| Kamis, 21 September 2006 | SEMARANG |
NGISOR ASEMNyadran di Bergota, Tak Seramai pada Jumat KliwonMASYARAKAT Jawa-Islam punya tradisi ziarah ke makam keluarga dan leluhur pada bulan Syaban atau Ruwah. Momentum ziarah terakhir sebelum Syawal tiba itu mereka manfaatkan untuk bersih-bersih makam dan menabur bunga di atas pusara. Aktivitas itu disebut nyadran. Tradisi yang konon mendapat pengaruh dari upacara Sadhra dalam agama Hindu tersebut juga dilakukan sebagian masyarakat Semarang. Seminggu menjelang Ramadan, makam-makam di penjuru kota banyak dikunjungi penziarah, tak terkecuali tempat pemakaman umum (TPU) Bergota. ''Sejak Kamis (14/9) (Jumat Kliwon-red) peziarah sudah berdatangan. Biasanya mereka datang secara rombongan,'' ujar Suyono, salah seorang juru kunci di makam tersebut. Memang, peziarah tahun ini tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Itu dirasakan benar oleh para juru kunci makam Bergota. Biasanya seminggu sebelum Ramadan, para peziarah berbondong-bondong mendatangi makam kerabat mereka. ''Sekarang agak sepi. Nggak tahu kenapa, pokoknya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,'' katanya. Juru kunci sepuh itu berharap para peziarah masih akan berdatangan pada hari-hari akhir menjelang Ramadan. Beberapa pedagang bunga tabur menuturkan, jumlah peziarah yang datang ke Bergota lebih banyak setiap malam Jumat Kliwon, sekalipun tidak menjelang bulan Puasa. Jumlah peziarah juga mencapai ribuan seusai shalat Idul Fitri. Sementara peziarah pada masa nyadran tak seberapa, meski tetap lebih banyak dibandingkan dengan hari-hari biasa. Pada Rabu kemarin, peziarah memang tidak begitu banyak. Pada umumnya yang datang hanya warga Semarang. Seperti dua nenek, Saerah (75) dan Satiyem (70), warga Jalan Sentiaki Raya, Semarang Utara. Dengan tertatih-tatih di antara batu nisan untuk menuju ke lokasi makam adik, kakak, dan suami mereka. ''Sebelum Puasa, tradisi kami memang mengunjungi makam-makam keluarga yang sudah meninggal. Tentu saja dengan mengirim doa-doa lewat bacaan Surat Yasin dan tahlil,'' ungkap Satiyem, yang kemarin membaca Surat Yasin dan tahlil bersama Saerah. Luar Kota Para peziarah tidak hanya berasal dari Kota Semarang, tetapi juga kota-kota lain, seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Solo, dan Jakarta. Salah seorang peziarah dari luar kota itu adalah Agus (58). Dia datang dari Jakarta bersama anaknya untuk menziarahi makam ayah tercinta. ''Saya selalu menyempatkan diri ke sini setahun sekali setiap menjelang Ramadan. Kalau Lebaran malah nggak, karena takut terkena macet,'' ungkapnya. Suradi (39), peziarah asal Yogyakarta juga memanfaatkan momentum nyadran sebagai ungkapan bakti kepada almarhum ayahnya. Kemarin, pria berambut cepak itu datang ke TPU Bergota bersama istri, anak, dan seorang adiknya. Untuk keperluan tersebut, Suradi yang bekerja sebagai pegawai swasta itu harus izin tidak masuk kerja. Senada dengan Suradi, Arifin (37), peziarah asal Demak menyatakan tidak bisa meninggalkan tradisi nyadran tersebut. Dia datang bersama putrinya untuk memanjatkan doa-doa kepada kedua orang tua dan kakaknya yang dimakamkan di Bergota. Nyadran tak hanya dilakukan pada makam kerabat. Serombongan pemuda asal Pegandon, Kendal kemarin menziarahi makam Kiai Sholeh Darat. Mereka datang jauh-jauh berkendara sepeda motor. Pada cungkup makam ulama besar Semarang masa lalu itu, mereka berdoa bersama, membaca surat Yasin, dan berzikir. Nur Afandi (27), salah seorang di antaranya menuturkan, maksud kedatangan mereka semata mencari berkah. Tak termungkiri, kedatangan para penziarah menjadi berkah tersendiri bagi mereka yang beroleh nafkah dari keberadaan TPU Bergota, seperti penjual bunga tabur, tukang parkir, juru kunci, dan para pengemis. (Rukardi, Budi Winarto-18s) |