logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 16 September 2006 BANYUMAS
Line

Seni Begalan Undang Perhatian Turis Asing

LOKAWISATA Baturraden, Banyumas, Kamis lalu tampak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Sebab di kawasan wisata andalan Banyumas ini tengah berlangsung festival seni begalan, yang merupakan rangkaian festival Baturraden. Suasana dingin tempat wisata tersebut terasa hangat oleh banyolan-banyolan peserta festival yang mampu mengocok perut para pengunjung, terutama wisatawan domestik ataupun asing.

Begalan merupakan kesenian khas Banyumas yang tidak dimiliki daerah lain. Dari acara kesenian seperti itu, selain untuk menarik pengunjung juga guna melestarikan budaya lokal yang kini mulai terkikis oleh kemajuan zaman.

Nama begalan berasal dari bahasa Jawa, yaitu begal yang berarti rampok atau pencuri. Acara seperti ini digelar biasanya pada saat ada pesta pernikahan anak perempuan yang pertama dalam sebuah keluarga.

Tujuannya guna mengambil hal-hal yang buruk dari sebuah keluarga itu dan membuangnya jauh-jauh. Harapannya ke depan keluarga baru itu bisa menjadi harmonis, sejahtera, dan berlangsung abadi. Pemeran kesenian tersebut terdiri atas dua orang laki-laki yang kebanyakan telah berumur.

Sifat Padi

Mereka memerankan aktor yang berbeda. Satu orang berperan sebagai begal atau perampok. Kemudian, satu lagi sebagai pembawa barang-barang atau peralatan yang biasa dipakai mengiring pengantin atau barang-barang srah-srahan. Peralatan yang yang dipakai juga memiliki makna tersendiri. Antara lain sapu, ilir atau kipas, yan dan padi yang terikat.

Hasil tanaman padi bertujuan agar orang-orang dalam keluarga tersebut meniru sifat padi. Yakni bisa tumbuh di berbagai tempat, termasuk di lokasi yang kotor.

Namun tetap menghasilkan sesuatu barang, yakni gabah atau beras yang bermanfaat bagi manusia dan berwarna putih atau bening yang melambangkan kesucian. Ibarat pepatah, padi itu semakin tua kian merunduk. Mestinya manusia juga demikian, semakin tua kian dewasa dan bisa berpikir maju.

''Bila manusia dapat menirunya, pasti tidak ada kecongkakan dan kesombongan,'' tutur Warsun, salah seorang peserta dari Kecamatan Sokaraja.

Banyak pengunjung yang menikmati acara tersebut. Mereka melihatnya dari berbagai sudut di lokawisata. Ada yang duduk di bawah gazebo, pohon atau di sekeliling lokasi perlombaan.

Kegiatan itu ternyata juga mengundang perhatian tersendiri sejumlah turis asing, yang kebetulan berkunjung ke Baturraden. Mereka dengan serius menyaksikan jalannya perlombaan yang berlangsung hingga sore. (Agus Wahyudi-42s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA