| Kamis, 21 September 2006 | NASIONAL |
Wawan: Saya Diajak MerampokSEMULA, saksi mahkota Wawan Suprihatin enggan berterus terang tentang kegiatannya selama di Pekalongan. Namun dengan kelihaian ketua majelis hakim Hoch Effendi Murad, akhirnya pria ini mengaku bahwa keberadaannya di Pekalongan selama tiga hari adalah untuk merampok toko ponsel. "Saya diajak teman Subur, bernama Tom, Jek, dan Andy, merampok di Jl Kemakmuran No 1 G, Kecamatan Pekalongan Utara. Saat itu, saya hanya di luar, jaga-jaga. Hasil rampokan kemudian dibawa Tom dan Jek. Saya kembali ke Semarang," katanya. Lelaki yang mengaku mengenal dan berguru kepada Subur sejak Februari 2005 itu akhirnya mengungkapkan, dirinya pernah diminta Subur untuk berangkat ke Batang pada September 2005. "Saya berangkat sendiri naik motor dari Semarang ke Batang untuk menemui Tom. Saya tidak kenal Tom, tapi ada petunjuk-petunjuk yang diberikan kepada saya sehingga akhirnya kami bisa bertemu," katanya dalam sidang perkara terdakwa terorisme Subur Sugiarto di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, kemarin. Dari Batang, mereka kemudian menuju Pekalongan. Di kota itu dia dikenalkan oleh Tom dengan Jak dan Andy. Dia juga mengaku sudah disediakan tempat kos untuk menginap. "Saat dari Batang ke Pekalongan, saudara saksi atau Tom yang jadi penunjuk jalan?" tanya ketua majelis hakim. "Saya cuma mengikuti Tom," jawab Wawan. "Jalannya kencang tidak? Buru-buru nggak?" tanya Effendi. Setelah beberapa lama terdiam dan tampak bingung, saksi berkata, "Jalannya kencang." "Oh kencang. Berarti buru-buru ya? Kalau kencang tapi nggak buru-buru, itu namanya balapan," kata ketua majelis sambil memainkan kedua tangannya ibarat dua motor yang sedang balapan. Anggota majelis dan para peserta sidang jadi terpingkal-pingkal. Effendi kemudian mempertanyakan apakah pernah memberikan peluru kepada Tom. Wawan mengaku, dirinya memang sempat memberikan plastik kresek titipan Subur kepada Tom yang dibawa dari Semarang, namun tidak tahu isinya. "Mengapa tidak ditengok isinya agar tahu? Anda apa tidak penasaran?" tanya Murad. "Nggak," jawab saksi. "Kenapa?" tanya ketua majelis. "Takut meledak," jawab Wawan. "Lo kok takut meledak? Hubungannya apa?" kata Effendi penasaran. "Ya kayak di tv-tv itu, Pak," kata saksi. "Anda ini dari tadi andalannya tv melulu. La kok Saudara tidak takut saya minta duduk di sini? Apa karena di tv belum pernah melihat kejadian orang duduk di kursi terdakwa kemudian meledak?" kata Murad. Tawa peserta sidang pun meledak, sedangkan yang ditanya malah tengok kanan kiri tampak bingung. (Yunantyo Adi-46n) |