifan Lokal lewat Penelitian

TANPA terasa, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang hampir berusia setengah abad. Pada 15 Oktober nanti, kampus ternama di Jateng ini genap berusia 49 tahun. Yang menarik adalah tema yang diangkat dalam peringatan dies natalis kali ini, yaitu ''Undip menuju universitas riset, meningkatkan daya saing bangsa, berbasis penjaminan mutu, dan berwawasan pembangunan wilayah pantai''.

Jargon memang mudah di-tuliskan dan diucapkan, tapi realita di lapangan akan menjadi pembuktian. Sampai seberapa jauh kesiapan Undip untuk me-wujudkan cita-cita sebagai universitas riset? Rektor Undip Prof Ir Eko Budihardjo MSc mengakui, selama ini Undip hanya sebagai education university. Yaitu universitas yang hanya mendidik mahasiswa tanpa me-lakukan riset-riset yang berguna bagi masyarakat.

''Jika terus seperti itu, maka pendidikan hanya seperti ilmu yang diawetkan saja. Kearifan-kearifan lokal harus dapat diangkat ke permukaan melalui penelitian-penelitian yang nantinya berguna bagi masyarakat,'' ujarnya.

Inilah yang melatarbelakangi keinginan untuk menjadikan Undip sebagai universitas riset. Dia menginginkan agar nantinya para dosen dapat terpacu untuk lebih memperbanyak penelitian secara ilmiah. Pengertian universitas riset adalah universitas yang mengedepankan penelitian-penelitian ilmiah, yang hasilnya dapat berguna bagi masyarakat. Makin banyak riset yang dilakukan para dosen, hasil-hasil penelitian dapat menjadi bahan untuk diberikan kepada mahasiswa. Sehingga pemikiran-pemikiran mahasiswa pun ma-kin maju dan terasah.

Untuk merintis obsesinya sebagai universitas riset, saat ini Undip lebih berkonsentrasi untuk program S2 dan S3. Makin banyak lulusan S2 dan S3, makin banyak pula penelitian yang akan dilakukan. Penelitian yang bagus akan dapat menghasilkan temuan-temuan bermakna yang minimal dapat dipublikasikan pada jurnal skala nasional, bahkan dunia. Hal ini akan sangat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang ada saat ini.

Menurut Prof Eko, kendala klasik yang ada saat ini adalah masalah dana dan sumber daya manusia (SDM) yang kurang kompeten. Namun pihaknya tetap optimistis untuk mencapai cita-cita tersebut. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang ada. Salah satunya me-rangkul pemerintah dalam segi pendanaan.

''Untuk masalah dana, kita mendapat pinjaman dari IDB sebesar 33 juta dolar AS dan dana pendamping pemerintah sebesar 7 juta dolar AS. Pinjaman dari IDB digunakan untuk pembangunan fisik, yaitu membangun gedung-gedung pascasarjana yang baru. Sedangkan dana dari pemerintah cukup untuk digunakan sebagai dana penelitian dan peningkatan SDM''.

Prof Eko menambahkan, peningkatan SDM dilakukan dengan cara memacu dosen S2 untuk mengambil program S3, sehingga mempunyai bekal baik untuk melakukan penelitian. ''Bahkan Undip juga mendanai dosen-dosen berprestasi untuk menempuh program S3 di luar negeri. Selain itu, kita juga bekerja sama dengan Bappenas dan perguruan tinggi di Prancis.''

Rangkaian peringatan Dies Natalis Ke-49 Undip sudah dimulai sejak 22 Juli lalu, dan ber-akhir pada 23 Oktober mendatang. ''Peringatan ini diselenggarakan mulai dari tingkat program studi, jurusan, fakultas, hingga tingkat universitas,'' kata Kepala Humas Undip Drs Adi Nugroho MSi.

Pihak universitas juga sudah membentuk kepanitiaan yang dipimpin Prof dr Noor Pramono MMedSc SpOG selaku ketua umum panitia. Kegiatan yang dilakukan meliputi pengabdian kepada masyarakat, seminar, lokakarya, simposium, olah raga, kesenian dan pameran. Kegiatan seminar pun menitikberatkan upaya mendukung Undip menuju universitas riset. (Dela Sulistiyawan Yunior-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA