| Sabtu, 16 September 2006 | BUDAYA |
Merdeka Suka-sukaSUEGERR! Itu komentar spontan dari seorang penonton, sekeluar dari Auditorium RRI, Jalan A Yani, SEmarang, semalam. Dia baru saja menonton pertunjukan musik Orkes Sinten Remen Yogyakarta yang membuatnya terpingkal-pingkal hampir sepanjang pertunjukan. Aksi Djaduk Ferianto dan kawan-kawan yang mengusung tema "Merdeka secara Jenaka" benar-benar segar dan menyegarkan. Ya, pertunjukan yang membincangkan (re)kontekstualisasi kemerdekaan itu hadir dengan kemasan amat cair dan ringan. Sindiran dan kritik meluncur tanpa perlu membuat kening penonton berkerenyit. Alkisah, di sebuah kawasan kumuh Yogyakarta, seorang anak tergeragap dari tidur yang lelap. Dengan wajah bungah, dia bersemangat melaksanakan upacara bendera. Sayang, tak seorang pun merespons. Tidak sang ibu yang bakul sayur, tidak Jonet "organisator" demo, atau bahkan Semar, yang konon manusia setengah dewa. "Orang diajak upacara kok tidak mau. Upacara kan untuk menunjukkan kecintaan pada negara," ujar si anak yang diperankan dengan ciamik oleh komedian Gareng Rakasiwi. Pada akhir kisah, anak kecil itu upacara bendera. Sendirian. Ups, lihatlah, dia tak menaikkan bendera setiang penuh, tetapi setengah tiang. Apakah itu pertanda negeri ini masih pada masa perkabungan? Kritik Pertunjukan semalam menggabungkan berbagai unsur dari musik, nyanyian, lawakan, sampai teater, dengan awak Orkes Sinten Remen sebagai pendukung utama. Selain itu, hadir pelawak kondang asal Yogyakarta, seperti Joned dan Yu Beruk. Tak ketinggalan kakak kandung Djadug, Butet Kertaredjasa, yang berperan sebagai Semar, dan Susilo "Den Baguse Ngarso" Nugroho. Coba simak cara Butet dan Den Baguse Ngarso menyindir habis-habisan tentang Semarang. Kedua bintang tamu pementasan itu mengungkap problem laten Kota Semarang yang berkarib dengan rob, banjir, dan jalan rusak. "Mimpi orang Semarang itu sederhana, gampang ditebak. Paling-paling, kapan ya punya wakil rakyat yang jos, sehingga tidak ada lagi banjir dan jalan rusak," sindir Butet. "Orang Semarang konsisten. Terbukti, jalan di Pantura tetap dibiarkan brocel-brocel sebab merupakan wujud jati diri mereka," timpal Den Baguse Ngarso. Lagi-lagi, seratusan penonton ketawa lepas. Agaknya sindiran itu mewakili aspirasi mereka. Para penonton tak terlampau peduli, itu guyonan ulangan yang sudah rada usang. Ya, Butet pernah melontarkan guyonan itu pada monolog Matinya Toekang Kritik di Unika Soegijapranata, beberapa bulan lalu. (Achiar M Permana-53) |