logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 17 September 2006 SEMARANG
Line

Losmen Dagang Ditutup Warga

SEMARANG TENGAH - Puluhan warga Kampung Suroyudan, Kelurahan Bangunharjo mendatangi Losmen Dagang di Jl Pemuda, Jumat (15/9) malam. Warga menuntut losmen itu ditutup karena diduga menjadi tempat kegiatan ''esek-esek''.

Warga mendatangi losmen tersebut pukul 20.00 WIB. Sebelumnya mereka berkumpul di Kantor Kelurahan. Dalam tuntutannya, warga meminta agar losmen itu ditutup, tidak boleh menerima tamu. Mereka juga meminta pemiliknya membongkar kamar-kamar di dalam losmen.

Aksi warga berujung kepada penyegelan losmen. Untuk mengantisipasi terjadinya perbuatan anarki, dikerahkan sejumlah pasukan Dalmas dari Polres Semarang Timur, Polwiltabes, Polsek Semarang Tengah, dan petugas Satpol PP.

Datang pula di lokasi itu sejumlah pejabat muspika. Bahkan Kasat Reskrim Polwiltabes Kompol Wagisan SH MH, Kapolsek Semarang Tengah AKP Joko Watoro, dan Kasi Operasional Satpol PP Kota Semarang Soemardjo SH turun ke lokasi.

Hadi (40), salah seorang warga mengatakan, dirinya dan warga yang lain sebenarnya sudah lama mengetahui losmen itu menjadi tempat maksiat. Waktu itu mereka segan dan tidak enak menegur pemiliknya.

Penutupan losmen, lanjut Hadi, merupakan akumulasi kekesalan warga. Hal itu disebabkan sudah lama keberadaannya sangat merasahkan.

Meski telah dioperasi Jumat (15/9) pukul 15.00 WIB oleh petugas Polwiltabes, tempat itu malamnya masih dikunjungi pria hidung belang dan pasangan wanita.

Disambut Takbir

Bila dilihat, kesan losmen itu seperti losmen biasa. Ada sepuluh kamar berukuran 1,5 x 2 meter. Di dalamnya hanya terdapat satu dipan. Di sudut tiap-tiap kamar ada kamar mandi berukuran 0,5 x 0,5 meter yang hanya dibatasi tembok setinggi 1,5 meter dan tanpa pintu. Tidak ada bak mandi, hanya disediakan satu ember air dan satu gayung.

Sekitar pukul 23.00 WIB, terjadi kesepakatan antara warga dan pemilik losmen. Pihak pengelola menerima tuntutan warga untuk menutup losmen, tidak menerima tamu. Pemilik juga bersedia membongkar kamar-kamar yang ada. Bila menolak, pengelola bersedia menerima sanksi dari warga.

Kesepakatan itu dituangkan dalam selembar surat pernyataan, yang dibacakan Nuradim (36), tokoh pemuda setempat. Kontan hal ini disambut teriakan takbir berulang kali oleh puluhan warga. Beberapa orang warga lalu menempelkan poster bertuliskan "Losmen Ini Ditutup" pada pintu dan neon box wartel.

Bambang (45), Ketua RT setempat mengaku senang dengan penutupan ini. Dirinya berharap, aktivitas warga bisa kembali tenang.

Pengelola losmen, Yusuf Fahmi mengemukakan, dirinya cuma menyewakan kamar. Dia menilai, warga melakukan pemaksaan. Alasannya, yang berhak menutup losmen yang berdiri sejak 1938 itu adalah Pemkot Semarang.

''Kami tidak boleh ikut campur urusan tamu di dalam kamar yang disewa,'' ucapnya. (G5-18v)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA