logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 12 September 2006 WACANA
Line

Surat Pembaca

Politik sebagai Penglima

Bung Karno menjadi presiden RI sejak Proklamasi Kemerdekaan 17-8-45 s.d terjadinya "pencurangan" oleh Soeharto. Bung Karno dijadikan presiden, karena perjuangannya yang konsisten sejak muda melawan kolonialisme/imperialisme. Selama kepemimpinannya, beliau menggunakanan pola "politik sebagai penglima".

Hal ini ternyata berhasil, buktinya : Mempersatukan rakyat dari Sabang sampai Merauke yang terdiri bermacam suku, agama dan politik. Menasionalisasi/mengambil alih perusahaan Belanda/asing. Membebaskan Irian Barat dari cengkeramannya Belanda dan mengesahkan UUPA demi membebaskan kaum tani dari belenggu feodalisme.

Andai kepemimpinan BK sama dengan Soeharto, pasti berhasil membawa negara ini ke "jembatan emas" menuju masyarakat adil dan makmur. Harus diakui, tidak ada satu negara dengan sistem apa pun di dunia ini "steril" dari gangguan keamanan, gontok-gontokan dan pertikaian politik. Lebih-lebih negara baru lepas dari penjajahan.

Sejak penjajahan memang semua aktivitas politik diberangus. Ketika merdeka semuanya seperti api dalam sekam, meledak berkobar-kobar menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Apa yang dicapai BK bukan semata-mata hasil perjuangan bersenjata, tapi diplomasi juga memegang peran penting.

Hal ini juga termasuk pengeterapan "politik sebagai penglima". Belanda mengakui kedaulatan kita melalui KMB 29-12-1949 yang berhasil melahirkan negara federal RIS. Setelah RIS berada dalam kekuasaan, kita kembalikan lagi menjadi negara RI yang hakikatnya bukan negara federal (RIS).

Dalam hal Irian Barat, Bung Karno tidak secara terang-terangan bilang akan membebaskan dengan kekuatan senjata, tetapi cukup dengan mengumumkan Tri Komando Rakyat (Trikora) pada 19-12-1961, untuk menggagalkan pembentukan negara boneka Papua, mengibarkan bendera Merah Putih di Irian Barat dan bersiap-siap bagi mobilisasi umum.

Dalam perjalanannya BK "dicurangi" oleh Soeharto yang kemudian berhasil merebut kekuasaan. Semua kebijaksanaan BK dijungkirbalikkan, Soeharto membuat "revolusi" menurut caranya sendiri. Rakyat digiring ke masyarakat kapitalisme.

Perusahaan Belanda/asing yang telah diambilalih sedikit demi sedikit dikembalikan dan dikuasai asing lagi. Tulisan ini dibuat sebagai tanggapan terhadap Gus Mus (KH Mustofa Bisri) dalam "Kolom Kelakar Kemerdekaan" Suara Merdeka beberapa waktu lalu.

Salman Abidin

Tembalang Baru I/89, Semarang

***

Itu Hak Mereka

Manusia diberi rezeki oleh Tuhan berbeda-beda, ada yang banyak ada yang sedikit. Pelajaran yang saya peroleh, di antara rezeki kita itu ada yang menjadi hak orang lain. Di surat pembaca beberapa waktu lalu Joko Suprayoga menulis, orang Semarang kaya raya.

Dia menghitung, hampir Rp 20 juta/hari warga Semarang memberikan uangnya kepada para pengemis di pinggir jalan. Sungguh angka yang tidak sedikit dan cukup fantastis. Namun dari sisi lain saya memandang, itulah kehidupan. Ada yang memberi ada yang menerima. Semua silih berganti dan itulah hukum alam.

Hal itu merupakan hak mereka yang diperoleh dari sebagian rezeki orang berlebih. Agama mengajarkan jika ikhlas memberi maka Tuhan akan menambah dan melipatgandakan apa yang telah diberikan kepada orang lain. Petuah menyebutkan, belum pernah ada orang jatuh miskin karena berderma.

Hanya mungkin jika pemberian dilakukan di pinggir jalan dianggap kurang manusiawi, maka perlu upaya penyalurannya melalui lembaga resmi, sehingga lebih menghormati pihak yang menerima dan menghargai pihak yang memberi.

Eviati Kusuma Dewi

Mahasiswa Unsiq, Wonosobo

***

Untuk Unisbank

Sungguh mengejutkan membaca berita penangkapan dugaan anggota teroris meski belum 100% terbukti karena masih menunggu hasil pemeriksaan aparat. Mengejutkan, karena yang diindikasikan sebagai anggota teroris adalah seorang dosen Unisbank Semarang.

Saya salah satu alumnusnya merasa prihatin dan terpukul atas kejadian tersebut. Menyikapi kejadian tersebut alangkah baiknya pengelola institusi, apalagi yang bergerak di bidang pendidikan lebih teliti memilih calon dosen maupun karyawannya.

Hal ini untuk menjaga reputasi perguruan tinggi tersebut agar tidak tercemar oleh kemungkinan perbuatan dosen maupun karyawannya. Mungkin kelakuan sehari-hari mereka baik, tapi ternyata punya rencana lain apalagi diindikasikan sebagai seorang teroris. Ke depan mari cermati setiap perilaku menyimpang dari teman, saudara dan orang terdekat.

Seseorang yang berbudi baik belum tentu baik pula pula tingkahnya di luar pengamatan kita. Semoga kejadian ini tidak berpengaruh terhadap Unisbank, tempat di mana saya dan para teman alumnus mendapat bekal untuk mengarungi ganasnya kehidupan ini.

Suprihono Setyawan SKom

Jl Tegalsari Timur IV/132, Semarang

***

Pelecehan Seksual

Tanggal 14 Agustus 2006 pukul 20.00 WIB keponakan saya pulang kerja naik motor sendirian. Sampai di Jl Arteri samping Polres Semarang Timur, dia disalip oleh pengendara Suzuki Shogun tanpa pakai helm. Setelah kendaraan sejajar, dengan cepat tangan kiri laki-laki tersebut meremas payudara keponakan saya.

Keponakan saya yang kaget dan marah langsung mengejar laki-laki tersebut, namun tak bisa berbuat banyak, apalagi pelaku malah tersenyum meledek sebelum lenyap di keramaian lalu lintas. Beberapa temannya juga pernah mendapat perlakuan serupa oleh orang yang mungkin sama.

Dari cerita para teman tersebut, wajah pelakunya mirip dan usianya sekitar 30 tahunan, berambut keriting. Keponakan saya sampai kini takut serta trauma. Agar kejadian serupa tidak menimpa orang lain dan pelaku jera, saya imbau wanita yang jadi korban minta tolong sekeras - kerasnya dan membunyikan klakson.

Tujuannya agar pengendara lain memperhatikan dan pelaku dapat ditangkap. Juga cacat nomor kendaraan pelaku untuk selanjutnya laporkan pada Polisi. Saya juga mohon Polisi yang bertugas di Polres Semarang Timur mencari pelaku karena sudah banyak korbannya. Pelaku sering beraksi di malam hari dan perbuatannya jelas mengganggu orang lain

Kepala pelaku sadarlah, bagaimana jika korbannya anak, istri atau saudara Anda. Periksalah ke psikiater karena kemungkinan mengalami kelainan seks. Keponakan saya masih ingat betul wajah Anda dan jika ketemu, pasti akan menangkapmu.

Diana Hidayati Spi

Jl Kradenan Baru 27 Semarang

***

Siapa Mau Adopsi ?

Kami keluarga baik-baik yang beberapa bulan lalu adikku diduga terkena ''guna-guna'' hingga akhirnya harus menanggung malu akibat perbuatan seorang pria yang mengaku pengusaha counter Hp dan tinggal di daerah elite di Semarang. Kami minta tanggung jawab pria itu, tapi jawabannya di luar keinginan kami dan berbelit-belit.

Kecurigaanku bertambah sehingga mencoba menyelidiki latar belakangnya. Ternyata dia penipu dan sudah beristri 3 yang semua ditinggalkan begitu saja. Bahkan setelah kuketahui identitasnya, dia menghilang tak tentu rimbanya. Aku berusaha ke orang pintar, jawabannya kami sekeluarga diguna-guna.

Kini adikku harus menanggung malu, ayah ibuku sakit-sakitan apalagi kami dari keluarga pas-pasan. Mohon yang menginginkan anak atau mau mengangkat sebagai anak, kami ikhlas menyerahkan anak yang akan dilahirkan adikku nanti. Kami tidak akan menuntut apa pun dan adikku dapat menyelesaikan skripsinya atas biaya patungan kakak-kakaknya.

Indra

Jl Tandang, Semarang

***

Jawaban Polres Demak

Menanggapi Surat Pembaca 5 September 2006 dari Sdri Setyaningrum Jatisono RT 1/RW 3 Gajah Demak, kami jelaskan bahwa ketentuan proses penerbitan SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) berdasar SK Kapolri No Pot SKEP/816IIX/2003 tanggal 17 September 2003 tentang Naskah Petunjuk Lapangan penerbitan SKCK.

Dalam naskah di antaranya disebutkan persyaratan yaitu kelengkapan administrasi berupa surat k keterangan lurah yang diketahui camat, rekomendasi catatan kriminai dari polsek, fotokopi KTP dan KK serta pasfoto ukuran 4 x 6 bewarna tampak muka dan kedua telinga sebanyak 6 lembar.

Permasalahan foto berjilbab, ada beberapa sinyalemen bagian tubuh yang tertutup yaitu warna dan bentuk rambut serta bentuk telinga sehingga tidak tampak seperti apa yang tercatat dalam file/daftar isian yang telah diisi di kepolisian. Juga Skep Kapolri tersebut bersifat nasional.

Polres Demak tidak pernah menolak pemohon SKCK bagi setiap orang sesuai kepentingannya termasuk Sdri yaitu sebatas untuk melengkapi persyaratan yang belum terpenuhi.

Kasat Intelkam Polres Demak

AKP Supriyadi SH


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA