| Kamis, 21 September 2006 | EKONOMI |
Dari Workshop Komunikasi PemasaranModel Iklan Tak Harus Orang TerkenalBicara masalah pemasaran, langsung yang terbayang di benak kita umumnya menyangkut penjualan barang atau jasa. Namun dunia marketing yang dibicarakan dalam Workshop Komunikasi Pemasaran di Hotel Novotel Solo kemarin, masalah yang dibahas bukan hanya itu. Acara yang diselenggarakan Suara Merdeka dan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Jateng ini menampilkan Gardjito Kasilo, Marketing Communicaton Strategic Planner dari Jakarta. Acara ini banyak menarik perhatian. Hingga acara usai, peserta workshop tak bosan-bosannya berdialog secara pribadi. Acara itu sendiri didukung Mezzo Jarum Super, Telkom Flexi dan Bank Jateng Surakarta. Selain produk jasa dan barang, sebuah problem menarik muncul dalam sesi tanya jawab. Bagaimana menjual orang. Nanti dulu, jangan buru-buru berprasangka buruk. Ini bukan soal perdagangan wanita. Masalah ini justru menyangkut konflik darah biru di Kerajaan Surakarta Hadiningrat. Gardjito yang penasaran minta dijelaskan lebih lanjut, sebab tanpa keterangan detail, sulit memecahkan masalahnya. Peserta itu lalu mengungkapkan, di Kraton Surakarta sekarang ini ada dua raja atau raja kembar. Padahal dia harus ''menjual'' salah satunya. Bagaimana caranya ? Pakar yang menyampaikan materinya secara santai ini lalu berpendapat, meskipun yang dijual itu orang, namun orang itu harus digali sebagai produk. Memasarkan orang itu agar dapat diterima konsumen, harus terlebih dahulu dilihat target audeiencenya. Dalam kaitan itu audience harus ''diorangkan''. ''Jangan buru-buru bikin pesan. Jagoan anda itu mengidolakan apa ? Apa produk itu bagus ?'' katanya. Misalnya saja orang itu tak (suka) berbohong. Atau mungkin raja itu pintar tanam padi, maka hal-hal seperti itu harus dikomunikasikan, sehingga memberikan kedekatan pada konsumen (masyarakat). Peserta lainnya mengungkapkan, dia pernah mempromosikan lembaga pendidikan melalui media massa menampilkan tokoh terkenal bekas menteri. Namun kenyataan tak ada hasilnya. Bahkan hasil yang diperoleh hanya satu persen dari target 100%. Setelah diganti orang tak terkenal, justru hasilnya bagus. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi ? Gardjito mengatakan, memilih model untuk iklan tidak semudah yang dibayangkan. Harus ditawarkan terlebih dulu, paling tidak pada sejumlah orang. Juga harus dicari ulang dulu, sebab kacamata kita belum tentu sama dengan kacamata audience. (Subakti A Sidik-59) |