logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 September 2006 NASIONAL
Line

KISAH

 Mengenal Dai Cilik Ilham Bersaudara (1)

Pendidikan Diajarkan sejak dalam Rahim


SM/Abduh Imanulhaq DAI CILIK: Pasangan Eddy Abdullah dan Darosy Endah bersama putra-putrinya, yaitu berturut-turut dari kiri, Ilham, Kintan, Safira, dan Taufiq. (57)

Empat bocah bersaudara itu kerap diundang memberikan siraman rohani dalam berbagai acara. Mereka meraih juara favorit dalam Pildacil tahun lalu yang ditayangkan di televisi. Namanya terus melejit. Bagaimana pendidikan dan kehidupan mereka sehari-hari? Wartawan Suara Merdeka Abduh Imanulhaq melaporkan liputannya.

SUBUH berganti pagi, kesibukan telah terlihat di sebuah rumah bercat putih yang terletak di Jalan Palebon Raya No 86, Semarang. Hajah Darosy Endah Hyoscyamina (46) membereskan piring-piring kotor bekas sarapan di meja makan.

Suaminya, Eddy Abdullah (47) memanaskan mesin mobil di halaman yang terbilang sempit. Keempat putra-putri mereka tampak telah rapi dalam balutan busana muslim.

Di depan pintu, si sulung, Ilham Binar Lazuardi (11) membantu adik terkecilnya, Kintan Aulia Astari (6) mengenakan sepatu. Dua adiknya yang lain, Taufiq Akbar Emeraldi (9) dan Safira Yulia Rizqi (8) mengemasi beberapa barang ke dalam tas.

Hari itu memang Minggu, saat tepat bagi keluarga meluangkan waktu berekreasi. Jadi? "Oh, kami mau pergi ke Ungaran. Ada undangan ceramah buat Ilham Bersaudara dari murid-murid salah satu madrasah di sana. Setelah itu, Ilham dan adik-adiknya akan berceramah di Jepara," kata Darosy sambil mempersilakan Suara Merdeka masuk.

Kesibukan saban Minggu pagi itu memang menjadi rutinitas bagi pasangan Eddy dan Darosy. Pada hari libur tersebut, banyak undangan untuk berceramah yang disampaikan kepada putra-putri mereka. Ilham Bersaudara, begitulah Ilham dan adik-adiknya menamakan diri ketika tampil memberi taushiyah.

Ilham, murid kelas VI SD Islam Terpadu Harapan Bunda, adalah satu-satunya putra asli Jateng yang masuk grand final Pemilihan Dai Cilik (Pildacil) I.

Pada ajang yang digelar Lativi tahun lalu, dia meraih gelar juara favorit. Meski tak mendapatkan dukungan SMS terbanyak, penampilannya memesona dan kerap menuai pujian dari para asatidz.

Kagum dan Haru

Keikutsertaan Ilham di ajang itu, rupanya menularkan semangat positif kepada adik-adiknya. Mereka lantas tertarik mengikuti jejak si sulung menjadi dai cilik.

Empat kakak-beradik itu pun tampil di berbagai acara religius sebagai fenomena langka: kuartet dai belia bersaudara.

Mereka tampil bersama-sama. Setiap anak membawakan materi yang dipilihkan untuknya. Tentu saja dengan sistematika yang rapi dan berurutan. Hasilnya, penampilan Ilham Bersaudara selalu membuat audien kagum sekaligus haru.

Kagum, karena dai-dai belia itu lancar menyampaikan materi dakwah dengan gaya lugas, bernas, dan terkadang diselingi lagu serta humor segar. Mereka juga fasih mengutip ayat-ayat Alquran dan hadis nabi. Dan haru karena pesan-pesan mulia itu justru disampaikan oleh empat bocah saat anak-anak lain seusianya masih senang bermanja-manja.

"Kami tak pernah berandai-andai mereka menjadi dai di usia belia. Kami berdua hanya menginginkan Ilham dan adik-adiknya menjadi anak yang saleh, bermanfaat bagi agama, keluarga, bangsa, dan negara," tutur Darosy.

Darosy menambahkan, dia dan suaminya tak memiliki latar belakang pendidikan keagamaan yang formal seperti pesantren dan madrasah. Begitu pula dengan Ilham dan adik-adiknya.

Keempat bersaudara itu pun hanya mengecap pendidikan agama yang diajarkan di sekolah.

Seperti juga Ilham, ketiga adiknya bersekolah di SD Islam Terpadu Harapan Bunda. Sekolah itu memang memberi porsi pendidikan agama yang lebih banyak dibandingkan sekolah biasa. Mengaji (qiraati) dan menghafal Alquran (tahfidz) adalah kewajiban para siswa sehari-hari. (Abduh Imanulhaq-60v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA