| Kamis, 21 September 2006 | SEMARANG |
Ada Materi Buku Ajar yang Membodohi SiswaSEMARANG- Keberhasilan proses pembelajaran siswa ditentukan buku yang digunakan. Materi di dalamnya memungkinkan anak didik menjadi lebih pandai. Namun tidak menutup kemungkinan justru menjadi sarana pembodohan siswa. Itu pulalah yang saat ini terjadi dalam proses pembelajaran. Materi buku ajar yang menjadi pegangan siswa, menurut Drs Wagiran MHum, salah seorang orang tua siswa SD Petompon II, masih memiliki kekurangan. Misalnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, yakni siswa diminta untuk mengidentifikasikan benda berdasarkan nama dan warnanya. "Bagaimana siswa bisa mengidentifikasikan benda berdasarkan warnanya dengan benar, jika warna yang tertera dalam gambar saja hitam-putih? Ini sama saja dengan menjerumuskan dan membuat siswa bertambah bodoh,'' tandas Wagiran, Rabu (20/9). Agung, salah satu orang tua siswa SD di kawasan Semarang atas menilai materi yang ada pada buku ajar susah dipahami. Terutama oleh siswa yang du-duk di bangku sekolah dasar (SD). Bacaan yang disampaikan terlalu banyak dan bertele-tele. Dengan membaca berkali-kali pun siswa belum tentu bisa memahami isi dari bacaan yang ada. Tidak Berkaitan Untuk menutup kekurangan yang ada pada buku ajar, beberapa sekolah melengkapi siswa dengan lembar kerja siswa (LKS). Namun para orang tua menganggap sejumlah LKS yang digunakan belum mampu menunjang buku ajar atau paket yang ada. Materi yang ada pada buku paket dan soal-soal dalam LKS seharusnya saling berhubungan. Namun pada kenyataannya tidak demikian. Soal-soal yang ada pada LKS tidak berkaitan dengan materi di buku ajar dan paket yang disampaikan guru. "Padahal di setiap pekerjaan rumah (PR), guru selalu mengambil soal-soal yang ada dalam LKS. Ini yang kadang membingungkan siswa dalam mengerjakan PR,'' keluh Agung. Semetara itu, Cipto menganggap penggunaan LKS di sejumlah sekolah sudah terkontaminasi bisnis. Pemilihan LKS bukan berorientasi lagi pada kualitas dari materi yang ada, melainkan lebih pada besarnya komisi yang ditawarkan penerbit kepada guru. "Tidak menutup kemungkinan guru akan memilih penerbit yang menawarkan LKS dengan potongan harga banyak, padahal kualitasnya diragukan,'' ungkap ketua komite sebuah sekolah di daerah Gunungpati itu. Seperti diberitakan sebelumnya, kualitas buku ajar yang dikeluarkan Pemerintah Kota Semarang masih dipertanyakan kualitasnya. Isinya yang masih menggunakan kurikulum 2004 belum mewakili sepenuhnya kurikulum 2006, yang mulai digunakan. Karena itu, sejumlah sekolah lebih memilih menggunakan modul untuk melengkapi kekurangan tersebut. Salah satu sekolah yang melakukan hal itu adalah SMP Karangturi. Sekolah di Jl Raden Patah 182-192 itu tetap menggunakan buku ajar, tetapi bukan satu-satunya. Buku ajar hanya digunakan sebagai acuan siswa. (H31-62s) |