logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 16 September 2006 WACANA
Line

Surat Pembaca

Kudus - Semarang

Setelah ada perbaikan jalan Kudus - Semarang, arus lalu lintas jadi lumayan lancar. Walau perbaikan itu menimbulkan kemacetan, tapi setimpal dengan kondisi jalan yang sekarang jadi bagus. Walau demikian masih bisa ditemukan jalan yang bergelombang di jalur tersebut yang tentu bisa mengakibatkan kecelakaan.

Karenanya perlu mendapat perhatian. Para pengemudi juga agar lebih memperhatikan keadaan jalan. Sebelum perjalanan perlu cek kendaraan baik rem, oli, atau bensin. Tentu saja harus taati peraturan lalu lintas serta jangan buang sampah atau benda tajam di jalan.

Bagi perempuan yang hendak melakukan perjalanan malam hari, sebaiknya ada pendamping atau teman yang bisa diandalkan. Hal ini untuk mengurangi tindakan kriminal di jalan.

Diah Ayu Anggraeni

Gulang Rt 4/Rw 6 Mejobo, Kudus

***

Bacaan Gratis

Kalau saja sekolah gratis masih jauh dari harapan, kemungkinan bacaan gratis bisa menjadi kenyataan. Pasalnya bacaan gratis menyangkut kebutuhan masyarakat yang perlu tahu berita aktual. Alangkah baiknya kalau Pemkab Kebumen dapat memasilitasi hal ini.

Termasuk dipasang papan bacaan media cetak yang dapat dinikmati semua lapisan masyarakat mulai anak-anak (siswa sekolah), remaja, tua serta pecinta ca-ba-ca. Misal dipasang koran seperti Suara Merdeka, KR, Kompas, S1 dan lainnya. Saya rasa biaya tidak mahal, asal papan bacaannya sederhana dan tahan lama.

Untuk lokasi seyogianya di tengah kota seperti di dekat trotoar depan pintu masuk kantor Bappeda Kebumen atau sekitar tugu PKK pertigaan depan kantor Pos. Dengan demikian bisa mengetahui sejauh mana sebenarnya minat baca masyarakat dalam rangka meningkatkan kecerdasan bangsa.

Ambijo

Jl HM Sarbini 40, Kebumen

***

Kesan Redaksi SM

Saya pembaca Suara Merdeka yang kebetulan juga seorang penulis. Selama ini untuk pengiriman naskah dan lain-lain saya menggunakan jasa pos. Tanggal 24 Agustus 2006, kali pertama saya datang ke kantor redaksi di Jl Kaligawe merupakan pengalaman yang berkesan indah.

Menginjakkan kaki di kantor SM yang apik dan adem, saya diterima ramah oleh staf redaksi yang low profile. Kepenatan saya mengalami kemacetan lalu lintas terlunaskan sudah. Apalagi ketika tulisan saya dimuat, tak sia-sia saya datang dari Jepara. Terima kasih semoga tulisan tersebut sebagai "pintu pembuka'' kembali, saya ke dunia kepenulisan.

Beberapa waktu lalu saya juga mengirim fiksi ke Yunior, Cempaka dan Wawasan. Semoga ide, imajinasi yang saya tuangkan di dalam rangkaian kata-kata bernuansa menjadi sebuah cerita, kelak bisa dimuat, tabloid atau majalah tersebut. Suara Merdeka memang korannya wong Jawa Tengah.

Kartika Catur Pelita

Mulyoharjo Rt 9/Rw 4, Jepara

***

Nomor Kartu Simpati

Saya pengguna kartu Simpati 08122902050 yang bulan Februari 2006 karena kesalahan memasukkan kode PIN dan PUK, kartu tidak dapat digunakan. Tanggal 18 Februari 2006 saya ke Grapari Mal Ciputra dengan harapan dapat ganti kartu dengan nomor sama. Oleh costumer service dijawab bila kartu dengan nomor awal 081229 sedang tidak ada dan kalaua sudah ada akan dihubungi.

Tanggal 1 Maret 2006 saya datang lagi dan diminta menunggu. Kemudian tanggal 19 Maret untuk kali ketiga ke Grapari lagi namun memperoleh jawaban tetap sama. Pada 24 April 2006, saya ke Grapari Pandanaran, malah disuruh mengisi ulang agar kartu tidak hangus. Juga dijanjikan Mei kartu dengan nomor awal 081229 sudah ada (formulir pengaduan terlampir).

Kemudian kartu saya isi ulang dan setiap habis masa aktif nya saya isi ulang kembali. Namun setelah tiga bulan lebih tidak ada konfirmasf lanjutan, kartu tidak saya isi ulang sehingga terhitung blan Agustus 2006 kartu Simpati saya hangus.

Kundi Ariyanto

Jl KHA Dahlan 3, Juwana

***

Petani Bawang

Beberapa waktu lalu ada berita petani di Brebes membuang bawang merah hasil panenannya ke jalan karena harganya anjlok hingga Rp 2.300 s.d Rp 2.500/kg. Saya bener-bener tertegun. Bukan karena shock mengetahui harganya yang turun drastis, tapi lebih pada sikap petaninya. Kenapa mereka tega membuang hasil jerih payahnya sendiri.

Menurut saya, akan jauh lebih baik jika mereka tidak membuang. Bisa saja mereka jadikan sebagai bawang goreng lalu dijual. Kalau tidak salah, harga per ons-nya Rp 3000. Lumayan toh? Saya tahu para petani pasti kecewa berat. Tapi pelampiasannya sungguh tidak terpuji.

Bukankah dalam segala hal memang ada pasang surutnya. Semua orang pasti punya masalah dan hanya orang sabar yang mau berusaha saja bisa menghadapi dan menyelesaikan masalahnya. Ingat, masih banyak orang yang jauh lebih menderita dibanding kita. Contoh yang kena bencana alam, lumpur panas dan lainnya.

Kita harus bisa menemukan hikmah dan berusaha menciptakan peluang di balik setiap musibah. Bukankah kesuksesan adalah bagaimana tingginya kita melambung kembali setelah jatuh menyentuh dasar? Jadi kalau setiap diberi cobaan lantas bertindak anarkis, kapan mau sukses?

Betty W Kusuma

Jl Mangga 149 Jambu, Ambarawa

***

Abonemenku Aneh

PT Telkom Purwokerto, gimana nih sudah 3 bulan terhitung Juni. Juli, Agustus 2006 telepon 0281-640721 a.n Sudarwati tagihan abonemennya kok sebesar Rp 48.100 (kopi terlampir). Padahal bukan dan tidak untuk bisnis, internet, tidak pernah SLI dan rekening tiap bulannya tidak pernah Iebih dari Rp 200 ribu.

Saya juga selalu bayar tepat waktu (jarang di atas tanggal 10). Saya sudah lapor ke Plasa Telkom Jl Merdeka, tapi tidak ada tindaklanjutnya. Saya merasa kecewa, terbebani dan tidak nyaman memakai telepon. Ke mana saya harus lapor lagi. Masa sih harus ke Polda, ntar jadi saya yang aneh. Tolong Committed 2 U-nya dijalankan dan lebih ditingkatkan lagi.

Sudarwati Aipassa

Jl Tipar Baru Gg IV/21, Purwoketo

***

Cetak Digital di Ceria

Saya ke Ceria Jl Veteran Jepara membawa XD kamera digital untuk cetak foto. Sebelum berangkat, barang saya kontrol pakai Printer CX400 dalam kondisi baik, normal dan semua gambar ada serta bagus. Tapi entah bagaimana petugasnya bilang XD rusak, tidak bisa dibuka dan tidak ada gambarnya.

Saya penasaran dan pulang untu mengontrol lagi dengan printer semula. Hasilnya kecewa besar karena semua foto hilang. Padahal foto tersebut memuat konsumen lebih dari 150 orang. Setelah konsultasi dengan teman yang tahu komputer, saya pun komplain ke Ceria.

Tapi bukan keramahan dan permintaan maaf yang saya terima, malah disuguhi emosi dan dengan berbagai dalih dia kemukakan unruk lepas tanggung jawab. Dia tidak sadar, bisnisnya bisa besar karena konsumen.

Dia juga tidak berpikir, sikapnya bisa menimbulkan kerugian bagi perusahaannya. Mohon pembaca yang ahli komputer, bisakan foto XD saya dimunculkan kembali.

Kepada konsumen digital, agar berhati-hati jika mau cetak dan kepada Ceria, berikan solusi bukan emosi. Sehebat apa pun bisnis, suatu ketika bisa hancur karena mengecewakan banyak orang.

Nuryadi

Slagi Rt 4/Rw 1 Mlonggo, Jepara

***

Penjelasan Indosat

PT Indosat Tbk mengucapkan terima kasih atas masukan Bapak Bambang Iss Jl Jangli Pbl Tengah 152 Semarang, yang dimuat 13 September 2006 tentang ''Ada Skenario di Balik Ajang I Ring Insof''. Perlu kami infokan, event ini diselenggarakan Pappri dan posisi PT Indosat sebagai sponsor.

Kami men-support event ini karena dapat mendorong masyarakat terutama generasi muda untuk melakukan aktivitas positif yang inovatif, kreatif, dinamis dan bermanfaat bagi pengembangan diri.

Indosat berupaya menjadi perusahaan telekomunikasi pertama yang menunjukkan kepeduliannya terhadap masalah hak cipta, sistem royalti bagi pencipta lagu dan musik yang digunakan dalam produk i-Ring.

Sedang untuk mekanisme lomba dan hasil penjurian, kami serahkan sepenuhnya kepada penyelenggara.

Susi Rachmawati

Humas PT Indosat Central Java/DIY


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA