| Sabtu, 16 September 2006 | NASIONAL |
Jebol Lagi, Tiga Desa Tergenang LumpurSIDOARJO - Tiga desa di Kecamatan Porong dan Jabon tergenang air dan lumpur akibat jebolnya tanggul sepanjang 10 meter di Desa Pejarakan, Porong, Jumat (15/9). Tanggul penahan luberan lumpur panas di Pejarakan jebol dua kali. Jebol pertama terjadi sekitar pukul 07.30. Untungnya, luberan air lumpur panas mengarah ke kolam penampungan 5 di Desa Mindi,Kecamatan Porong. Namun akibat kejadian itu, warga sempat takut karena tanggul sebelah barat dekat rel KA di desa tersebut tak begitu tinggi. Kemudian, sekitar pukul 12.00, tanggul di desa itu kembali jebol sepanjang 15 meter. Jebolnya tanggul untuk kali kedua itu mengakibatkan luberan air dan lumpur menggenangi pemukiman warga di Desa Pejarakan, Desa Mindi, Desa Besuki di Kecamatan Jabon. Ketinggian air di Desa Besuki mencapai 40 cm. Luberan air lumpur di Besuki paling parah dibanding dengan dua desa lainnya. Di Desa Pejarakan, air masuk ke bangunan SDN I Pejarakan yang masih dalam proses perbaikan. Danrem 084 Bhaskara Jaya Kol (Inf) Wahid Hidayat, selaku Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) menuturkan, tanggul itu sebenarnya mulai jebol tadi malam sekitar pukul 23.00. Anggota TMMD langsung menutupnya dengan pasir dan batu. Namun sekitar pukul 11.00 siang, air lumpur begitu deras hingga meluber dan menjebol tanggul. Karena sangat deras, air diarahkan ke wilayah Desa Besuki agar tak menggenangi jalan raya Porong. Caranya dengan menjebol tanggul pembatas dengan eskavator. Di Desa Besuki, pemukiman yang paling parah tergenang luberan air lumpur berada di RT 1 - RT 4 RW 5 yang masuk dalam Dusun Besuk. Kawasan itu dihuni 83 keluarga atau sekitar 300 jiwa. ''Untungnya, barang-barang sekolah telah diselamatkan ke Pasar Baru Porong,'' kata Riyanto (52), penjaga sekolah di SDN I Pejarakan kepada wartawan. Dapat Rumah Secara terpisah Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah meminta relokasi korban banjir lumpur panas di Sidoarjo harus dilakukan untuk penyelamatan jiwa warga yang terkena bencana itu. ''Tak ada pilihan lain. Relokasi itu tentu harus diikuti pembangunan rumah penduduk,'' katanya di Semarang. Ia juga mengingatkan, jangan sampai ada masyarakat yang rumahnya terkena genangan lumpur panas pada waktunya relokasi tidak mendapatkan rumah. Mereka harus mendapatkan rumah pengganti. Karena itu, pendataan warga korban lumpur panas harus dilakukan secara cermat. ''Mereka yang akan mendapatkan lahan dan rumah di tempat relokasi sekarang didata oleh Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, termasuk tempat relokasinya yang menentukan Bupati,'' ungkap dia, seusai membuka Rapat Koordinasi Nasional tentang Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Hotel Patra. Menurut dia, seluruh pembiayaan relokasi bagi warga korban lumpur panas ditanggung oleh PT Lapindo Brantas. ''Yang menanggung mestinya perusahaan itu. Jadi, biarkan perusahaan itu dahulu yang menanggung,'' tutur Bachtiar. (G17,G14-60,41n) |