logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 21 September 2006 BANYUMAS
Line

Knalpot Purbalingga Gagal Tembus Pabrik Otomotif

PURBALINGGA - Kerajinan knalpot dari Purbalingga tidak bisa menembus perusahaan-perusahaan otomotif. Padahal pemasaran knalpot itu sudah lama menjamah kota-kota besar di Indonesia.

Bupati Triyono Budi Sasongko pernah menawarkan produk itu ke pabrikan Honda di Jakarta. Namun perusahaan itu tidak bisa menerimanya.

''Alasannya, bukan karena knalpot kita jelek. Namun karena semua perusahaan otomotif itu punya banyak anak perusahaan yang memproduksi semua onderdil kendaraan, seperti knalpot. Jadi, tidak mungkin kita masuk ke pabrik mobil ataupun motor,'' kata Bupati dalam Workshop Evaluasi Kegiatan Perajin Knalpot di Graha Adiguna, kemarin.

Sebab, pada umumnya pemilik kendaraan enggan membeli onderdil asli buatan pabrikan untuk mengganti bagian kendaraan yang rusak. Pasar knalpot untuk mobil dan motor bekas itu ternyata sangat terbuka sehingga perajin diarahkan ke sana.

Workshop itu diadakan oleh Forum Pengembangan Ekonomi dan Sumber Daya (FPESD) Jateng. Forum itu mencoba memperbaiki kondisi perajin knalpot dalam bidang manajemen kerja yang profesional, budaya kerja yang berpola, dan peningkatan teknologi melalui pendampingan tenaga ahli selama tiga bulan.

Tenaga ahli yang mendampingi perajin adalah Holger Knetsch, seorang ahli dari Senior Expert Service (SES). SES adalah sebuah organisasi nonprofit dukungan industri Jerman yang bertujuan membantu mengembangkan usaha-usaha berukuran kecil, menengah, dan besar di Indonesia.

Home Industri

Setelah melakukan pendampingan, Holger berkesimpulan, proses produksi knalpot dilakukan oleh banyak home industry yang peralatannya masih sangat sederhana. Namun jumlah unit usaha dan tenaga kerjanya cukup banyak. Para perajin itu mampu membuat semua jenis knalpot mobil hingga keluaran terbaru.

''Dalam sebulan mereka mampu memproduksi 67.719 knalpot dengan nilai produksi mencapai Rp 1.344.751.000. Adapun jenis produksi yang dihasilkan adalah berbagai knalpot standar mobil, variasi knalpot mobil, variasi knalpot sepeda motor, engine mounting, dan komponen dari karet,'' kata pria asal Jerman itu.

Secara umum, lanjutnya, tantangan yang dihadapi perajin Purbalingga adalah mulai membanjirnya knalpot impor dan produk daerah lain yang memiliki standar lebih bagus dan harga kompetitif. (F10-55n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA