logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 September 2006 BUDAYA
Line

Dekonstruksi Raslan

MEMBACA antologi cerpen Pahlawan dan Cerita Lainnya, kita bisa jadi tak mengira itu karya sastrawan Malaysia. Sebab, cerpen tulisan Karim Raslan itu punya kecenderungan berbeda.

Dia mengangkat tema-tema sensitif yang sebelumnya tak banyak muncul dalam karya sastra di negeri jiran lainnya. Bagai Serat Centhini dalam khazanah sastra Jawa, teks-teks yang dialihbahasakan dari Heroes and Other Stories itu melukiskan Malaysia yang polos, tanpa penutup muka.

Pahlawan dan Cerita Lainnya, kemarin, dibedah oleh Triyanto Triwikromo dan Darmanto Jatman. Acara itu diselenggarakan Lembaga Studi Pers & Informasi (Lespi) di Restoran Erlina, Jalan Pandanaran, Semarang.

Triyanto menilai cerpen Raslan cenderung dekonstruktif. Dia kerap mempertanyakan mitos, menggugat identitas, menghancurkan konstruksi kultural yang diagungkan, lalu membangun identitas literer baru di masyarakat Malaysia yang berubah. ''Raslan menggunakan wacana poskolonialisme, posmoderisme, dan pos-strukturalisme sebagai batu pijakan."

Teks-teks alumnus studi bahasa Inggris dan ilmu hukum di St George College, Cambridge, Inggris, itu mencitrakan Malaysia sebagai sesuatu yang plural. Meminjam istilah Roland Barthes, Triyanto menyebutnya serupa kutipan-kutipan dan tidak tunggal.

''Malaysia Raslan adalah Malaysia yang chaos. Malaysia yang tak seperti sebagian besar jalanan Kuala Lumpur yang tertib dan mulus, tetapi jalanan Rimbun Dahan Selangor atau terminal-terminal tak rapi di Tanjong Malim,'' ujarnya.

Dahsyat

Triyanto membahas panjang lebar cerpen Raslan yang menampilkan dekonstruksi bangunan kultural di lingkungannya. Dalam ''Sara dan Perkawinannya'', "Ayo ke Timur'', dan ''Tetangga Sebelah'', misalnya, pengarang kelahiran Selangor, 43 tahun silam, itu menggugat identitas yang berkait dengan seksualitas. ''Tetangga Sebelah'' secara gamblang menarasikan adegan sodomi oleh waria pada Encik Kassim.

Sementara itu, Darmanto Jatman dalam diskusi yang dipandu Wisnu Tri Hanggoro itu memuji buku Raslan sebagai karya sastra yang dahsyat. Dari sudut pandang pemikiran dan pilihan kata, ia sepadan dengan karya Goenawan Mohamad. ''Membaca karya Pak Karim Raslan mengingatkan saya pada pola yang dianut Goenawan Mohamad; dari sunyi, peristiwa, dan kembali ke sunyi. Setiap kata seperti diseleksi betul-betul, terutama dalam cerpen 'Para Pahlawan'."

Antologi itu dicetak ulang tiga kali pada 1996, 2001, dan 2005 dalam bahasa Inggris di Malaysia. Beberapa cerpen, seperti ''Makan Siang Tahun Baru di Jalan Kia Peng'', ''Warisan'', dan ''Para Pahlawan'' telah masuk kurikulum sekolah.

Namun Pahlawan dan Cerita Lainnya tak terlampau laku di pasaran. Hingga kini baru terjual 18.000 eksemplar. Penerbitan karya itu dalam bahasa Indonesia untuk meraih pasar lebih besar. ''Indonesia punya penduduk lebih banyak daripada Malaysia.

Saya berharap di sini banyak orang membeli buku saya,'' ujar Raslan, pengagum Pramoedya Ananta Toer dan YB Mangunwijaya. (Rukardi-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA