logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 September 2006 NASIONAL
Line

Tiga Kasus Perampokan Lain Terungkap

  • Korban Pembunuhan Berantai

UNGARAN - Jajaran Polres Semarang kemarin kembali mengungkap tiga kasus perampokan dan pembunuhan lainnya yang dilakukan Rukimin (40) alias Rumadi, pembunuh berdarah dingin asal Sumowono, Kabupaten Semarang.

Tiga kasus tersebut menambah deretan panjang catatan kriminalitas yang setidaknya lima kali dilakukan tersangka. Tiga korban tewas dan dua lainnya masih hidup.

Dari tiga kasus lama yang terungkap itu, satu korbannya tewas dan dua lainnya mengalami cedera serius di kepala.

Korban tewas adalah Tri Wurtiningsih, warga Desa Jubelan, Kecamatan Sumowono. Peristiwa tragis itu terjadi 10 Februari 2004. Wanita yang saat meninggal berumur 44 tahun itu ditemukan tergeletak di pemandian umum Kali Tajuk, Desa Jubelan. Dia mengembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan di RS Bina Kasih Ambarawa.

Kalung emas miliknya dibawa lari Rukimin. Namun korban masih dapat mempertahankan bandul kalung dalam keadaan tersungkur setelah kepalanya dihantam dengan sebilah kayu oleh pelaku.

Adapun dua korban perampokan yang lolos dari maut itu adalah Rukayah (45) warga Dusun Pendem, RT 4 RW 3, Bandungan, Ambarawa. Kejadian yang menimpa wanita itu pada 14 Oktober 2003. Rukayah yang saat itu hendak ke Pasar Jetis mengalami kerugian Rp 152.000. Dia dipukul di kepalanya di jalan Desa Pendem, Bandungan.

Dikeler

Korban perampokan ketiga yang masih hidup adalah Ngatinah (62) warga Candi Ngontho, RT 2 RW 2 Kelurahan Candi, Ambarawa. Peristiwa yang dialami nenek itu terjadi pada 13 Januari 2004. Saat itu dia sedang mencari rumput. Ngatinah yang kemarin diminta datang ke Polsek Sumowono itu membenarkan bahwa pelakunya adalah Rukimin. ''Kepala saya dipukul beberapa kali lalu saya pingsan. Kalung emas saya seberat delapan gram atau senilai Rp 800.000 (waktu itu) dibawa lari. Saat ini pendengaran saya terganggu setelah peristiwa itu,'' ucap wanita itu masih takut dan trauma meski melihat Rukimin dari kejauhan.

Ngatinah menuturkan, sebelum merampok, tersangka berpura-pura tanya dan sok akrab. ''Mbah lagi apa. Aku iki wong Nglarangan, lali ya. Ngampil arite Mbah nggo nyisiki pring iki (sedang apa Mbah. Saya ini orang Nglarangan, lupa ya. Pinjam sabitnya sebentar untuk membersihkan duri bambu ini),'' ujar Ngatinah mengingat dialog dengan pelaku.

Saat dia lengah, Rukimin langsung mengayunkan sabit itu ke bagian kepala belakang dan dagunya.

Rukimin yang dikeler Satreskrim Polres Semarang untuk menunjukkan tiga lokasi kejadian. Dia masih ingat betul bagaimana saat itu mambantai para korbannya. Bahkan, Rukayah yang asal Dusun Pendem itu sempat ingin membalas dendam saat ditemukan dengan pelaku.

Kapolres Semarang AKBP Drs Hariono didampingi Kasat Reskrim AKP Agus Purwanto SH menjelaskan, pihaknya mengumpulkan data-data kasus terdahulu yang mirip dengan apa yang dilakukan tersangka.

''Tiga kasus lama lainnya yang selama ini menjadi misteri dapat terkuak pelakunya,'' tandas Kapolres yang pada apel pagi memberi penghargaan kepada sejumlah anggota Satreskrim yang berhasil meringkus Rukimin.

Diberitakan (Suara Merdeka 20/9), Rukimin sejak Januari hingga September ini melakukan aksi di lima tempat. Tiga korbanya tewas dan dua luka berat setelah dipukul dengan martil. Kasus itu terungkap Senin (18/9). (H14-60n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA