| Kamis, 21 September 2006 | NASIONAL |
Tibo: Cukup Kami yang Dikorbankan
PALU - Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu, terpidana mati kasus kerusuhan Poso, menyatakan kesiapannya menghadapi eksekusi di hadapan regu tembak yang dijadwalkan Jumat (22/9) dini hari. "Sekalipun ketiganya menolak dieksekusi, tapi secara mental mereka siap dan tidak takut menghadapi eksekusi," kata Pastor Jemy Tumbelaka, rohaniawan yang selama ini mendampingi Tibo cs, seusai menjenguk ketiga terpidana di LP Petobo Jl Dewi Sartika Palu, kemarin. Pastor Tumbelaka yang juga Paroki Santa Theresia Poso dalam pertemuan dengan ketiga terpidana memberikan kesempatan kepada Tibo, Dominggus, dan Marinus untuk menyampaikan unek-unek masing-masing untuk mempersiapkan mental mereka. Tibo, menurut Pastor Jemy, mengatakan, "Cukup bagi saya dan dua rekan, Dominggus dan Marinus, menjadi orang-orang yang dikorbankan dan tertindas dalam kasus kerusuhan Poso." Tibo juga mengimbau Sri Paus dan uskup di seluruh dunia untuk selalu memperjuangan dan melawan segala bentuk penindasan yang ada di muka bumi. Tibo yang selama enam tahun dalam penahanan di LP Petobo aktif beribadah itu mengaku terbebani oleh kondisi keluarga yang akan ditinggalkannya. Sebab selama dalam penjara, dia tidak dapat memberikan nafkah hidup kepada istri dan ketiga putranya. Sementara itu Marinus, menurut pastor itu, mengaku tidak takut menghadapi eksekusi regu tembak, sebab eksekusi akan melapangkan jalan bagi dirinya untuk bertemu Tuhan. "Saya yakin, di surga kelak akan bertemu dengan istri dan anak-anak saya," ujar Marinus. Ia juga merasa terbebani dengan nasib keluarganya yang akan ditinggalkan, sebab keempat anaknya masih membutuhkan kasih sayang dan penghidupan. Dominggus, menurut Pastor Tumbelaka, menyatakan persoalan kematian hanya masalah waktu karena setiap orang akan melaluinya. "Yang membedakan hanya penyebab kematian setiap orang," kata dia. Sementara itu, aparat kepolisian mensterilkan LP Petobo menjelang eksekusi. Satu regu anggota Polri bersenjata lengkap dari Kesatuan Brimob Polda Sulteng disiagakan di pintu masuk LP Petobo. Setiap orang yang memasuki areal LP harus memperlihatkan kartu pengenal dan menjalani pemeriksaan ekstraketat di pos penjagaan khusus yang didirikan sehari sebelumnya. Yang diperbolehkan memasuki areal LP hanya petugas dan anggota keluarga pegawai LP yang kebetulan tinggal di rumah dinas dalam kompleks LP tersebut. Di lain pihak, aksi penolakan atas eksekusi tersebut muncul di beberapa daerah. Seperti disampaikan sekitar 50 tokoh masyarakat Flores di Batam. ''Jika eksekusi mati tetap dilakukan tidak, tak ada alasan lagi untuk mempertahankan NKRI karena sulit mencari keadilan di negara ini," kata tokoh masyarakat Flores, Angelinus. Uskup Manado, Sulawesi Utara, Mgr Joseph Suwatan menegaskan, eksekusi tersebut melanggar prinsip universal hak hidup manusia. Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Abubakar Baasyir mengatakan, hukuman mati kepada Tibo cs itu sudah setimpal dengan perbuatannya dan karena itu, jangan menunda lagi eksekusinya. Tembak Ditempat Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol Anton Bachrul Alam di Mabes Polri menegaskan, polisi siap melakukan tembak di tempat kepada siapa saja yang berusaha memancing terjadinya situasi kerusuhan pada saat dilakukan eksekusi. Dia mengatakan, polisi telah menetapkan status Siaga I untuk menghadapi pelaksanaan hukuman mati tersebut. Di Bandung, mantan Ketua MPR Amien Rais menyatakan langkah mengeksekusi terpidana mati kasus kerusuhan Poso itu merupakan keputusan yang harus dihormati. ''Saya tahu ini masalah sensitif, tapi saya kira karena ini negara hukum maka hormati keputusan hukum tersebut," tandasnya. (H27,dwi,ant-60,49n) | ||||