logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 September 2006 SEMARANG
Line

Rumput dan Damen Langka, Harga Melambung

SALATIGA- Pada musim kemarau ini pakan ternak jenis rumput gajah dan damen (batang padi), untuk kuda dan sapi mulai langka. Akibatnya, harganya melambung tinggi.

Parmo (45), seorang penjual rumput dan damen mengungkapkan, harga rumput yang biasanya sekitar Rp 6.000/ikat pada musim hujan kini menjadi Rp 12.000/ikat. Begitu juga dengan harga damen yang meningkat dari Rp 5.000/ikat menjadi Rp 10.000/ikat. "Harga rumput dan damen tinggi karena barang langka," ujarnya

di tempat penjualan rumput dan damen di Jalan Stadion Salatiga.

Rumput dan damen yang dijualnya tidak hanya untuk pakan kuda dokar atau untuk ternak kuda, tetapi juga untuk sejumlah peternak sapi daging maupun sapi perah.

Damen didatangkan dari Banyubiru dan Ambarawa, serta beberapa tempat lainnya di sekitar Salatiga. Sedangkan rumput di daerah sekitar Salatiga yang kondisi tanahnya tidak kekeringan. "Biasanya ketika musim kemarau rumput pakan ternak tumbuh di tanah yang berdekatan dengan lokasi pengairan," terang Parmo yang juga anggota Persatuan Penjual Rumput (P2R) Salatiga.

Berkurang

Sukardi, pengurus Persatuan Sais Dokar Salatiga mengungkapkan, tingginya harga pakan tersebut mengakibatkan pendapatan sais berkurang. Setidaknya untuk seekor kuda memerlukan satu ikat rumput atau damen dalam sehari. Rata-rata pendapatan kotor sais dokar sekitar Rp 25.000.

"Kalau dipotong harga pakan yang naik dua kali lipat, pendapatan semakin berkurang. Belum lagi ditambah pembelian campuran dedak," terang Sukardi.

Sementara itu, sejumlah peternak sapi perah di Dusun Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo, Salatiga, juga kesulitan mendapatkan rumput gajah. Supratman (45), peternak sapi mengungkapkan dirinya dan beberapa peternak lain mengambil sendiri rumput di daerah pinggiran Danau Rawapening.

Dipilihnya tempat itu karena kekeringan di sana tidak separah di Kumpulrejo. Hampir seluruh areal perkebunan di Kumpulrejo sudah tidak ditumbuhi rumput gajah.

Agar sapi tetap bisa makan dan memproduksi susu, dia bersama peternak lain menyisihkan uang Rp 20.000 untuk menyewa mobil bak terbuka, guna mengangkut rumput gajah. "Kalau setiap pekan harus keluar Rp 20.000 tentu rugi. Tapi, mau bagaimana lagi? Terpaksa kami harus ke Tuntang atau Sumowono," jelas dia. (H2,dky-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA