| Kamis, 21 September 2006 | WACANA |
Menanti Teori Baru dari PascasarjanaSEORANG doktor harus menciptakan teori baru dalam disertasinya. Jika setiap tahun lahir 50 doktor, berarti tercipta 50 teori baru. Sayangnya, tidak semua program pascasarjana bermutu. Terbetik berita adanya praktik jual beli gelar doktor di sebuah PTN di Yogyakarta. Konsumennya para direktur BUMN yang merasa namanya menjadi lebih mentereng kalau diberi embel-embel doktor. Untuk membeli gelar itu, mereka rela merogoh kocek hingga Rp 600 juta. Sejauh ini, PTN yang dituding mengobral gelar doktor itu telah membentuk tim untuk menyelidiki kebenarannya. Hasil penyelidikan belum terang benar. Yang terang, praktik jual beli gelar di negeri ini bukan perkara baru. Baik yang secara nyata menjual gelar tanpa melalui proses kuliah, maupun yang menye-lenggarakan pembelajaran dengan kualitas tidak memenuhi standar. Menurut Direktur Program Pascasarjana IAIN Wa-lisongo, Dr Achmad Gunaryo, masyarakat Indonesia masih kental dengan budaya feodal. Budaya ini menjadi lahan persemaian subur bagi perilaku penghambaan terhadap gelar. Gelar dijadikan sumber penghasilan dan gengsi. ''Wajar kalau masyarakat berlomba-lomba memburu gelar. Berbeda dengan masyarakat di negara maju yang telah memiliki budaya egalitarian. Yang dihargai karya, bukan gelar,'' ujar doktor bidang hukum itu. Minat masyarakat untuk menempuh studi lanjut memang cukup besar. Namun karena populasi perguruan tinggi juga banyak, timbul persaingan ketat. Ujung-ujungnya, ada perguruan tinggi yang mendulang di air keruh, membuka program pascasarjana dengan kualitas asal-asalan. Ada pula yang membuka program pascasarjana dengan model kelas jarak jauh. Fenomena ini memang amat mengkhawatirkan. Sebab, seperti dikemukakan Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes) A Maryanto MA PhD, program pascasarjana diharapkan menjadi ajang pergulatan intelektual dan dialektika keilmuan. Di antaranya melalui hasil penelitian berupa tesis dan disertasi. Kredo yang selama ini berlaku, sarjana S1 diharapkan bisa memotret fenomena dalam masyarakat, lalu mengemasnya menjadi skripsi. Nah, mahasiswa program magister (S2) mengembangkan teori yang sudah ada. Sedangkan mahasiswa doktoral (S3) menciptakan teori baru. ''Harapannya, hasil penelitian berupa disertasi atau tesis memberi sumbangan yang bermakna bagi pengembangan ilmu pengetahuan,'' kata Maryanto. Tetapi dunia pendidikan di Indonesia masih berada pada masa transisi, sehingga belum berjalan pada rel yang semestinya. Persoalan dana dan budaya akademik yang rendah menjadi hambatan. Proses menuju peningkatan kualitas saat ini memang masih berlangsung. Di Jawa Tengah terdapat 12 program studi dengan jenjang S3 dan 91 program berjenjang S2. Kebanyakan dikelola perguruan tinggi negeri. (PTN). Hanya satu PTS yang mempunyai program doktoral, yakni Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Bahkan universitas ternama ini mempunyai dua program doktoral, yakni Program Studi (Prodi) Studi Pembangunan dan Sosiologi Agama. Untuk jenjang S2, populasi tertinggi adalah magister manajemen (MM), sebanyak 12 program, kemudian magister hukum (5). Sebanyak 58 prodi dikelola perguruan tinggi negeri, sedangkan 33 prodi dikelola perguruan tinggi swasta. Tidak Sulit Sebenarnya, persyaratan membuka program pascasarjana tak terlalu sulit. Menurut Kepala Bagian Administrasi Akademik Kopertis Wilayah VI, Hamdi Rahmat MM, persyaratan tersebut adalah memiliki program studi yang sama pada jenjang di bawahnya dengan akreditasi minimal B. Persyaratan lainnya sama dengan membuka prodi jenjang S1. Untuk tenaga pengajar, program magister harus mempunyai empat dosen minimal lulusan S2, ditambah dua do-sen dengan kualifikasi S3. Ini berbeda dari prodi jenjang S1, yang cukup memiliki minimal enam dosen (empat S1 dan dua S2). Karena kemudahan itu, jumlah program pascasarjana di Jateng relatif tinggi (103 prodi). Jumlah itu hampir seperenam dari populasi prodi S1 (646). Bisa dibayangkan, betapa ketat persaingan dalam memperebutkan mahasiswa pascasarjana. Hal ini juga diakui Direktur Program Magister Manajemen STIE Stikubank, Dr Bambang Suko Priyono SE MM. ''Pangsa pasar magister manajemen sebenarnya sangat besar. Program ini mendidik what manager do, bukan what manager is,'' ungkapnya. Karenanya, program ini bisa diikuti sarjana dari berbagai latar belakang ilmu. Tapi karena populasi program MM terlalu banyak, persaingan menjadi sangat ketat. Agar tetap bertahan di tengah persaingan, tambah Bambang, program pascasarjana harus berorientasi pada kualitas. Program Magister Manajemen STIE Stikubank saat ini memperoleh akreditasi B, yang berlaku hingga 2010. Dengan populasi yang besar, bagaimana kontribusi program pascasarjana bagi pengembangan ilmu pengetahuan? Gunaryo mengatakan, sebenarnya cukup banyak penelitian yang dihasilkan mahasiswa program magister dan doktoral. Namun tidak semuanya bisa dimanfaatkan untuk keperluan praktis. Apalagi bagi IAIN yang mendalami bidang ilmu agama, ''penemuan baru'' malah dapat menimbulkan kontroversi. Contohnya, Prof Dr Muhibbin MAg (IAIN Walisongo) pernah meneliti hadis yang mewajibkan wali nikah bagi mempelai perempuan. Ternyata tidak ada yang sahih. Artinya, mempelai perempuan tak wajib memiliki wali nikah. ''Itu merupakan penemuan baru di bidang agama, tapi tak mudah mengkomunikasikannya kepada masyarakat," ujarnya. Apa itu yang menyebabkan banyak tesis dan disertasi yang teronggok jadi kertas tua di perpustakaan? (Panji Satrio-32) |