logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 September 2006 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Kudeta Militer Terjadi Lagi di Thailand

- Kota Bangkok, Selasa malam, 19 September diguncang prahara. Kudeta militer untuk menggulingkan pemerintahan yang dipimpin PM Thaksin Shinawatra. Akankah berhasil kudeta kali ini? Belum tentu. Yang pasti terlihat adalah sejumlah kendaraan tempur menguasai Kota Bangkok dan sekitarnya. Paling tidak militer juga telah menguasai stasiun televisi dan radio. Belum diketahui persis bagaimana pandangan rakyat Thailand atas kudeta kali ini. Pihak Kerajaan juga belum mengeluarkan pernyataan berkaitan dengan masalah tersebut. Siapa dalang dari kudeta juga belum muncul secara jelas, tetapi ada dugaan kuat Letnan Jenderal Sonthi Boonyaratglin berada di balik tindakan ini.

- Thailand diguncang kudeta bukanlah sesuatu yang baru. Sudah sekian puluh kali Negeri gajah Putih itu selalu diguncang prahara. Setidaknya sudah 23 kali dalam 74 tahun terakhir militer melakukan kudeta. Mungkin militer Thailand memegang rekor tertinggi dalam urusan kudeta, yang seringkali berakhir sukses sekaligus juga tercatat beberapa kali gagal. ''Tradisi'' yang sama juga terjadi di Filipina meskipun dengan intensitas dan dampak yang berbeda. Latar belakang kudeta hampir selalu sama, yakni militer menganggap politisi sipil tidak becus mengelola negara, dan hanya menciptakan instabilitas politik yang tanpa henti. Akibatnya, rakyat dikorbankan hanya untuk melanggengkan kekuasaan.

- Apa yang terjadi di Thailand banyak terjadi di negara lain, baik di Afrika, Asia maupun di Amerika Latin. Sebagian dari negara-negara di tiga kawasan itu seolah ''memelihara'', tradisi buruk ketika mereka menganggap tidak memiliki jalan keluar yang elegan untuk keluar dari kemelut. Maksudnya, kemelut itu bisa datang dari masalah-masalah kenegaraan, pembagian kekuasaan, atau bahkan masalah pribadi di antara para pemimpinnya. Negara-negara yang sedang berkembang, di mana semua sistem kenegaraan masih belum menemukan bentuk yang solid, memungkinkan terjadinya gejolak seperti yang kita saksikan di Thailand tersebut. Yang terjadi, ternyata sistem yang demokratis saja tidaklah cukup.

- Semua berawal dari paradigma berpikir dalam mengelola negara. Militer di belahan dunia mana pun memiliki paradigma, sistem berpikir dan bertindak yang berbeda dengan politisi sipil. Militer cenderung bertindak lugas, sementara para politisi sipil terbiasa mengelola kekuasaan dengan cara-cara berbeda yang cenderung licik. Kedua kutub ini cenderung tidak bisa disatukan, kecuali melakukan masing-masing pihak melakukan kompromi atau bahkan kolaborasi. Politisi sipil yang berhasil adalah, politisi yang mampu mengelola militer tetap berada di koridornya tanpa melakukan gangguan, sementara dia sendiri merasa nyaman dan aman untuk konsolidasi dan mengamankan kekuasaan.

- Yang menarik dipelajari dari Thailand adalah, meskipun diguncang gempa, aktivitas di banyak hal tetap berlangsung seperti biasa. Perekonomian juga tetap berlangsung seperti biasa, hanya memang ada batasan keluar rumah pada malam hari. Artinya, kudeta hanyalah sebuah potret dari ''perkelahian'' elite yang tidak merambah ke akar rumput, dan rakyat tidak terlibat atau dilibatkan dari persoalan itu. Inilah yang membedakan dengan negara lain. Apakah ini diakibatkan oleh sudah cukup dewasanya rakyat, mapannya sistem kenegaraan, atau juga mungkin oleh pengaruh raja yang berwibawa. Toh, di gambar televisi kita menyaksikan tank-tank tempur berkeliaran berdampingan dengan kendaraan angkutan umum.

- Keadaan di Thailand seharusnya juga bisa dijadikan pelajaran penting bagi siapa pun, dan terutama tentu peringatan bagi para politisi sipil. Militer yang tidak sabar berada di tengah kemelut politik yang berkepanjangan bisa melakukan sesuatu karena soliditas mereka yang didukung dengan kekuatan peralatan yang memadai. Tetapi, kudeta bukanlah contoh yang baik bagi upaya mengendalikan negara, memecahkan konflik politik, dan juga bukan solusi baik di era demokrasi sekarang ini. Belum tentu mudah untuk mengembalikan militer Thailand kembali ke barak dalam waktu dekat. Peran Raja Bhumibol masih cukup dominan untuk mengembalikan keadaan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA