logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 16 September 2006 INTERNASIONAL
Line

GNB Dukung Nuklir Iran

HAVANA - Para pemimpin negara-negara anggota Gerakan Non-Blok mengungkapkan dukungan terhadap Iran berkaitan dengan perselisihan mengenai program nuklir.

Dukungan itu disampaikan kepada Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad saat mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin negara berkembang di Havana, Kuba, Jumat kemarin.

Kedatangan Ahmadinejad ke ibu kota Kuba itu terjadi saat Amerika Serikat terus mendesak dikenakannya sanksi terhadap Iran karena telah mengabaikan batas waktu 31 Agustus untuk menghentikan pengayaan uranium.

Sementara delegasinya melakukan lobi untuk mendapatkan dukungan lebih lanjut dari 118 anggota GNB, Ahmadinejad mengadakan pertemuan dengan beberapa timpalannya di sela-sela pertemuan GNB.

Dia mendapat dukungan kuat dari Presiden Venezuela Hugo Chavez saat KTT 18 negara berkembang (G-15) yang digelar bersamaan dengan pertemuan GNB Kamis lalu. ''Saya tidak akan beranjak dari sini sebelum ada dukungan tetap bagi Iran,'' kata presiden Venezuela itu.

Sebelumnya pada hari yang sama, Chavez mengunjungi sekutu yang juga mentornya, Fidel Castro (80) yang belum pernah tampil di muka publik sejak menjalani operasi Juli lalu. ''Fidel lebih ceria daripada sebelumnya,'' kata Chavez seusai kunjungan itu.

Masih belum jelas apakah pemimpin Kuba itu juga akan bertemu Ahmadinejad. Namun, pemerintahnya telah menyatakan dukungan kuat bagi Iran. Raul Castro, selaku pemegang mandat Castro menghadiri KTT G-15 itu.

Tekanan Politik

Para pemimpin negara diharapkan akan mengesahkan deklarasi yang menekankan hak Iran untuk memperoleh dan menggunakan energi dan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Ahmadinejad mengatakan, ''Beberapa negara berusaha merintangi upaya mencapai kemajuan agar negara-negara berkembang tetap tergantung kepada mereka dan memaksakan tekanan politik.'' Pernyataan itu jelas merujuk pada upaya AS yang mendesak Iran menghentikan kegiatan pengayaan nuklir.

Pada Rabu lalu, Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki mengatakan di Havana bahwa Teheran bersedia kembali berunding tanpa syarat dengan negara-negara yang berkepentingan untuk mengklarifikasi masalah-masalah utama dalam isu nuklir.

Namun di Washington, juru bicara Gedung Putih Tony Snow bersikeras Iran harus terlebih dahulu membatalkan kegiatan pengayaan uranium. ''Setelah itu, barulah kami akan mengadakan pembicaraan,'' kata dia.

Negara-negara nuklir seperti India dan Pakistan juga diharapkan melakukan peran kunci selama KTT GNB pada Jumat dan Sabtu ini.

Perdana Menteri India Manmohan Singh dan Presiden Pakistan Pervez Musharraf berencana mengadakan pertemuan di sela-sela KTT tersebut dalam upaya memulai kembali perundingan tentang konflik yang telah berlangsung beberapa dekade atas Kashmir. Perundingan tersebut telah macet sejak serangan bom di Mumbai yang menewaskan 183 orang bulan Juli.

Castro Absen

Di tengah-tengah agenda politik, ketidakhadiran Presiden Kuba Fidel Castro masih menjadi fokus perhatian para pemimpin negara. Hingga kemarin, belum jelas apakah Castro akan hadir pada KTT itu kendati dia sempat bertemu Chavez dan Sekjen Perserikatan Bangsa-bangsa Kofi Annan.

Rekaman video kegiatan Castro ditayangkan televisi pemerintah. Dalam tayangan itu, terlihat Castro berdiri menyambut Chavez dan berjabat tangan. ''Fidel berjalan dan bernyanyi. Saya lihat dia sudah cukup sehat untuk bermain bola lagi,'' kata Chavez.

Kebanyakan delegasi pada KTT itu datang untuk memperoleh informasi dari sumber pertama mengenai kondisi tokoh anti-Amerika itu.

Castro memang menjadi simbol perlawanan terhadap Amerika Serikat selama empat dekade ini.

Pertemuan sejak Senin lalu itu lebih banyak mengusung sikap menentang Amerika Serikat. Iran, Venezuela, Kuba dan Korea Utara terlihat mendominasi ajang pertemuan itu.

Negara-negara itu ingin mendukung satu fron negara-negara yang menentang Amerika Serikat terkait berbagai isu mulai dari ideologi, energi nuklir dan minyak. (rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA